AKSARA: Ketika Mahasiswa UB Membawa Harapan ke Kaliasri Lewat Bimbel Gratis

Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya yang sedang berjuang agar segera mendapat gelar Sarjana Ilmu Politik (S.I.P) , karena UB belum menggunakan S.Hub.Int kepada sarjana Hubungan Internasional
·waktu baca 13 menit
Tulisan dari Kayla Salsabila Prasetianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Melalui KKN yang bertajuk atau bertema FBD yaitu Fisip Bakti Desa, mahasiswa Universitas Brawijaya kelompok 62 tahun 2025 mengadakan kegiatan program kerja bimbel AKSARA yakni Aksi Karakter dan Literasi Kaliasri dengan mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika, yang diadakan di Balai Desa pada pukul 15.00 sampai 16.30 sore.
Program Bimbingan Belajar Bahasa Inggris Dasar & Matematika ini merupakan kegiatan pembelajaran tambahan yang dirancang untuk membantu anak-anak usia sekolah dasar dalam memahami kosakata, kalimat sederhana, dan ekspresi dasar dalam Bahasa Inggris. Program ini menggunakan pendekatan tematik yang menyenangkan, komunikatif, dan interaktif agar siswa dapat belajar melalui pengalaman nyata, permainan, lagu, visual, dan praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Program kerja ini bertujuan untuk menanamkan kepercayaan diri dalam menggunakan Bahasa Inggris sebagai alat komunikasi dasar serta memperkenalkan struktur tata bahasa secara natural melalui konteks yang familiar bagi anak-anak dan memberikan dukungan dalam pembelajaran Matematika.
Alasan pemilihan dua mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris bukanlah tanpa alasan. Dari sekian banyak mata pelajaran yang tersedia di jenjang pendidikan dasar, Matematika dan Bahasa Inggris dipandang sebagai fondasi penting yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran jangka panjang anak-anak, terutama di tengah pesatnya perkembangan dunia digital dan globalisasi.
Matematika dipilih karena merupakan dasar dari kemampuan berpikir logis, sistematis, dan analitis yang sangat diperlukan di era digital seperti saat ini. Kemampuan berhitung, memahami pola, dan memecahkan masalah secara kuantitatif menjadi keterampilan dasar yang akan terus digunakan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, bahkan dalam konteks pekerjaan masa depan yang banyak bergeser ke arah teknologi dan data. Seperti yang disampaikan oleh National Council of Teachers of Mathematics (NCTM), “Mathematics is a gatekeeper subject that opens doors to productive futures.” Oleh karena itu, memperkuat dasar-dasar Matematika sejak dini menjadi langkah penting dalam membekali generasi muda untuk lebih adaptif dan kompetitif.
Sementara itu, Bahasa Inggris dipilih karena merupakan bahasa internasional yang telah menjadi alat komunikasi global di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, bisnis, hingga teknologi. Kemampuan berbahasa Inggris kini tak lagi menjadi keunggulan tambahan, melainkan kebutuhan dasar dalam menghadapi era masyarakat global. Dengan mengajarkan Bahasa Inggris sejak dini, siswa diharapkan memiliki pondasi yang kuat untuk dapat beradaptasi dan berkomunikasi secara efektif di masa mendatang. Sesuai dengan pandangan UNESCO, “Language is not only a tool for communication but also a key to access knowledge.” Oleh sebab itu, pembelajaran Bahasa Inggris menjadi langkah strategis dalam memperluas wawasan serta membuka akses pendidikan dan informasi yang lebih luas bagi anak-anak di desa Kaliasri.
Dengan fokus pada dua mata pelajaran ini, program Bimbel AKSARA diharapkan mampu membentuk generasi pembelajar yang tidak hanya cerdas secara kognitif tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman secara literat dan global.
Bimbel dilaksanakan setiap hari Selasa, Rabu, Jumat, dan Sabtu dan memang dikhususkan bagi siswa-siswa SDN 4 Kaliasri pada pukul 15.00-16.30 WIB.
Minggu Pertama
Pada minggu pertama, materi pembelajaran untuk mata pelajaran Matematika difokuskan pada pengenalan bilangan cacah, termasuk latihan membaca dan menulis bilangan tersebut. Setelah itu, siswa diajak untuk memahami operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan sederhana secara bertahap. Selain itu, siswa juga dikenalkan pada konsep dasar perkalian sederhana sebagai bentuk penjumlahan berulang. Untuk mendukung pemahaman yang lebih mendalam tentu saja kami menggunakan benda konkret dan berbagai aktivitas interaktif, sehingga pembelajaran berlangsung secara menyenangkan, aplikatif, dan mudah diterima oleh anak-anak.
Sementara untuk bahasa inggris, mencakup tema “Getting to Know You, Things Around Me, My Family, dan My Hobbies.” Dengan pendekatan tematik yang menyenangkan dan komunikatif, siswa diperkenalkan pada materi dasar seperti perkenalan diri, nama-nama serta fungsi benda di sekitar, struktur dan anggota keluarga, serta kegiatan sehari-hari yang disukai, dalam Bahasa Inggris.
Pembelajaran dilakukan secara aktif dan interaktif melalui lagu, permainan edukatif, dan praktik langsung berbicara, agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbiasa menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Melalui metode ini, program bimbingan belajar bertujuan untuk menumbuhkan kepercayaan diri, meningkatkan keterampilan berbahasa asing, serta menanamkan minat belajar Bahasa Inggris sejak usia dini.
Pada minggu pertama anak-anak sangat antusias, apalagi kami mengajar secara interaktif dan mengapresiasi mereka, jika mereka menjawab benar. Kami akan memberikan reward berupa snack sebagai bentuk apresiasi. Pada minggu pertama ini, kami tidak menyangka bahwa antusias para orangtua murid dan para siswa sangat besar. Kami mengajar 50 orang siswa di minggu pertama. Dan pada minggu ini menjadi minggu awal perkenalan kami kepada para siswa SDN 4 Kaliasri karena pada saat kami mengajar, mereka masih libur sekolah atau libur semester.
Kondisi tersebut justru menjadi momentum yang tepat bagi kami untuk membangun kedekatan emosional dengan para siswa. Karena masih dalam masa libur sekolah, suasana belajar pun terasa lebih santai dan cair. Anak-anak lebih mudah diajak berinteraksi dan menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap materi yang disampaikan. Selain itu, suasana balai desa yang terbuka, nyaman, dan akrab turut mendukung kenyamanan selama proses pembelajaran berlangsung. Tidak hanya dari sisi siswa, keterlibatan aktif para orang tua yang ikut mendampingi juga menjadi dorongan moral yang besar bagi kami sebagai pengajar. Mereka tidak hanya hadir mengantar anak-anak, tetapi juga memberikan semangat dan dukungan penuh terhadap kegiatan bimbel ini. Hal ini tentu menjadi modal penting bagi keberlanjutan program Bimbel daripada AKSARA kedepannya. Antusiasme yang tinggi di minggu pertama membuat kami semakin optimis untuk terus menghadirkan kegiatan belajar yang berkualitas, inklusif, dan menyenangkan bagi anak-anak Kaliasri.
Minggu Kedua
Pada minggu kedua ini, antusiasme para siswa semakin bertambah. Kami mengajar 60 orang siswa dengan materi sebagai berikut :
Untuk mata pelajaran Matematika, fokus pembelajaran ditujukan pada pengenalan pembagian sederhana yaitu bagaimana membagi suatu bilangan menjadi bagian-bagian yang sama besar. Materi ini disampaikan melalui pendekatan konkret menggunakan alat peraga, seperti potongan kertas, benda nyata, dan permainan kelompok kecil, agar siswa dapat memahami konsep pembagian secara visual dan praktis.
Setelah itu, siswa dikenalkan pada konsep nilai tempat angka dalam bilangan satuan, puluhan, dan ratusan. Melalui latihan membaca dan menuliskan angka berdasarkan posisi nilai tempatnya, anak-anak dilatih untuk berpikir sistematis dan teliti dalam memahami struktur bilangan.
Selanjutnya, kami memperkenalkan pecahan sederhana sebagai bagian dari keseluruhan, menggunakan media seperti kue gambar, buah potong, dan alat bantu visual lainnya. Materi ini bertujuan agar siswa mampu melihat hubungan antara bagian dan keseluruhan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai penutup, siswa diberikan latihan operasi hitung campuran yang menggabungkan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian dalam satu rangkaian soal. Latihan ini dimaksudkan untuk melatih kemampuan berpikir terpadu, logis, dan strategis dalam menyelesaikan masalah matematika.
Metode pengajaran kami tetap mempertahankan unsur interaktif, kolaboratif, dan menyenangkan, agar siswa tidak hanya menguasai konsep secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam konteks nyata. Penggunaan media pembelajaran yang menarik serta penghargaan atas partisipasi aktif anak-anak tetap menjadi bagian penting dari proses belajar mengajar selama minggu kedua ini.
Untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, pada minggu kedua siswa diperkenalkan dengan materi bertema “Colors, Shapes, Numbers and Time, serta Daily Activities.” Pembelajaran difokuskan pada pengenalan warna, bentuk geometri dasar, serta angka 1 hingga 100 secara bertahap dan kontekstual. Selain itu, siswa juga mempelajari hari-hari dalam seminggu, penggunaan waktu (o’clock), serta kosakata yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari, seperti bangun tidur, sarapan, bermain, hingga pergi ke sekolah.
Pendekatan yang digunakan tetap berbasis tematik dan menyenangkan. Anak-anak diajak untuk aktif berpartisipasi melalui berbagai lagu edukatif, permainan interaktif, gambar visual, dan praktik berbicara sederhana. Dalam sesi ini, siswa juga dilatih untuk mulai membuat kalimat sederhana menggunakan kosakata yang telah dipelajari.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat daya ingat visual, memperluas pemahaman tentang rutinitas harian dalam Bahasa Inggris, dan sekaligus melatih kemampuan menyusun kalimat deskriptif maupun naratif secara lisan. Melalui pembiasaan ini, diharapkan siswa menjadi lebih percaya diri dalam menggunakan Bahasa Inggris untuk mengekspresikan hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Minggu Ketiga
Memasuki minggu ketiga pelaksanaan program bimbingan belajar AKSARA, kami mengalami penurunan jumlah siswa yang hadir dibandingkan minggu sebelumnya. Beberapa faktor turut memengaruhi kondisi ini, antara lain telah dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah secara formal, meningkatnya kesibukan siswa di luar jam sekolah, serta sebagian dari mereka yang juga mengikuti bimbingan belajar di tempat lain. Namun demikian, semangat dan antusiasme dari siswa-siswa yang tetap hadir tidak surut sedikit pun. Justru dengan jumlah peserta yang lebih sedikit, kami mampu menciptakan suasana belajar yang lebih intensif, personal, dan kondusif. Setiap siswa mendapat perhatian lebih, sehingga proses belajar berlangsung lebih optimal dan penuh interaksi dua arah.
Untuk mata pelajaran Matematika, materi pada minggu ketiga difokuskan pada pengenalan berbagai jenis bangun datar seperti persegi, persegi panjang, segitiga, dan lingkaran, termasuk pemahaman mengenai sifat-sifat masing-masing bentuk. Pendekatan yang digunakan bersifat konkret dan visual seperti menggunakan alat peraga bangun datar dari karton berwarna pengukuran langsung dengan penggaris serta praktik menyusun bentuk melalui permainan puzzle geometri. Selain itu, siswa juga mulai belajar cara menghitung keliling bangun datar sederhana, dengan contoh-contoh yang dikaitkan langsung dengan benda-benda di sekitar mereka, seperti meja, buku, dan papan tulis.
Untuk pengukuran maupun perhitungan bangun datar sederhana bentuk yang diajarkan hanya persegi, persegi panjang, dan segitiga. Hal ini dikarenakan lingkaran terlalu sulit dan rumus untuk menghitung luas dan kelilingnya memang belum terlalu diajarkan secara mendalam di kelas 5 dan 6 SD. Selain itu, bimbel kami juga diikuti oleh kelas 2 sampai 4 SD. Jadinya kami menyederhanakan tema perhitungan bangun datar sederhana ini.
Materi matematika terakhir di minggu ketiga adalah satuan berat, siswa diajak untuk mengenal satuan berat dasar dalam Matematika dengan fokus pada konsep gram dan kilogram. Materi disampaikan menggunakan pendekatan visual berupa tangga satuan berat, yang memudahkan siswa dalam memahami hubungan antar satuan seperti miligram, centigram, dekagram, hingga kilogram. Visualisasi ini dibantu dengan poster berwarna cerah dan karakter animasi yang menarik, sehingga siswa lebih mudah mengingat dan memahami urutan konversi antar satuan. Untuk memperkuat pemahaman, siswa juga diberikan latihan soal konversi sederhana seperti mengubah gram ke kilogram atau miligram ke centigram. Kegiatan ini tidak hanya menstimulasi keterampilan berhitung, tetapi juga membantu siswa memahami penggunaan satuan berat dalam kehidupan sehari-hari, seperti saat menimbang bahan makanan atau membaca label kemasan.
Pada sesi Bahasa Inggris, materi difokuskan pada tema “My School, My Dreams, Food and Drinks.” Anak-anak dikenalkan dengan kosakata yang berkaitan dengan mata pelajaran, aktivitas di sekolah, serta berbagai jenis makanan dan minuman yang mereka jumpai setiap hari. Selain itu, siswa juga mulai mengekspresikan cita-cita mereka dalam Bahasa Inggris menggunakan struktur kalimat sederhana, seperti “I want to be a doctor,” atau “My dream is to be a teacher.”
Meskipun jumlah peserta sempat menurun, kualitas keterlibatan dan semangat belajar anak-anak yang hadir tetap menjadi semangat tersendiri bagi kami untuk terus memberikan pembelajaran terbaik. Pendekatan yang lebih intim dan personal ini justru membuka ruang dialog yang lebih dekat antara pengajar dan peserta didik, yang menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan program ini kedepannya.
Minggu Keempat
Pada minggu keempat ini, kegiatan bimbingan belajar AKSARA memasuki sesi pamungkas sekaligus penutupan program. Meskipun menjadi minggu terakhir, antusiasme para siswa tetap tinggi dan bahkan terasa semakin kuat. Banyak dari mereka yang menunjukkan ekspresi haru dan kesedihan karena harus berpisah dengan kakak-kakak mahasiswa yang telah mendampingi mereka selama empat minggu terakhir. Suasana emosional ini mencerminkan betapa eratnya hubungan yang telah terjalin antara peserta didik dan para pengajar, serta besarnya pengaruh positif yang dirasakan selama pelaksanaan program ini.
Pada minggu keempat ini, kami mengajarkan materi Matematika yang difokuskan pada tiga aspek utama, yaitu pengukuran panjang, penghitungan uang, dan konsep waktu.
Pertama, siswa belajar mengukur panjang menggunakan satuan meter (m) dan sentimeter (cm) dengan bantuan alat ukur sederhana seperti penggaris dan meteran. Kegiatan ini dilakukan secara praktik langsung, seperti mengukur meja, pintu, dan benda-benda di sekitar mereka agar siswa mampu menghubungkan materi dengan kehidupan nyata.
Selanjutnya, siswa dikenalkan pada nominal uang Rupiah dan cara menghitung uang dalam konteks transaksi sederhana, seperti membeli barang, menerima kembalian, atau menghitung total belanja. Simulasi mini market dan permainan jual-beli menjadi metode utama dalam menyampaikan materi ini agar siswa dapat belajar secara aplikatif dan menyenangkan.
Setelah itu, siswa diajak memahami konsep waktu, baik menggunakan jam analog maupun digital. Mereka belajar membaca jam dan memahami pembagian waktu dalam sehari, yang disampaikan melalui aktivitas menggambar jam, mewarnai, dan bermain kuis waktu.
Sebagai penutup dari keseluruhan materi Matematika, siswa mengerjakan soal cerita terpadu yang menggabungkan tiga konsep utama: pengukuran, uang, dan waktu. Soal disusun dalam konteks kehidupan sehari-hari dan disampaikan dalam bentuk permainan kelompok agar pembelajaran tetap interaktif, kontekstual, dan mudah dipahami.
Untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, tema pembelajaran pada minggu keempat adalah “Animals, Weather and Seasons, Transportation, dan Flowers.” Materi ini bertujuan untuk memperkenalkan kosakata Bahasa Inggris yang berkaitan dengan alam dan lingkungan sekitar, serta memperluas kemampuan anak dalam mendeskripsikan hal-hal di sekeliling mereka.
Minggu keempat menjadi penutup yang berkesan dan menyenangkan. Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi singkat bersama anak-anak, pembagian hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi, serta dokumentasi kenangan bersama. Melalui program ini, kami percaya bahwa benih semangat belajar, keberanian berbicara, dan rasa percaya diri telah mulai tumbuh di hati anak-anak Kaliasri.
Harapan dan testimoni orang tua murid, siswa, dan guru
Sebagai penutup dari rangkaian kegiatan program Bimbingan Belajar AKSARA, beragam apresiasi dan kesan mendalam datang dari para masyarakat, mulai dari guru, wali murid, hingga siswa yang mengikuti kegiatan ini. Testimoni ini mencerminkan dampak nyata dari program terhadap perkembangan kognitif, karakter, dan minat belajar anak-anak, sekaligus menjadi cerminan keberhasilan pendekatan yang diterapkan oleh mahasiswa KKN Kelompok 62 Universitas Brawijaya.
1. Testimoni dari Guru – Wali Kelas SDN 4 Kaliasri
“Saya merasa sangat bersyukur atas terselenggaranya kegiatan Bimbel AKSARA yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Kelompok 62 Universitas Brawijaya. Kegiatan ini memberikan dampak positif yang nyata bagi anak-anak, khususnya dalam pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika.
Materi yang mereka pelajari selama mengikuti bimbingan belajar tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga dapat langsung diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Hal ini sangat membantu siswa dalam memperkuat pemahaman dasar yang sebelumnya telah diajarkan di sekolah.
Selama proses bimbingan, mulai terlihat antusiasme dan semangat belajar yang tumbuh di kalangan siswa. Mereka kini lebih berani mencoba menyelesaikan soal-soal yang sebelumnya mereka anggap sulit, bahkan sering membahas kembali materi yang telah diajarkan selama bimbel berlangsung.
Pendekatan belajar yang menyenangkan dan interaktif membuat anak-anak merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar tanpa merasa terbebani.”
— Abel Naftalia, Wali Kelas 3 SDN 4 Kaliasri
2. Testimoni dari Orang Tua – Ketua PKK Desa Kaliasri
“Menurut saya, program bimbel yang diadakan oleh mahasiswa KKN ini adalah kegiatan yang sangat positif. Tidak hanya menambah wawasan dan pengetahuan anak-anak di luar jam sekolah, tetapi juga membawa suasana belajar yang berbeda.
Metode pengajaran yang variatif dan inovatif membuat anak-anak merasa senang dan nyaman selama mengikuti kegiatan. Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga menikmati prosesnya.
Saya berharap program seperti ini bisa terus dikembangkan kedepannya, karena mampu meningkatkan kepercayaan diri anak-anak dan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan bersama kakak-kakak mahasiswa.
Terima kasih atas kontribusi luar biasa dari mahasiswa Universitas Brawijaya untuk Desa Kaliasri.”
— Heni Widiastuti Bangga, Ketua PKK dan Wali Murid SDN 4 Kaliasri
3. Testimoni dari Siswa – Kelas 5 SDN 4 Kaliasri
“Halo kak! Menurut Ayra, bimbelnya sangat membantu dan seru banget! Bisa menambah pengetahuan, apalagi pas belajar Bahasa Inggris dan Matematika jadi lebih mudah dimengerti.
Kakak-kakaknya juga baik, sabar, dan ngajarnya asik banget. Ayra jadi semangat buat belajar dan ngerasa makin percaya diri kalau disuruh jawab soal di sekolah. Semangat terus ya kak buat kedepannya, semoga bisa lebih bermanfaat lagi untuk anak-anak lain kayak Ayra!”
— Ayra, Siswa Kelas 5 SDN 4 Kaliasri
Testimoni yang muncul dari berbagai pihak menunjukkan bahwa program Bimbel AKSARA bukan sekadar kegiatan belajar tambahan, tetapi telah menjadi ruang tumbuh yang membangun kedekatan emosional, meningkatkan semangat belajar, dan menanamkan kepercayaan diri anak-anak Kaliasri. Harapan besar datang dari para guru dan orang tua agar program serupa dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak siswa.
Program kerja ini menjadi bukti konkret bahwa kontribusi mahasiswa dalam kegiatan KKN tidak hanya bersifat simbolis, tetapi mampu membawa perubahan nyata di tingkat komunitas lokal,khususnya dalam bidang pendidikan dasar yang inklusif, adaptif, dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
