Konten dari Pengguna

Generasi Aktif di Media Sosial, tetapi Gugup Saat Berbicara di Dunia Nyata

Fendi Husaini

Fendi Husaini

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fendi Husaini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Public Speaking (Gambar dibuat dengan AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Public Speaking (Gambar dibuat dengan AI)

Di layar ponsel, mereka tampak percaya diri. Komentar mengalir deras, unggahan diperbarui setiap hari, dan opini dilontarkan tanpa ragu. Namun, ketika diminta memperkenalkan diri di depan kelas, bertanya dalam rapat, atau sekadar membuka obrolan dengan orang baru, banyak anak muda mendadak kaku. Suara mengecil, telapak tangan berkeringat, dan kalimat yang tadinya lancar di kolom komentar hilang entah ke mana. Ironi ini kian sering kita jumpai: generasi yang paling terhubung justru kerap merasa paling canggung ketika harus hadir sepenuhnya di hadapan orang lain.

Tidak bisa disangkal, ruang digital sudah menjadi rumah kedua bagi generasi muda Indonesia. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat pengguna internet di tanah air mencapai sekitar 229 juta jiwa pada 2025, dan tingkat penetrasi di kalangan Gen Z menyentuh 87,8 persen. Artinya, hampir sembilan dari sepuluh anak muda sudah terhubung. Soal waktu, angkanya tidak kalah mencolok. Laporan Digital 2026 menyebut warga Indonesia rata-rata menghabiskan 3 jam 7 menit per hari di media sosial, lebih lama daripada rata-rata global yang 2 jam 39 menit. Sementara itu, sebuah survei Diginex menemukan 31 persen Gen Z mengaku bermedia sosial 4–6 jam sehari. Bila jam-jam sebanyak itu dihabiskan di layar, wajar jika porsi untuk berlatih bercakap-cakap langsung menyusut.

Data APJII: Pengguna Internet di Indonesia Tembus 229,43 Juta Orang pada 2025

+3

Persoalannya terletak pada perbedaan mendasar antara dua jenis komunikasi tersebut. Di media sosial, kita memegang kendali penuh. Kalimat bisa ditulis, dihapus, dan ditulis ulang sebelum tombol kirim ditekan. Kita bebas memilih kapan membalas, memoles foto, memotong video, bahkan menunda jawaban sampai merasa siap. Percakapan tatap muka tidak menawarkan kemewahan itu. Kita harus merespons seketika, membaca ekspresi wajah, menyesuaikan nada suara, dan menerima kenyataan bahwa kata yang sudah terucap tidak bisa ditarik kembali. Tidak ada fitur suntingan dalam obrolan langsung.

Karena itu, keterampilan berbicara ibarat otot: ia menguat jika dilatih dan melemah jika dibiarkan. Generasi sebelumnya terbiasa mengasah otot itu secara alami, mulai dari menawar di pasar, bertanya arah kepada orang asing, sampai berdebat di teras rumah. Generasi hari ini bisa menyelesaikan hampir semua urusan lewat layar, dari memesan makanan, membeli barang, hingga mengurus pertemanan. Kemudahan itu nyaman, tetapi diam-diam mengurangi kesempatan berlatih menghadapi ketidakpastian percakapan langsung.

Ada pula tekanan citra yang ikut bermain. Media sosial mengajarkan bahwa segala yang kita tampilkan akan dinilai, dihitung, dan dibandingkan. Jumlah suka dan pengikut perlahan berubah menjadi tolok ukur harga diri. Tanpa sadar, standar itu terbawa ke dunia nyata. Anak muda takut salah ucap, takut dianggap membosankan, dan takut menjadi bahan tertawaan. Padahal, percakapan sehari-hari justru dipenuhi kekeliruan kecil yang wajar: kalimat tersendat, kata yang salah pilih, atau jeda yang terasa panjang. Mereka yang terlalu terbiasa dengan versi diri yang sudah dipoles akan merasa tidak nyaman ketika harus tampil apa adanya.

Meski begitu, menyalahkan media sosial sepenuhnya jelas tidak adil. Platform digital juga membuka pintu bagi mereka yang pemalu untuk bersuara, menemukan komunitas sehobi, dan membangun jejaring yang dulu sulit dijangkau. Banyak orang yang awalnya takut berbicara justru mendapat keberanian pertama kali dari ruang daring yang terasa lebih aman. Masalahnya bukan pada teknologi, melainkan pada ketimpangan: ruang digital terlalu dominan, sementara ruang latihan di dunia nyata semakin sempit. Aktif secara daring tidak otomatis berarti cakap berkomunikasi secara langsung.

Dampaknya pun tidak bisa dianggap remeh. Di dunia kerja, kemampuan wawancara, presentasi, negosiasi, dan kerja tim masih menjadi penentu penting. Perusahaan mencari orang yang mampu menyampaikan gagasan dengan jelas, mendengarkan dengan baik, dan menangani perbedaan pendapat dengan kepala dingin. Kecakapan semacam itu sulit digantikan oleh unggahan yang memikat. Dalam kehidupan pribadi pun, hubungan yang bermakna tumbuh dari percakapan yang benar-benar hadir, bukan dari balasan cepat sambil menggulir layar. Kita bisa memiliki ratusan pengikut, tetapi tetap merasa kesulitan ketika harus bercerita kepada satu orang sahabat.

Lalu, apa yang perlu dilakukan? Pertama, sekolah dan kampus harus menghadirkan lebih banyak ruang berlatih berbicara. Diskusi kelas, debat, presentasi, dan kegiatan organisasi semestinya dipandang sebagai bagian inti pembelajaran, bukan pelengkap. Yang tidak kalah penting, pendidik perlu menciptakan suasana yang aman untuk salah. Rasa takut gagal sering kali lebih menghambat daripada kekurangan kemampuan itu sendiri.

Kedua, keluarga memegang peran yang besar. Makan bersama tanpa gawai, mengajak anak bercerita tentang harinya, dan memberi mereka tugas kecil seperti memesan makanan atau bertanya kepada petugas adalah latihan sederhana yang dampaknya terasa jangka panjang. Orang tua pun perlu menjadi teladan, dengan menunjukkan bahwa percakapan langsung layak mendapat perhatian penuh.

Ketiga, generasi muda sendiri perlu berani melangkah keluar dari zona nyaman. Mulailah dari hal kecil: menyapa lebih dulu, mengajukan satu pertanyaan dalam diskusi, atau bergabung dengan komunitas yang rutin bertemu secara langsung. Rasa gugup tidak perlu dihilangkan sepenuhnya, cukup dikelola. Hampir semua pembicara yang andal pernah merasakannya, dan mereka menjadi mahir bukan karena tidak takut, melainkan karena terus mencoba.

Keempat, platform dan kita sebagai pengguna bisa ikut berperan dengan membangun kebiasaan yang lebih sehat. Menetapkan batas waktu layar, menyisihkan jam tanpa ponsel, dan memprioritaskan pertemuan langsung dengan teman adalah langkah yang tampak sepele tetapi menyisakan ruang bagi interaksi nyata.

Pada akhirnya, kita tidak sedang diminta memilih antara dunia maya dan dunia nyata. Keduanya sama-sama bagian dari kehidupan generasi hari ini. Tantangannya adalah menyeimbangkan keduanya, agar keberanian yang tampak di layar juga hadir ketika berhadapan dengan manusia sungguhan. Suara yang lantang di media sosial akan jauh lebih bermakna jika sama kuatnya saat diucapkan langsung, dengan mata bertemu mata.