Setahun Berlalu, Belum Banyak yang Berubah: Kondisi Rakyat China Hari Ini

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Keanu Alfaridzy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Secara resmi, China mengakhiri 2025 dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen. Angka itu cukup untuk memenuhi target pemerintah, dan cukup juga untuk membuat banyak negara lain iri. Namun, ada pertanyaan yang lebih penting dari sekadar angka pertumbuhan: Bagaimana kondisi rakyat China yang sesungguhnya hari ini, dibanding setahun lalu?
Jawabannya tidak sesederhana grafik yang menanjak. Di balik data makroekonomi yang relatif stabil, ada jutaan orang yang masih bergumul dengan pengangguran, harga properti yang belum pulih, dan keyakinan terhadap masa depan yang belum sepenuhnya kembali.
Lapangan Kerja: Masalah yang Belum Selesai
Salah satu isu paling mencolok dalam setahun terakhir adalah pengangguran di kalangan anak muda. Pada awal 2025, tingkat pengangguran pemuda usia 16 hingga 24 tahun di perkotaan masih berada di angka 16,9 persen pada Februari. Angka itu memang lebih rendah dari puncaknya di 2023 yang sempat menyentuh 21,3 persen, tetapi tetap jauh lebih tinggi dibanding kondisi sebelum pandemi, yaitu ketika angkanya berkisar di 10 persen.
Yang membuat situasi ini lebih berat adalah skala persaingan yang dihadapi lulusan baru. Tahun 2025 menjadi tahun kelulusan terbesar dalam sejarah China: lebih dari 12,2 juta orang masuk ke pasar kerja sekaligus. Sementara itu, lapangan pekerjaan tidak tumbuh dengan cepat yang sebanding. Sebuah perusahaan negara besar, CNNC, membuka lowongan untuk sekitar 1.730 posisi strategis dan menerima lebih dari 1,2 juta lamaran. Perbandingan itu mengatakan banyak hal tentang betapa sengitnya persaingan.
Per Maret 2026, angka pengangguran pemuda kembali naik ke 16,9 persen, setelah sempat sedikit turun beberapa bulan sebelumnya. Artinya dalam setahun terakhir, kondisi ketenagakerjaan anak muda China pada dasarnya stagnan. Tidak memburuk secara drastis, tetapi juga tidak membaik secara berarti.
Imbasnya terasa ke mana-mana. Semakin banyak lulusan sarjana dan bahkan pascasarjana yang akhirnya bekerja sebagai pengantar makanan atau pekerja gig economy. Lebih dari 20 persen pengemudi di platform pesan antar terbesar di China kini memiliki gelar sarjana. Situasi ini bukan semata soal ekonomi, melainkan juga soal harapan generasi yang merasa usahanya tidak sebanding dengan hasilnya.
Ekonomi Tumbuh, tapi Siapa yang Merasakannya?
Pertumbuhan GDP China yang resmi mungkin terlihat solid. Namun jika kita lihat lebih dalam, pertumbuhan itu sebagian besar didorong oleh ekspor dan investasi infrastruktur, bukan oleh konsumsi rumah tangga yang kuat. Ini adalah perbedaan yang penting.
Ketika pertumbuhan ekonomi bertumpu pada konsumsi rakyat, artinya masyarakat luas merasakan manfaatnya secara langsung lewat daya beli dan pengeluaran. Namun ketika pertumbuhan lebih banyak berasal dari ekspor atau belanja pemerintah, rakyat biasa tidak selalu ikut merasakan hasilnya. Itulah yang terjadi di China setahun belakangan ini. IMF sendiri mencatat bahwa permintaan domestik China masih lemah secara konsisten, dan kepercayaan konsumen belum pulih sepenuhnya.
Data retail sales di penghujung 2025 menunjukkan pertumbuhan yang sangat tipis, bahkan di beberapa periode menunjukkan penurunan secara berurutan. Artinya, rakyat China memilih untuk menahan pengeluaran. Ini bukan tanda-tanda masyarakat yang merasa aman secara finansial.
Krisis Properti yang Belum Pulih
Bagi kebanyakan keluarga China, rumah bukan hanya tempat tinggal. Selama puluhan tahun, properti adalah instrumen tabungan dan investasi utama. Ketika pasar properti ambruk, dampaknya bukan sekadar ekonomi, melainkan juga psikologis.
Krisis properti China yang dimulai sejak 2021 belum benar-benar usai. Penjualan rumah baru sepanjang 2024 turun lebih dari 14 persen dibanding tahun sebelumnya. Harga properti di banyak kota, terutama kota kelas dua dan tiga, masih tertekan. Banyak analis memperkirakan pemulihan yang nyata baru bisa terjadi paling cepat di akhir 2026 atau bahkan 2027.
Dampak ini sangat luas karena sektor properti pernah menyumbang sekitar 20 persen dari total aktivitas ekonomi China. Ketika sektor ini lesu, pemerintah daerah yang selama ini bergantung pada penjualan lahan ikut kesulitan, layanan publik terdampak, dan kepercayaan masyarakat tergerus.
Fenomena Lying Flat: Ketika Anak Muda Memilih Mundur
Dalam kondisi seperti ini, muncul sebuah fenomena sosial yang oleh pemerintah China sendiri dianggap mengkhawatirkan: gerakan tang ping atau lying flat. Secara harfiah berarti berbaring datar, di mana gerakan ini mencerminkan sikap sekelompok anak muda yang memilih untuk tidak bersaing terlalu keras, mengurangi ambisi, dan menikmati hidup dengan standar yang lebih rendah.
Pada September 2025, pemerintah China bahkan meluncurkan kampanye untuk membatasi konten di media sosial yang dianggap menyebarkan sentimen pesimistis berlebihan. Para blogger yang mempromosikan gaya hidup santai dan menyatakan bahwa kerja keras tidak ada gunanya mulai dikenai pembatasan. Ini menunjukkan bahwa pemerintah menganggap pergeseran sikap generasi muda ini sebagai ancaman yang serius terhadap produktivitas nasional.
Namun, menarik juga untuk bertanya: Apakah ini semata-mata kemalasan, atau ini adalah respons rasional dari generasi yang melihat bahwa kerja keras pun tidak selalu menjamin kehidupan yang lebih baik?
Ada yang Berubah, Ada yang Tidak
Tentu saja tidak semua gambar buram. Beberapa sektor mengalami pertumbuhan yang nyata. Industri kendaraan listrik terus berkembang dan menyerap tenaga kerja. Sektor teknologi dan AI mengalami boom, meskipun dampaknya belum merata ke seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah juga mulai mengalihkan belanja fiskal ke arah layanan sosial, seperti kesehatan, pendidikan anak, dan perawatan lansia, yang dalam jangka panjang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Inflasi juga relatif rendah, bahkan ada kekhawatiran tentang deflasi. Di satu sisi, hal ini berarti harga barang tidak naik terlalu cepat. Namun di sisi lain, deflasi yang berkepanjangan bisa menjadi tanda bahwa permintaan dalam negeri memang sedang lemah, yang berdampak buruk pada dunia usaha dan ketenagakerjaan.
Kesimpulan: Ini Merupakan Pertumbuhan Belum Merata
China tumbuh, tapi rakyatnya belum sepenuhnya ikut tumbuh bersama. Setahun terakhir tidak membawa perubahan mendasar dalam keseharian jutaan orang China yang masih bergelut dengan pasar kerja yang sempit, aset properti yang belum pulih, dan masa depan yang penuh ketidakpastian.
Pemerintah China tampaknya sadar akan situasi ini. Kebijakan stimulus terus dikeluarkan, orientasi belanja negara mulai digeser ke sektor sosial, dan program pelatihan kerja diperluas. Namun, kebijakan tidak bekerja dalam semalam, dan kepercayaan masyarakat tidak bisa dipulihkan hanya dengan angka pertumbuhan GDP.
Yang paling dibutuhkan rakyat China saat ini bukan hanya pertumbuhan, melainkan juga pertumbuhan yang terasa. Dan jarak antara keduanya masih cukup lebar.
