Uniknya Ragam Bahasa dan Ekspresi Jawa dari Tulungagung hingga Surabaya

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Airlangga
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Keisya Devran Azriel Sasongkojati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai mahasiswa perantauan dari Kabupaten Tulungagung yang melangkahkan kaki ke Kota Surabaya untuk menuntut ilmu, salah satu culture shock atau hal yang saya hadapi bukan hanya soal rasa masakan atau hawa udaranya yang sangat-sangat terik, melainkan cara orang-orang di sekitar saya berkomunikasi. Di lingkungan kampus dan saat berkumpul setelah kelas kuliah, saya sering kali berinteraksi dan mengobrol santai dengan teman-teman saya yang asli Surabaya atau "warlok". Dari percakapan yang riuh itu, saya mulai memahami bagaimana gaya bahasa Jawa yang kita bawa dari daerah masing-masing bisa sangat berbeda.
Dari Nglayap ke Perantauan: Geseran Budaya Mataraman ke Suroboyoan
Di tanah kelahiran saya, Tulungagung, bahasa Jawa yang kami gunakan sehari-hari termasuk dalam dialek Jawa Mataraman. Dialek ini secara historis dipengaruhi kuat dari bahasa Jawa bagian tengah, seperti wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Suara dan intonasi bahasa kami cenderung lebih lembut, beralun, dan terkesan berliku-liku demi menjaga rasa segan dan hormat dalam berbicara. Sebaliknya, begitu saya menginjakkan kaki di Surabaya, suasana kebahasaannya berubah total. Teman-teman Surabaya saya menggunakan gaya bahasa khas Jawa Timuran yang spontan, lugas, bernada tegas, dan penuh semangat atau bergelora. Mereka juga tidak banyak basa-basi. Perbedaan ragam ini tentu saja menghadirkan dinamika menarik dalam pergaulan harian mahasiswa rantau. Pada minggu-minggu pertama perkuliahan, gaya tutur teman-teman Surabaya yang sangat ceplas-ceplos kerap kali membuat saya kaget. Namun, seiring berjalannya waktu dan makin akrabnya hubungan pertemanan, saya mulai paham bahwa cara bertutur tersebut bukanlah wujud ketidakramahan atau rasa marah, melainkan ekspresi kejujuran, kepolosan, dan simbol keterbukaan yang sangat khas dari warga Surabaya.
Partikel Khas dan Ungkapan Ekspresif seperti kata "Peh!" dan "Jancok"
Salah satu hal paling menonjol dalam interaksi saya dan teman-teman saya adalah perbedaan kata sapaan, kata penegas, dan ekspresi spontan yang digunakan. Di kalangan warga Tulungagung, kami memiliki ragam kata sapaan yang sangat kaya dan khas, seperti "Cah", "Kek", "Mak", "Jo" yang digunakan untuk panggilan untuk teman sebaya, hingga kata sapaan yang populer di media sosial seperti "lur", yang berasal dari kata dulur. Ketika merasa kagum, terheran-heran akan suatu hal, lidah kami secara refleks akan mengucap kata "Peh!" atau "Byuh!". Tidak hanya itu, terkadang kami juga sering menambahkan imbuhan ekspresif "mak" di depan kata tindakan, misalnya kata "mak bedunduk" untuk menggambarkan sesuatu yang tiba-tiba muncul tanpa diundang, atau "mak sliwer" saat ada kendaraan atau orang yang melintas dengan sangat cepat. Untuk menunjukkan tingkat atau kadar "sangat", masyarakat Tulungagung juga memiliki kebiasaan unik dengan memanjangkan vokal atau menyisipkan fonem tertentu, seperti mengubah kata sumuk (gerah) menjadi "jian soumuk" atau kata apik (bagus) menjadi "uapik". Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Riris Purbosari (2024), ungkapan dan dialek khas Tulungagung ini berfungsi penting sebagai sarana mempererat keakraban sekaligus penunjuk identitas sosial budaya penuturnya.
Sebaliknya, saat mengobrol di kampus ataupun tempat nongkrong bersama teman-teman Surabaya, dari mereka untuk penyebutan kata "kamu", mereka menyebutnya dengan "koen", dan juga saya dikejutkan oleh penggunaan ungkapan penegas yang jauh lebih eksplisit dan tanpa ragu, seperti kata "cuk" atau "jancok". Bagi telinga pendatang yang belum terbiasa, kata tersebut mungkin terdengar seperti umpatan kasar. Namun, di antara sesama warga lokal Surabaya yang sudah akrab, kata tersebut justru mencairkan suasana dan berfungsi sebagai alat perekat keakraban tanpa ada niat sedikit pun untuk menghina. Perbedaan penekanan ekspresi inilah yang menjadi bumbu unik dalam komunikasi kami sehari-hari.
Unggah-Ungguh dan Kebiasaan Krama Desa
Perbedaan lain yang menarik muncul saat kami harus berbicara dengan sopan, atau menggunakan tata krama (unggah-ungguh). Di Tulungagung, masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari usia anak-anak hingga dewasa sudah terbiasa menerapkan bahasa yang dikenal sebagai krama desa atau tutur tinular. Dalam percakapan yang membutuhkan rasa hormat, kami sering menggunakan kosakata seperti "pripun", "sedanten", "tasik", atau "niki". Meskipun dalam kaidah kebahasaan baku tata bahasa Jawa, kata-kata tersebut dianggap sebagai ragam substandar (karena bentuk bakunya adalah kadospundi, sedaya, dan taksih), penggunanya tetap bermaksud positif untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara. Sebagaimana dipaparkan oleh Willda Eka Berlian dan Bagus Wahyu Setyawan (2023), penggunaan unggah-ungguh bahasa Jawa merupakan cerminan penting dari budi pekerti serta bentuk penghormatan yang perlu ditanamkan dan dibiasakan sejak dini. Akan tetapi, di lingkungan perkotaan yang sangat heterogen dan multikultural seperti Surabaya, tidak jarang teman-teman sebaya lebih memilih untuk langsung beralih menggunakan bahasa Indonesia yang sopan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua untuk menghindari timbulnya kekeliruan tingkatan tata bahasa Jawa.
Menghargai Keragaman Lintas Budaya di Perantauan
Pengalaman hidup sebagai mahasiswa perantauan dari Tulungagung ke Surabaya memberi saya pelajaran yang sangat berharga. Bahasa sejatinya bukan sekadar alat untuk menyampaikan warta atau informasi semata, melainkan juga cerminan dari identitas, sejarah, dan latar belakang budaya seseorang. Logat Tulungagung yang lembut dan penuh ekspresi, serta logat Surabaya yang tegas dan bersemangat, keduanya punya fungsi sosial yang sama: menyatukan, membangun keakraban, dan menunjukkan rasa saling menghargai. Dengan berusaha memahami latar belakang di balik perbedaan dialek dan ekspresi ini, kita dapat menjadi pribadi yang lebih bersikap terbuka, toleran, serta tidak terburu-buru menilai gaya bicara orang lain secara sepihak. Pada akhirnya, keragaman bahasa Jawa, baik versi Mataraman Tulungagung maupun Suroboyoan, merupakan kekayaan budaya Nusantara yang luar biasa, yang justru membuat dinamika pertemanan di dunia perantauan menjadi jauh lebih kaya, penuh warna, dan bermakna.
Referensi:
Berlian, W. E., & Setyawan, B. W. (2023). Representasi Penggunaan Unggah-Ungguh Bahasa Jawa di Tulungagung pada Kalangan Anak-Anak Umur 7-12 Tahun. Jurnal Ikadbudi, 12(2), 23-32.
Purbosari, R. (2024). Variasi Bahasa Jawa Masyarakat Tulungagung dalam Media Sosial WhatsApp: Kajian Sosiolinguistik. PARAMASASTRA: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya, 11(1), 19-38.
