Konten dari Pengguna

Storytelling di Era AI: Kunci Meningkatkan Engagement Audiens Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Keisha Aurelia Dzikrilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI)

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia menciptakan konten digital. Berbagai teknologi AI kini mampu membantu proses kreatif, mulai dari mencari ide, menulis naskah, membuat ilustrasi, menghasilkan musik, hingga menyusun video. Menurut IBM, alat AI generatif dapat membantu proses brainstorming, pembuatan draf, dan produksi konten berkualitas dengan lebih cepat dan efisien. Namun, penggunaan AI juga memiliki keterbatasan karena konten yang dihasilkan berpotensi kurang memiliki orisinalitas, kreativitas, dan kedalaman emosional apabila tidak disertai pengawasan manusia.

Kemudahan tersebut membuat produksi konten menjadi semakin masif. Setiap hari, audiens dibanjiri oleh ribuan bahkan jutaan konten yang bersaing untuk mendapatkan perhatian mereka. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan membuat konten saja tidak lagi cukup. Tantangan terbesar bukan lagi bagaimana menciptakan konten, melainkan bagaimana membuat audiens tertarik, terlibat, dan mengingat pesan yang disampaikan.

Salah satu jawabannya adalah storytelling. Menurut Asfandiyar (2007), storytelling merupakan suatu proses kreatif yang tidak hanya mengaktifkan aspek intelektual, tetapi juga melibatkan kepekaan, emosi, seni, daya fantasi, dan imajinasi. Dengan kata lain, storytelling bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan membangun pengalaman yang dapat dirasakan oleh audiens.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, manusia pada dasarnya masih menyukai cerita. Cerita mampu menghadirkan emosi, membangun rasa penasaran, dan membuat pesan lebih mudah dipahami. Akan tetapi, cara audiens menikmati cerita saat ini telah mengalami perubahan. Jika dahulu masyarakat lebih banyak mengonsumsi cerita melalui televisi dengan durasi yang relatif panjang, kini mereka lebih sering mengakses konten singkat melalui media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa orang masih suka didongengi, tetapi tidak mau terlalu lama. Perubahan pola konsumsi media membuat perhatian audiens menjadi lebih terbatas. Oleh karena itu, storytelling tidak lagi mengandalkan durasi panjang, melainkan kemampuan menyampaikan pesan secara cepat, padat, dan menarik dalam hitungan detik. Kehadiran video pendek, konten berseri, dan format storytelling singkat di TikTok maupun Instagram menunjukkan bahwa cerita tidak menghilang, melainkan beradaptasi mengikuti kebiasaan audiens.

Jika melihat ke belakang, banyak masyarakat Indonesia yang masih mengingat slogan maupun jingle iklan televisi dari era 2000-an hingga awal 2010-an. Beberapa iklan bahkan tetap dikenang bertahun-tahun setelah tidak lagi ditayangkan. Menariknya, yang sering diingat bukan hanya produknya, tetapi juga cerita, karakter, maupun jingle yang menyertainya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pesan yang dikemas melalui unsur naratif cenderung lebih mudah melekat dalam ingatan audiens.

Namun, bukan berarti iklan masa lalu lebih baik dibandingkan iklan masa kini. Perubahan media dan perilaku audiens membuat strategi komunikasi juga ikut berubah. Pada masa televisi mendominasi, audiens cenderung melihat tayangan yang sama secara berulang. Sementara itu, di era media sosial, perhatian audiens tersebar ke berbagai platform dengan arus informasi yang jauh lebih cepat. Karena itu, tantangan utama saat ini adalah bagaimana menyampaikan cerita yang mampu menarik perhatian dalam waktu singkat tanpa kehilangan makna yang ingin disampaikan.

Dalam komunikasi digital, keberhasilan sebuah konten tidak hanya diukur dari jumlah tayangan yang diperoleh, tetapi juga dari keterlibatan audiens terhadap pesan yang disampaikan. Menurut Alfian (2023), customer engagement merupakan interaksi berulang yang memperkuat investasi emosional, psikologis, atau fisik yang dimiliki pelanggan terhadap suatu merek. Dalam konteks media sosial, engagement dapat terlihat melalui berbagai bentuk interaksi seperti komentar, bagikan, simpan, maupun ketertarikan untuk mengikuti konten berikutnya. Dengan demikian, engagement tidak hanya berkaitan dengan banyaknya orang yang melihat sebuah konten, tetapi juga seberapa besar hubungan yang berhasil dibangun antara audiens dan konten tersebut.

Efektivitas storytelling dalam meningkatkan engagement juga didukung oleh hasil penelitian. Penelitian mengenai penggunaan storytelling dalam video spill fitur Trustmedis menunjukkan bahwa storytelling mampu membangun kedekatan emosional dengan audiens serta mendorong keterlibatan pengguna secara aktif. Penelitian tersebut menemukan bahwa struktur cerita yang diawali dengan penggambaran permasalahan atau pain point audiens lebih efektif dalam menarik perhatian. Temuan ini menunjukkan bahwa storytelling tidak hanya efektif pada produk konsumen (B2C), tetapi juga dapat meningkatkan kualitas engagement pada produk berbasis layanan dan teknologi.

Dalam situasi tersebut, AI dapat berperan sebagai pendukung storytelling. Teknologi AI dapat digunakan untuk mencari inspirasi, membuat ilustrasi pendukung, menghasilkan musik latar, mempercepat proses penyuntingan, hingga membantu menciptakan visual yang sebelumnya sulit diwujudkan. Kehadiran AI memberikan lebih banyak ruang bagi kreator untuk mengeksplorasi ide-ide baru dalam menyampaikan cerita.

Contoh penerapannya dapat ditemukan pada sejumlah kreator konten digital yang memanfaatkan AI sebagai alat bantu produksi. AI digunakan untuk memperkuat visual, menciptakan latar yang unik, atau menghadirkan adegan yang lebih menarik. Namun, alasan utama audiens tetap mengikuti konten tersebut bukanlah karena teknologi yang digunakan, melainkan karena alur cerita, konflik, humor, karakter, dan kejutan yang disajikan. Dengan kata lain, AI membantu memperkuat penyampaian cerita, tetapi bukan pengganti cerita itu sendiri.

Hal serupa juga dapat dilihat pada penggunaan musik dalam konten digital. Lagu atau jingle yang menarik memang mampu mencuri perhatian audiens dalam waktu singkat. Akan tetapi, daya tarik tersebut sering kali bersifat sementara. Sebaliknya, konten yang memiliki cerita menarik cenderung mampu membangun hubungan yang lebih kuat karena membuat audiens merasa terhubung dan menantikan kelanjutan cerita yang disampaikan.

Pada akhirnya, perkembangan AI tidak mengurangi pentingnya storytelling dalam komunikasi digital. Justru ketika produksi konten menjadi semakin mudah, kemampuan bercerita menjadi faktor pembeda yang semakin berharga. AI dapat membantu mempercepat proses kreatif dan memperkaya penyajian konten, tetapi sentuhan manusia tetap diperlukan untuk menciptakan cerita yang bermakna, relevan, dan mampu membangun hubungan emosional dengan audiens. Di era AI, tantangan terbesar bukan lagi bagaimana membuat konten, melainkan bagaimana membuat audiens peduli terhadap konten tersebut. Di sinilah storytelling tetap menjadi kunci utama dalam meningkatkan engagement audiens digital.