Konten dari Pengguna

Di Balik Rasa Umami: Pengalaman Belajar Langsung di Ajinomoto Karawang

kayla Salsabila

kayla Salsabila

Universitas muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari kayla Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dunia kerja tidak bisa dipelajari hanya dari buku. Itulah alasan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) menjadi bagian penting dalam perkuliahan. Melalui KKL di PT Ajinomoto Indonesia Karawang Plant, kami mendapat kesempatan melihat langsung bagaimana perusahaan pangan berskala besar dijalankan, mulai dari proses produksi, pengendalian mutu, hingga budaya kerja yang disiplin.

Sekilas tentang Ajinomoto

Ajinomoto berawal dari Jepang. Pada tahun 1908, Profesor Kikunae Ikeda menemukan rasa dasar kelima yang disebut umami dari kaldu rumput laut kombu. Penemuan ini menjadi dasar berdirinya Ajinomoto pada 1909. Hingga kini, Ajinomoto dikenal sebagai perusahaan global di bidang bumbu, makanan, dan nutrisi.

Di Indonesia, Ajinomoto hadir melalui PT Ajinomoto Indonesia dengan fasilitas produksi di Mojokerto (Jawa Timur) dan Karawang (Jawa Barat). Pabrik Karawang berada di kawasan industri dan menjadi salah satu pusat produksi produk konsumen Ajinomoto yang akrab di dapur masyarakat Indonesia, seperti bumbu masak dan penyedap rasa.

Mengapa Karawang?

Karawang dikenal sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia. Lokasinya dekat dengan Jakarta dan pelabuhan, didukung infrastruktur jalan tol, serta tersedia tenaga kerja yang luas. Bagi industri pangan, lokasi ini memudahkan distribusi produk ke berbagai daerah.

Apa yang Kami Pelajari

1. Standar keamanan dan mutu pangan.

Industri pangan menuntut kehati-hatian tinggi. Di lingkungan produksi, kami melihat bagaimana kebersihan (hygiene dan sanitasi), penggunaan perlengkapan pelindung, serta prosedur kerja yang ketat diterapkan secara konsisten. Konsep seperti GMP (Good Manufacturing Practice), HACCP, dan jaminan halal menjadi bagian nyata dari operasional harian, bukan sekadar teori di kelas.

2. Alur proses produksi.

Kami mempelajari bagaimana bahan baku diterima, diperiksa, diolah, dikemas, lalu dikirim. Setiap tahap memiliki pengawasan mutu untuk memastikan produk yang sampai ke konsumen aman dan seragam kualitasnya.

3. Budaya kerja dan K3.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi prioritas. Penerapan aturan keselamatan, tanda peringatan, dan kebiasaan disiplin karyawan menunjukkan bahwa produktivitas harus berjalan beriringan dengan keselamatan manusia.

4. Perhatian pada lingkungan dan keberlanjutan.

Ajinomoto Group mengusung komitmen untuk berkontribusi pada kesehatan manusia dan kelestarian bumi. Di tingkat pabrik, hal ini tercermin dari upaya pengelolaan limbah dan efisiensi penggunaan sumber daya.

Kunjungan ini membuat kami memahami bahwa ilmu yang dipelajari di kampus, seperti manajemen produksi, pengendalian mutu, manajemen operasional, dan keamanan pangan, benar-benar diterapkan di industri. Kami juga belajar bahwa kemampuan nonteknis seperti komunikasi, kerja sama tim, dan ketelitian sama pentingnya dengan kemampuan akademik.

Penutup

KKL di PT Ajinomoto Indonesia Karawang memberi gambaran utuh tentang bagaimana industri pangan modern bekerja, yaitu dengan mengutamakan mutu, keamanan, dan tanggung jawab kepada konsumen maupun lingkungan. Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi kami sebagai mahasiswa untuk menyiapkan diri memasuki dunia kerja.

Terima kasih kepada pihak PT Ajinomoto Indonesia Karawang, dosen pembimbing, dan seluruh pihak yang telah memfasilitasi kegiatan ini.

#KKL #Ajinomoto #Karawang #IndustriPangan #Mahasiswa

Mahsiswa manajemen UMY di depan Pt Ajinomoto indonesia karawang factory.(foto.dokumentasi pribadi)