Perbankan Syariah Kian Diminati Milenial, Ini Alasannya
Tulisan dari kayla maliqa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perbankan syariah kini menjadi pilihan baru bagi milenial Indonesia dalam mengelola keuangan mereka. Jika dulu rekening bank konvensional menjadi pilihan utama tanpa banyak pertanyaan, kini semakin banyak anak muda yang justru memilih membuka rekening di bank syariah bukan sekadar karena dorongan agama, tetapi karena pertimbangan yang jauh lebih matang dari itu.
Data berbicara cukup keras. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa literasi keuangan syariah Indonesia telah menembus angka 50,3 persen pada akhir 2024, sebuah capaian tertinggi sejak data perbankan syariah dipisahkan dari perbankan konvensional. Lebih menarik lagi, Bank Syariah Indonesia (BSI) melaporkan bahwa lebih dari 60 persen pembukaan rekening baru pada 2024 hingga 2025 berasal dari kelompok usia 18 hingga 35 tahun. Ini bukan tren biasa ini pergeseran cara berpikir satu generasi.
Lantas, apa yang sebenarnya mendorong milenial ramai-ramai melirik perbankan syariah?
Alasan pertama mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya besar yaitu transparansi. Generasi milenial tumbuh di era informasi yang terbuka. Mereka terbiasa membandingkan, memverifikasi, dan mempertanyakan. Sistem bagi hasil yang diterapkan perbankan syariah dinilai lebih jujur ketimbang bunga bank konvensional yang besarannya bisa berubah-ubah mengikuti kebijakan moneter. Dengan akad yang jelas sejak awal, nasabah tahu persis di mana uangnya diputar dan berapa porsi keuntungan yang akan mereka terima. Tidak ada kejutan di tagihan akhir bulan.
Faktor kedua adalah gaya hidup halal yang kian menguat di kalangan anak muda. Tren ini bukan hanya soal makanan bersertifikat halal atau kosmetik bebas babi ia merambah ke ranah keuangan. Milenial yang sudah sadar memilih produk halal dalam kesehariannya secara alami mulai mempertanyakan ke mana uang mereka pergi ketika disimpan di bank konvensional. Apakah dananya ikut membiayai bisnis yang bertentangan dengan nilai mereka? Perbankan syariah memberikan jawaban yang menenangkan yaitu pembiayaan hanya diberikan pada sektor-sektor yang sesuai prinsip Islam, bebas dari riba, spekulasi berlebihan, dan proyek yang merugikan masyarakat.
Ketiga dan ini yang sering diremehkan adalah kemudahan digital. Dulu, bank syariah kerap dianggap ketinggalan zaman karena adanya antrean panjang, aplikasi yang lambat, fitur terbatas. Persepsi itu perlahan runtuh. BSI, misalnya, meluncurkan aplikasi BYOND yang dalam satu tahun pertama mencatatkan lonjakan pengguna hingga 197 persen secara tahunan. Total transaksi lewat aplikasi ini pun menembus 730 juta transaksi dengan nilai Rp820 triliun hingga akhir 2025. Angka yang sulit dibantah. Milenial tidak perlu lagi merasa harus berkorban kenyamanan demi keyakinan keduanya kini bisa berjalan beriringan di satu layar ponsel.
Yang membuat fenomena ini semakin menarik adalah motivasinya yang tidak melulu soal keimanan. Survei Populix pada Maret 2024 menunjukkan bahwa 72 persen milenial muslim Indonesia merasa lebih tenang menggunakan produk syariah tetapi ketenangan ini bukan hanya soal pahala dan dosa. Ini juga soal kepastian, keadilan, dan rasa memiliki kontrol atas keuangan sendiri. Nilai-nilai itu universal, dan kebetulan perbankan syariah memang dibangun di atasnya.
Tentu tidak semua berjalan mulus. Tantangan masih ada. Jaringan ATM yang belum seluas bank konvensional di beberapa daerah menjadi keluhan klasik. Literasi yang belum merata juga membuat sebagian calon nasabah masih bingung membedakan akad mudharabah dengan murabahah. Namun justru di sini milenial berperan penting mereka yang sudah paham mulai menyebarkan pengetahuan ini lewat konten di Instagram, TikTok, dan YouTube, menjadikan edukasi keuangan syariah jauh lebih mudah dikonsumsi oleh teman-teman sebayanya.
Satu hal lagi yang patut dicatat adalah soal dampak sosial. Perbankan syariah tidak hanya bicara soal keuntungan pribadi. Banyak bank syariah kini mengintegrasikan fitur zakat, infak, dan wakaf langsung di dalam aplikasi mobile mereka. Bagi milenial yang menaruh perhatian pada isu sosial dan keberlanjutan dua nilai yang sangat identik dengan generasi ini fitur semacam itu bukan sekadar pelengkap, melainkan daya tarik tersendiri. Menabung sekaligus berkontribusi untuk masyarakat adalah kombinasi yang sulit ditolak.
Pergeseran ini bukan sekadar lonjakan angka di laporan tahunan OJK. Ini cermin dari generasi yang mulai serius menyejajarkan nilai hidup dengan pilihan finansialnya. Milenial tidak beralih ke perbankan syariah karena dipaksa atau ikut-ikutan mereka beralih karena mereka pikir itu pilihan yang masuk akal. Dan ketika logika, kenyamanan digital, kepedulian sosial, dan keyakinan bertemu di satu titik yang sama, tidak banyak alasan tersisa untuk bertahan di jalan lama.

