Konten dari Pengguna

Naga Digital: Bagaimana China Menjadi Raksasa Teknologi Dunia

Muhammad Keanu Alfaridzy

Muhammad Keanu Alfaridzy

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Keanu Alfaridzy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bendera China. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bendera China. Foto: Shutterstock

Bayangkan sebuah negara yang dua dekade lalu lebih dikenal sebagai pabrik murah dunia, kini tiba-tiba meluncurkan model kecerdasan buatan yang membuat saham perusahaan teknologi Amerika anjlok dalam semalam.

Itulah yang terjadi pada Januari 2025, ketika sebuah startup AI asal China bernama DeepSeek merilis model bernama R1 dan langsung menggeser ChatGPT sebagai aplikasi paling banyak diunduh di App Store Amerika Serikat. Dunia pun tersentak.

Peristiwa itu bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari strategi panjang yang sudah dirancang China sejak bertahun-tahun lalu. Dan hari ini, pertumbuhan teknologi China bukan lagi sekadar cerita tentang satu perusahaan atau satu produk, melainkan juga sebuah transformasi besar-besaran yang menyentuh hampir setiap sudut kehidupan modern.

Dari 'Made in China' ke 'Invented in China'

Selama puluhan tahun, label "Made in China" identik dengan produk murah dan massal. Namun pada 2015, pemerintah China meluncurkan program ambisius bernama Made in China 2025, sebuah cetak biru nasional yang bertujuan mengubah China dari sekadar pabrik dunia menjadi pemimpin teknologi tinggi global. Target utamanya mencakup sepuluh sektor strategis: kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, kendaraan listrik, telekomunikasi, hingga manufaktur canggih.

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Hasilnya? Tidak sempurna, tetapi sangat mengesankan. Hari ini, China menguasai lebih dari 75% produksi baterai lithium-ion global, hampir 80% modul panel surya dunia, dan menjadi pemimpin pasar kendaraan listrik. Di bidang kereta cepat, China telah membangun jaringan terpanjang di dunia. Di drone sipil, nama DJI sudah menjadi sinonim dari produk kelas dunia.

DeepSeek dan Kejutan AI yang Mengubah Segalanya

Kemunculan DeepSeek pada Januari 2025 menjadi titik balik yang tak terduga. Model AI mereka, R1, dikembangkan dengan biaya yang sangat kecil dibanding model-model Amerika—dilaporkan hanya sekitar 6 juta dolar AS untuk pelatihan awal, tetapi mampu menandingi performa model terbaik dari OpenAI dan Google. Ini bukan propaganda; para peneliti Barat pun mengonfirmasi bahwa inovasi teknis DeepSeek adalah nyata.

Yang lebih mengejutkan, DeepSeek melakukan ini bukan dengan cip terbaik. Mereka justru berinovasi pada algoritma dan arsitektur sistem AI-nya. Artinya, China membuktikan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu bergantung pada sumber daya terbesar, tetapi pada kecerdasan dalam merancang solusi. Dampaknya langsung terasa: saham Nvidia anjlok hampir 17% dalam satu hari perdagangan.

Kini, setahun lebih setelah peluncuran R1, ekosistem AI China makin deras. Huawei melaporkan pendapatan cip AI yang diperkirakan mencapai 12 miliar dolar pada 2026 naik 60% dari tahun sebelumnya. Alibaba, ByteDance, dan Tencent, semuanya berlomba-lomba mengadopsi teknologi AI terbaru. China sedang membangun ekosistem teknologinya sendiri, secara mandiri.

Kendaraan Listrik: Perang di Jalan Raya Global

Ilustrasi kendaraan listrik. Foto: Mayy Contributor/Shutterstock

Jika AI adalah pertarungan di dunia maya, kendaraan listrik adalah pertarungan di jalan raya nyata. BYD—perusahaan mobil listrik asal China—kini telah melampaui Tesla sebagai produsen kendaraan listrik terlaris di dunia. Harganya kompetitif, teknologinya mumpuni, dan jangkauan pasarnya semakin luas ke Asia Tenggara, Amerika Latin, hingga Eropa.

China adalah pasar kendaraan listrik terbesar di dunia. Dari sekitar 13 juta kendaraan berenergi baru yang beroperasi beberapa tahun lalu, porsi EV murni mendominasi hampir 80 persen. Ini bukan hanya bisnis—ini juga strategi geopolitik. Dengan menguasai rantai pasok baterai dan mineral kritis seperti lithium dan kobalt, China memposisikan diri sebagai pemegang kendali dalam transisi energi global.

Titik Lemah yang Masih Ada

Gambaran di atas bukan berarti China tidak memiliki kelemahan. Di balik kemajuan yang mengesankan, ada satu lubang besar yang belum bisa ditambal: cip semikonduktor generasi terbaru. Amerika Serikat telah memberlakukan pembatasan ekspor ketat terhadap cip canggih buatan Nvidia ke China, dan hingga kini, China belum mampu memproduksi sendiri cip dengan kemampuan setara secara massal.

Selain itu, kemajuan di bidang biofarmasi, software sistem operasi, dan pesawat terbang generasi lanjut masih jauh dari target. Ada juga pertanyaan besar soal kebebasan inovasi di bawah kontrol ketat pemerintah: Apakah kreativitas bisa tumbuh subur di lingkungan yang serba diawasi?

Apa Artinya Bagi Kita?

Ilustrasi bendera China dan Indonesia. Foto: Dok. ChatGPT

Bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, pertumbuhan teknologi China membawa peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, teknologi China dari panel surya yang murah hingga infrastruktur digital bisa mempercepat pembangunan. Di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada satu negara untuk teknologi strategis selalu menyimpan risiko geopolitik.

Persaingan AS-China di bidang teknologi juga memaksa banyak negara untuk memilih pihak sesuatu yang tidak mudah di era diplomasi yang makin kompleks. Ketika teknologi menjadi alat kekuasaan, keputusan tentang platform mana yang digunakan, cip mana yang dibeli, atau sistem AI mana yang diadopsi, bukan lagi sekadar keputusan bisnis, melainkan juga keputusan geopolitik.

China bukan lagi hanya "pabrik dunia". Ia sedang bertransformasi menjadi laboratorium inovasi global yang ambisius, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Namun satu hal yang pasti: kebangkitan teknologi China sudah terlalu besar untuk diabaikan. Baik Anda seorang investor, pembuat kebijakan, mahasiswa, atau sekadar pengguna smartphone, cara kerja dunia hari ini, dan masa depannya, tidak bisa dilepaskan dari peran China di dalamnya.