News
·
15 September 2021 20:04
·
waktu baca 3 menit

Peluncuran Policy Briefs Dealing with Greater Jakarta Floods

Konten ini diproduksi oleh KBRI Den Haag
Peluncuran Policy Briefs Dealing with Greater Jakarta Floods (7898)
searchPerbesar
Berangkat dari keprihatinan atas banjir besar di wilayah Jakarta, KBRI Den Haag bekerja sama dengan sekelompok peneliti dan profesional multidisiplin mengadakan peluncuran policy brief ‘Dealing with Greater Jakarta Floods in Times of Climate Change’ secara daring pada Jumat, 10 September 2021.
ADVERTISEMENT
Peluncuran policy brief ini merupakan tindak lanjut dari focus group discussion (FGD) atas tema yang sama pada akhir Februari tahun 2020 lalu. Dalam kurun waktu lebih dari setahun tersebut, telah dibuat serangkaian policy briefs yang relevan, berbasis pengetahuan terkini tentang banjir di wilayah Jakarta dalam konteks perubahan iklim.
Peluncuran Policy Briefs Dealing with Greater Jakarta Floods (7899)
searchPerbesar
Policy briefs tersebut memberikan wawasan yang dapat digunakan oleh pembuat kebijakan dan pengambil keputusan di sektor terkait, mendorong pembentukan platform multi-stakeholder dalam konteks kerja sama bilateral antara Belanda dan Indonesia dan mendorong debat publik tentang topik penting ini, terutama di Indonesia dan Belanda.
Selama setahun 40 peneliti dan professionals mewakili 30 institusi dari Belanda dan Indonesia telah membuat 6 (enam) policy briefs yang saling berkaitan. Policy briefs tersebut adalah publikasi dari TYK research and action consulting - The Netherlands, Copernicus Institute of Sustainable Development, Utrecht University – The Netherlands, Taskforce Liveable Cities IDN-NL, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
ADVERTISEMENT
Acara peluncuran pada 10 September 2021 dibuka oleh Yanti Kusumanto, MSc dari TYK research and action consulting atas nama para penggagas.
Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Mayerfas, menekankan dalam keynote speech-nya bahwa policy briefs ini dibuat tepat waktu, karena konsekuensi dari perubahan iklim terlihat di seluruh dunia. Tidak terkecuali Indonesia, yang sebagai negara kepulauan lebih rentan terhadap naiknya permukaan air laut dan meningkatnya frekuensi bencana alam. Indonesia dan Belanda memiliki tradisi kerja sama yang panjang. Keahlian Belanda di bidang pengelolaan air, membuat Belanda partner yang penting dalam menanggulangi banjir, khususnya di wilayah Jakarta.
Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Lambert Grijns memberikan contoh kontribusi Belanda baru-baru ini untuk pengelolaan banjir di Jakarta, seperti National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) dan proyek pengelolaan banjir yang sukses seperti Building with Nature di Demak, Indonesia dan Room for the River di Belanda.
ADVERTISEMENT
Mantan Menteri Lingkungan Hidup (1993-1998) Sarwono Kusumaatmadja menyatakan bahwa komunikasi yang efektif dan keterlibatan semua pemangku kepentingan sangat penting. Dalam mengatasi akibat bencana iklim yang makin parah membutuhkan penanganan tanggap darurat yang baik. Di sinilah diharapkan para ilmuwan dan peneliti memainkan peran penting. Perwakilan dari penulis 6 (enam) policy briefs memberikan paparan dan rekomendasi strategi penanganan banjir utk wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Presentasi dilanjutkan dengan diskusi interaktif dengan kurang lebih 160 peserta yang dimoderatori oleh Dr. Annisa Triyanti dari Copernicus Institute of Sustainable Development, Utrecht University mewakili para inisiator. Kesimpulan utama dari diskusi adalah:1) dibutuhkan integrasi yang lebih baik dari langkah-langkah mitigasi dan adaptasi yang harus dilaksanakan secara bersamaan dalam kerjasama yang baik. 2) Perbaikan di semua sektor dan berbagai tingkatan (pemerintah, swasta, akademik) sangat penting dalam hal ini. 3) Serta pentingnya mengatasi berbagai masalah dengan cara yang efektif, mengambil langkah-langkah kontekstual dan fokus pada transformasi.
ADVERTISEMENT
Webinar berakhir dengan video dari peluncuran policy briefs dimoderatori oleh Wiwi Tjiook, MSc dari Taskforce Liveable Cities, IDN-NL atas nama penggagas. Kegiatan ditutup oleh Profesor Tri Nuke Pudjiastuti, Deputi Ilmu Sosial dan Humaniora Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2015-2021/Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia (BRIN).
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020