Menyesuaikan Keterampilan Public Speaking di Era Digital

Mahasiswa Universitas Pamulang - Digital Marketing
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kefin Ananda Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi dan menyampaikan gagasan. Presentasi, seminar, dan pelatihan yang sebelumnya banyak dilakukan secara tatap muka kini juga dapat berlangsung melalui berbagai media digital.
Perubahan ini membuat keterampilan public speaking tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara di depan audiens secara langsung, tetapi juga kemampuan menyampaikan pesan secara efektif melalui media daring. Adaptasi tersebut menjadi penting karena komunikasi digital memiliki karakteristik yang berbeda dari komunikasi tatap muka.
Pembicara tidak hanya perlu menguasai materi dan menyampaikan gagasan dengan jelas, tetapi juga harus mampu menjaga perhatian audiens, membangun interaksi, serta menyesuaikan penyampaian pesan dengan keterbatasan media yang digunakan. Keberhasilan public speaking di era digital tidak cukup ditentukan oleh kelancaran berbicara, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi dengan lingkungan komunikasi virtual.
Salah satu contoh penerapan public speaking melalui media digital terlihat dalam pemberitaan Media Center Provinsi Kalimantan Selatan pada 25 Februari 2026 mengenai pelatihan public speaking secara daring yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Kalimantan Selatan. Kegiatan yang dilaksanakan melalui Zoom Meeting tersebut diikuti oleh 270 aparatur sipil negara (ASN) dari lingkungan pemerintah provinsi serta kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.
Pelaksanaan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa platform digital dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan keterampilan komunikasi dalam lingkungan profesional. Melalui pertemuan daring, pembelajaran dan penyampaian materi dapat dilakukan tanpa mengharuskan pembicara maupun peserta berada di lokasi yang sama. Namun, penggunaan teknologi saja tidak menjamin komunikasi berlangsung efektif karena pembicara tetap perlu menyesuaikan cara penyampaian materi dengan karakteristik media digital.
Pentingnya penyesuaian tersebut juga dibahas dalam penelitian Dwi Rahayu, Francisco Javier Naranjo Escobar, dan Purwanti Taman (2022) berjudul Investigating Public Speaking Skills in an Online Synchronous Course. Penelitian yang melibatkan 67 mahasiswa tersebut mengidentifikasi aspek fisik, isi materi, dan visual sebagai unsur yang berkaitan dengan keterampilan public speaking dalam pembelajaran daring. Temuan ini menyoroti pentingnya aspek visual dalam menarik perhatian audiens selama presentasi berlangsung.
Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa penyampaian pesan melalui media digital membutuhkan perhatian terhadap lebih dari sekadar isi pembicaraan. Cara pembicara menampilkan materi dan memanfaatkan unsur visual turut menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam presentasi daring. Meskipun demikian, aspek visual tetap perlu mendukung kejelasan pesan, bukan justru mengalihkan perhatian audiens dari materi yang disampaikan.
Dalam penerapannya, public speaking digital membutuhkan penyesuaian teknik penyampaian agar pesan dapat diterima dengan baik oleh audiens. Selain mempersiapkan materi dan menyampaikan gagasan secara jelas, pembicara perlu memperhatikan posisi kamera, pencahayaan, kualitas suara, serta tampilan visual agar tidak mengganggu pemahaman audiens terhadap materi.
Interaksi dengan audiens dapat dibangun melalui fitur digital, seperti kolom obrolan dan komentar, yang memungkinkan peserta mengajukan pertanyaan atau menyampaikan pendapat selama presentasi. Keberadaan fitur tersebut perlu dimanfaatkan untuk memahami respons audiens dan memperjelas materi yang belum dipahami, sehingga komunikasi tidak hanya berpusat pada penyampaian pesan oleh pembicara.
Selain menyesuaikan teknik penyampaian, pembicara perlu mengantisipasi kendala teknis, seperti gangguan jaringan, suara yang terputus, atau materi presentasi yang tidak muncul. Kesiapan menghadapi situasi tersebut penting agar pembicara dapat mencari alternatif penyampaian dan menjaga kelancaran presentasi tanpa kehilangan arah pembahasan.
Kemampuan mengelola situasi yang tidak terduga juga berkaitan dengan sikap profesional pembicara selama presentasi berlangsung. Sikap tenang, responsif, dan terbuka terhadap tanggapan audiens dapat membantu menjaga kenyamanan komunikasi, terutama ketika interaksi tidak berjalan sesuai rencana.
Di sisi lain, efektivitas komunikasi digital juga bergantung pada keterlibatan audiens selama presentasi. Peserta perlu memperhatikan penjelasan pembicara, menghindari aktivitas yang mengganggu konsentrasi, serta menyampaikan pertanyaan atau tanggapan pada waktu yang tepat agar komunikasi berlangsung secara tertib.
Penggunaan mikrofon dan kamera juga perlu disesuaikan dengan situasi agar tidak mengganggu peserta lain. Partisipasi yang tertib dan sikap saling menghargai membantu menciptakan interaksi yang mendukung penyampaian pesan serta pemahaman materi.
Pengembangan keterampilan public speaking di era digital perlu dilakukan secara berkelanjutan oleh pembicara maupun audiens. Pembicara dapat berlatih menggunakan media digital, mengelola interaksi virtual, dan mengantisipasi kendala teknis, sedangkan audiens perlu membiasakan diri untuk fokus serta aktif memberikan tanggapan selama presentasi.
Pada akhirnya, kemampuan public speaking tidak cukup hanya mengandalkan keberanian dan kelancaran berbicara, tetapi juga membutuhkan kemampuan menyesuaikan diri dengan media yang digunakan. Penguasaan teknik komunikasi digital dan keterlibatan audiens menjadi bagian penting dalam menyampaikan pesan secara jelas, menjaga interaksi, dan mencapai tujuan komunikasi meskipun pembicara dan audiens berada di tempat yang berbeda.
