Konten dari Pengguna

Bakteri Rhizobium: Mikroba Penting untuk Kesuburan Tanah

Kaila Neviska

Kaila Neviska

Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Al-Azhar Indonesia

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kaila Neviska tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mikroba Foto: Pixabay/mmmccc
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mikroba Foto: Pixabay/mmmccc

Mengapa Rhizobium Penting untuk kesuburan tanah dan Pertanian Berkelanjutan? Bagaimana Rhizobium Menggantikan Pupuk Kimia?

Tanah yang subur merupakan fondasi utama bagi pertanian berkelanjutan. Namun, ketergantungan pada pupuk kimia sintetis dalam jangka panjang justru dapat merusak ekosistem alami tanah dan mencemari lingkungan. Di sinilah peran mikroba tanah, khususnya bakteri Rhizobium, menjadi krusial. Bakteri ini dikenal sebagai salah satu agen hayati terpenting yang mampu meningkatkan kesuburan tanah secara alami melalui proses fiksasi nitrogen (Masson-Boivin & Sachs, 2018).

Rhizobium termasuk dalam kelompok rhizobacteria pemfiksasi nitrogen (PGPR) yang membentuk nodul pada akar tanaman legum, seperti kedelai, kacang tanah, dan alfalfa . Melalui simbiosis ini, bakteri mengkonversi nitrogen atmosfer (N₂) menjadi amonia (NH₃), bentuk yang dapat langsung dimanfaatkan tanaman (Masson-Boivin & Sachs, 2018). Studi terbaru menunjukkan bahwa inokulasi Rhizobium dapat meningkatkan produktivitas tanaman hingga 30% sekaligus mengurangi penggunaan pupuk kimia (Mwangi et al., 2021).

Ilustrasi 3D bakteri Foto: Shutter Stock

Bakteri Rhizobium menjalin hubungan simbiosis mutualistik dengan tanaman legum (kacang-kacangan) melalui pembentukan nodul akar, struktur khusus tempat fiksasi nitrogen terjadi (Masson-Boivin & Sachs, 2018). Proses ini diawali dengan pertukaran sinyal kimia antara bakteri dan akar tanaman: tanaman mengeluarkan flavonoid yang memicu ekspresi gen nod pada Rhizobium, sedangkan bakteri merespons dengan menghasilkan faktor Nod (Nodulation factors) untuk memulai pembentukan nodul (Oldroyd et al., 2011).

Di dalam nodul, Rhizobium mengkonversi nitrogen atmosfer (N₂) menjadi amonia (NH₃) menggunakan enzim nitrogenase. Amonia kemudian diubah menjadi senyawa organik seperti glutamin, yang dapat diserap tanaman. Kemampuan ini mengurangi ketergantungan pada pupuk nitrogen sintetis yang berpotensi mencemari lingkungan

Selain menyediakan nitrogen, asosiasi Rhizobium-legum memberikan manfaat tambahan:

  1. Perbaikan struktur tanah: Akar tanaman legum yang bersimbiosis dengan Rhizobium meningkatkan kandungan bahan organik dan agregasi tanah.

  2. Pengurangan emisi gas rumah kaca: Fiksasi nitrogen biologis menghasilkan lebih sedikit emisi N₂O dibandingkan pupuk urea.

  3. Peningkatan biodiversitas mikroba tanah: Eksudat akar dari tanaman yang diinokulasi Rhizobium mendukung pertumbuhan mikroba menguntungkan lain seperti Pseudomonas dan Mycorrhiza.

Bakteri Rhizobium telah membuktikan perannya sebagai agen hayati yang tidak hanya meningkatkan kesuburan tanah melalui fiksasi nitrogen alami, tetapi juga mengurangi dampak negatif pupuk kimia terhadap lingkungan. Simbiosisnya dengan tanaman legum menjadi contoh sempurna bagaimana alam menyediakan solusi cerdas untuk tantangan pertanian modern.

Dengan memanfaatkan kekuatan mikroba seperti Rhizobium, kita tidak hanya menjaga kesuburan tanah hari ini, tetapi juga menjamin warisan pertanian berkelanjutan untuk generasi mendatang. Langkah kecil beralih ke biofertilizer adalah lompatan besar bagi ekosistem bumi.

REFERENSI

Masson-Boivin, C., & Sachs, J. L. (2018). "Symbiotic nitrogen fixation by rhizobia the roots of a success story." Current Opinion in Plant Biology, 44, 7–15.

Mwangi, M. W., Mucheru-Muna, M. W., Mugwe, J. N., & Pepela, M. (2021). Efficiency of Rhizobium inoculation in enhancing soybean yield and nitrogen fixation. Frontiers in Agronomy, 3, 676234.

Oldroyd, G. E., Murray, J. D., Poole, P. S., & Downie, J. A. (2011). The rules of engagement in the legume-rhizobial symbiosis. Annual Review of Genetics, 45, 119-144.