"Cerpen Rumah Ikan-ikan" Dari Tepi Dasar Lubuk: Menelusuri Keindahan Bahasa
Tulisan dari Keisha dea Anjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam cerpen ketika sudah selesai dibaca pasti akan langsung kepikiran. Ada juga yang menetap didalam ingatan kita, seperti bau tanah sehabis hujan. “Rumah Ikan-ikan” karya Afri Meldam termasuk yang kedua.
Cerpen ini tidak menawarkan alur cerita yang rumit atau konflik yang dramatis. Ia hanya mengikuti seorang lelaki tua yang berdiri di tepi sungai pada suatu pagi yang berkabut. Namun di balik kesederhanaannya itu, tersimpan lapisan-lapisan makna yang dibangun dengan cermat melalui dua kekuatan utama yaitu gaya bahasa yang puitis dan latar hidup sang tokoh.
Untuk menceritakan lebih dalam soal kedua kekuatan itu, tulisan ini berpijak pada teori Robert Stanton dalam Teori Fiksi (2007). Stanton membagi unsur fiksi menjadi tiga kelompok yaitu fakta cerita (alur, karakter, latar), tema, dan sarana sastra (judul, sudut pandang, gaya dan tone, simbolisme, ironi). Gaya dan tone, latar dari keduanya adalah yang paling menonjol dalam cerpen ini.
Sekilas tentang Cerpen Rumah Ikan-ikan
Cerpen ini berkisah tentang seorang lelaki tua yang hidupnya tak bisa dipisahkan dari sungai yang berada di Sumatera Barat. Ketika kabar penemuan emas kembali menggegerkan kampung dan orang-orang berbondong-bondong mendulang, kenangan pahit lelaki itu bangkit ke permukaan.
Puluhan tahun silam, ia dan istrinya pernah mendulang emas di sungai yang sama setelah mendapat petunjuk dari sebuah mimpi. Namun keserakahan itu berakhir tragis, tebing runtuh dan menimbun istrinya yang tengah mengandung. Sejak saat itu, ia hidup sendiri menanggung penyesalan yang tak pernah tuntas.
Hingga mimpi itu datang kembali. Dua ekor ikan bersisik emas di dalam sungai memanggilnya. Dan di pagi berkabut itu, ia pun menjawab panggilan tersebut dengan cara yang paling mengejutkan, melesat masuk ke pusaran sungai bersama mereka dan menelusuri sungai itu bersama istri dan juga anaknya.
Gaya Bahasa: Prosa yang Berjiwa Puisi
Stanton menegaskan di halaman 61 bahwa gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Di halaman 63 ditegaskan lagi bahwa satu elemen yang terkait dengan gaya adalah tone. Tone adalah sikap emosional pengarang yang ditampilkan dalam cerita. Ketika seseorang pengarang mampu berbagi 'perasaan' (bahasa Inggris: mood) dengan sang karakter dan ketika perasaan itu tercermin pada lingkungan, tone menjadi identik dengan 'atmosfer'. Dalam cerpen ini, gaya bahasa Afri Meldam bekerja persis seperti itu.
Sejak kalimat pertama, kita sudah diajak masuk ke dalam dunia yang berbeda:
“Ia datang menunggang embun. Sungai masih menyungkup diri dalam selimut kabut. Turun ia mengecup batu-batu. Ia biarkan bibir pasir mencumbu kaki telanjangnya.”
Perhatikan bagaimana sungai, embun, kabut, dan pasir seolah hidup dan punya kehendak sendiri. Ini disebut personifikasi, benda tak bernyawa diberi sifat manusia. Stanton, menyebutkan bahwa cara pengarang membangun tone bisa menampak dalam berbagai wujud dan tone bisa menjadi identik dengan atmosfer. Seperti contoh sungai bukan sekadar sungai bagi lelaki tua, ia adalah sahabat, saksi bisu, sekaligus penampung luka.
Metaforanya juga masuk ke dalam ingatan saya. Ada satu kalimat dalam cerpen yang paling menampar saya:
"Sungai ini adalah urat hidupnya."
Sungai disamakan dengan urat nadi dan pembuluh darah sebagai kehidupan. Tanpa sungai, tidak ada kehidupan bagi tokoh ini. Sesederhana itu, namun sedalam itu. Yang paling memukau adalah penggunaan simbolisme. Di halaman 64-65, Stanton secara khusus membahas simbol sebagai sarana sastra yang memberikan makna lebih dari sekadar objek atau peristiwa itu sendiri. Dalam simbolisme ini, ada tiga simbol yang muncul dan bergantung bagaimana simbol bersangkutan digunakan.
Simbol yang muncul pada satu kejadian penting dalam cerita
Simbol yang ditampilkan berulang-ulang
Simbol yang muncul dalam konteks yang berbeda-beda
Dalam cerpen ini, ada tiga simbol utama yang bekerja beriringan:
Dua ekor ikan bersisik emas, melambangkan istri dan anak yang telah tiada
Pusaran air di lubuk sungai, melambangkan batas antara dunia kehidupan dan kematian.
Transformasi tokoh menjadi ikan, melambangkan pelepasan diri dari penderitaan dan penyatuan kembali dengan orang-orang yang dicintai.
Ketiga simbol ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dalam membentuk satu makna besar bahwa kematian, dalam cerpen ini, bukan akhir melainkan pulang. Satu lagi kekuatan gaya bahasa cerpen ini adalah penggunaan kata atau susunan kata yang berlapis. Bisa saya simpulkan bahwa imaji yang baik tidak hanya membangun gambaran visual, tetapi juga menyentuh indera lain, taktil, auditori, bahkan penciuman. Di cerpen ini kita bisa merasakan menggigil pagi, mendengar kecipak air, dan melihat kilauan sisik emas. Itu semua ada dalam satu cerita pendek.
Latarnya: Sungai yang Jauh Lebih dari Sekadar Tempat
Stanton mendefinisikan latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita. Latar juga dapat berwujud waktu-waktu tertentu. Nah, di "Rumah Ikan-ikan", sungai itu sudah melampaui fungsinya sebagai sekadar lokasi. Dia jadi semacam "karakter" tersendiri. Bisa dilihat banyaknya peran sungai dalam cerita ini:
Tempat lahir bisa membentuk identitas si tokoh.
Tempat kebahagiaan bisa menjadi saat dia dan istrinya mendulang emas dan bermimpi.
Tempat luka itu bisa menjadi saat istrinya tertimbun tebing.
Tempat berkabung bisa saat dia bermenung mengenang istrinya bertahun-tahun.
Tempat pulang bisa saat dia akhirnya "menyatu" lagi dengan istri dan anaknya.
Satu sungai, bisa lima wajah yang berbeda. Makanya cerpen ini kerasa "berat" meskipun halamannya tipis. Latar waktunya juga tidak sembarangan, salah satunya pagi yang masih berkabut. Stanton mengatakan dalam berbagai cerita dapat dilihat bahwa latar memiliki daya untuk memunculkan tone dan mood emosional yang melingkupi sang karakter. Di halaman 68, salah satu bentuk simbol yang khas adalah 'momen simbolis'. Momen simbolis, momen kunci, atau momen pencerahan adalah tabula tempat seluruh detail yang terlihat dan hubungan fisis mereka dibebani oleh makna. Kabut di sini jadi simbol ambiguitas atau bermakna ganda, batas yang kabur antara nyata dan mimpi, hidup dan mati. Bukan kebetulan pengarang memilih suasana ini buat adegan penutup yang menggantung antara dua dunia.
Yang membuat latarnya itu menjadi masuk ke konteks budaya Minangkabau yang muncul natural yaitu jae (alat pendulang tradisional), sejarah Kerajaan Pagaruyung, sebutan "pulau emas" dari Sumatera, sampai kepercayaan kalau mimpi itu isyarat gaib. Dengan latar budaya sekuat ini, tindakan tokoh mengikuti mimpi ke dalam sungai jadi terasa logis, bahkan sakral.
Ketika Gaya Bahasa dan Latar Menyatu
Yang membuat “Rumah Ikan-ikan” benar-benar istimewa adalah bagaimana gaya bahasa dan latar tidak berjalan sendiri-sendiri. Dapat perhatikan bagian klimaks cerpen, ketika tokoh merasa tubuhnya berubah menjadi ikan:
“Tangannya adalah sirip runcing dan kokoh. Kedua kakinya menyatu dan berubah menjadi sebilah ekor yang tegap. Sekujur tubuhnya kini dipenuhi sisik-sisik yang berkilauan dijilat matahari pagi.”
Di momen ini, gaya bahasa (imaji visual yang detail, metafora transformasi) dan latar (sungai pagi hari, matahari baru terbit) jalan bareng, menciptakan satu momen yang terasa nyata sekaligus magis. Kita sebagai pembaca belum bisa memahami pasti ini kenyataan, imajinasi, atau kematian? Dan justru ketidakpastian itu yang lahir dari perpaduan gaya bahasa dan latar tadi yang membuat momen ini terasa emosional.
Penutup: Tentang Cerpen yang Melampaui Dirinya Sendiri
“Rumah Ikan-ikan” adalah contoh bagus bahwa cerpen yang baik tidak perlu panjang dan rumit. Ia hanya perlu jujur, cermat dalam memilih kata, dan tahu betul bagaimana membiarkan tempat dan waktu ikut bercerita.
Melalui gaya bahasa yang seperti personifikasi, metafora, simbolisme, imaji sensoris, dan tone yang puitis. Afri Meldam berhasil membangun dunia yang terasa nyata sekaligus melampaui kenyataan. Dan melalui latar sungai yang berlapis makna, ia mengangkat kisah seorang lelaki tua yang sederhana menjadi sesuatu yang luas seperti tentang rindu, tentang penyesalan, dan tentang keberanian untuk akhirnya pulang. Setelah membaca cerpen ini, mungkin kita akan memandang sungai dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar air yang mengalir, melainkan cermin yang menyimpan semua yang pernah kita cintai dan kita tinggalkan.
Daftar Pustaka
Meldam, Afri. (2026). "Rumah Ikan-ikan". Padang Panjang.
Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi. Terjemahan Sugihastuti dan Rossi Abi Al Irsyad. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

