Konten dari Pengguna

Obon Matsuri (お盆) : Kembalinya Arwah Leluhur ke Rumah

keke agatha

keke agatha

mahasiswa semester 3 di bidang studi jepang di surabaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari keke agatha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://images.app.goo.gl/XQo4jHbfBfKsrxrJ7
zoom-in-whitePerbesar
https://images.app.goo.gl/XQo4jHbfBfKsrxrJ7

Kegiatan nyekar di Indonesia biasanya dilakukan untuk memanjatkan doa supaya beliau yang sudah tiada ini bisa mendapatkan posisinya di sorga. Dan juga orang yang menyekar ini juga berdoa supaya beliau yang sudah tiada ini bisa diampun dosanya supaya tenang di alam sana. Setelah memanjatkan doa, orang-orang ini akan membersihkan makam tersebut, lalu menyiraminya dengan air bersih dan terakhir akan disebar bunga supaya mempercantik makamnya. Nyekar sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, tetapi pada hari lebaran seperti ini hampir semua orang yang merayakan hari lebaran ini akan berkunjung ke makam leluhur atau orang yang telah tiada. Nyekar di agama Islam juga bisa dilakukan pada hari kamis juga.

Festifal ini adalah Obon Matsuri (お盆) ini adalah tradisi yang diikuti oleh upacara untuk menyambut arwah yang datang ke bumi. Upacara yang dilakukan pada tradisi ini juga mengikuti aturan agama Budha. Tradisi ini tidak Cuma berjalan satu hari tetapi, bisa sampai 3-5 hari. Nenek moyang orang – orang akan pulang kerumah dengan waktu yang sangat singkat. Tanggal yang ditetapkan untuk merayakan festifal ini tidak hanya satu melainkan ada dua tanggal, yaitu setiap tgl 15 Juni dan 15 Agustus. Bisa seperti itu karena adanya perbedaan dari dua kalender, tetapi kebanyakan sekarang masyarakat orang Jepang merayakannya pada tgl 15 Agustus. Tentang Obon, Sasaki

dalam bukunya (1995 : 42) menulis demikian:

8月の15日前後はお盆で、仏教行事と、なくなった先祖を迎えて生活の栄養を願うという日本独特の風習が重なったものです。お盆に実家に帰省してお墓参りをする人もたくさんいます。お寺や霊園の駐車場はどこも満員で、お墓参りで久しぶりに親戚と顔を合わせたり、お墓に花を飾ったり先祖のために供養する時です。

Terjemahannya: Sekitar 15 Agustus dirayakan Obon yang merupakan gabungan antara tradisi agama Buddha dengan kebiasaan Jepang yang unik, yaitu memohon hidup sejahtera dengan cara menyambut kembalinya roh leluhur yang telah meninggal dunia. Di sat Obon, banyak orang kembali ke rumah orang tua mereka dan mengunjungi makam leluhur. Tempat parkir kuil dan pemakaman dipenuhi masyarakat yang mengunjungi makan. Obon menjadi saat bagi seseorang untuk bertemu dengan kerabat/keluarga setelah sekian lama tidak berjumpa. Obon juga menjadi saat bagiorang Jepang untuk mengunjungi leluhur dengan cara berdoa dan mempersembahkan bunga di makam leluhur.

https://images.app.goo.gl/byz9rM9t3HuAdWZ47

Sebelum tradisi ini dimulai, akan ada persiapan yang akan dilakukan, yaitu akan dibuatkan terong dan timun yang ditusuk dengan tusuk gigi da sumpit supaya timun dan terong itu bisa berdiri dan tidak mengenai bawahnya. Ada alasanya kenapa 2 sayuran ini yang diterapkan di acara ini. Karena timun dilambangkan sebagai kuda untuk transportasi arwahnya yang akan datang ke dunia ini. Dan untuk terong mempunyai arti sapi untuk transportasi arwahnya kembali ke alam sana.

Tradisi Obon ini juga belum tentu kapan terjadinya pertama kali. Tetapi menyambut arwah yang kembali ke bumi di Jepang ini memang sudah ada sejak dahulu. Tradisi ini dulunya dilakukan dua kali dalam satu tahun. Yang pertama saat bulan purnama di awal musim semi dan di awal musim gugur. Tradisi ini dilestarikan secara turun menurun. Kegiatan pada tradisi Obon Matsuri ini juga tidak banyak berubah dengan yang jaman dahulu. Kegiatan ini meliputi penghormatan untuk arwah sebagai bentuk pembebasan roh dan juga sebagai pelepasan penderitaan,memberikan seserahan seperti makanan.

Di Indonesia ini juga terdapat tradisi yang hampir sama dengan Obon. Beda dengan Obon, di Indonesia tradisi ini lebih ke budaya Jawa dan diikuti dengan orang yang beragama Islam. Yang terjadi di Indonesia ini terjadi seminggu sekali yaitu terjadi pada malam jumat hari Kamis. Orang-orang yang akan merayakan tradisi ini awalnya akan berkunjung di makam arwah itu untuk memanjatkan doa dan juga membersihkan makam arwah tersebut. Seperti menyiramnya dengan air bersih dan terakhir akan di sebarkan bunga segar.

Dalam tradisi Jawa akan ada persembahan untuk arwah yang akan berpulang ke rumah. Mereka akan menyiapkan makanan dan minuman seperti permen, kopi dan biasanya juga ada rokok. Dalam agama islam mereka hanya memanjatkan doa dan membersihkan makam. Tetapi saat kematian, mereka akan memanjatkan doa pada hari tertentu, contohnya selama 7 hari, 40 hari dan 1000 hari. Pada saat kematian baru berlangsung, arwah yang baru meninggal akan tetap ada di rumah sampai 40 harinya.

Urutan Tradisi :

  1. Mukaebi (迎え火).

https://images.app.goo.gl/g69TJnDijHW3wFor6

Kegiatan membuat api dari ogara yaitu tangkai rami yang di tumpuk kemudian dibakar yang akan menghasilkan asap. Asap inilah yang akan menjadi petunjuk jalan bagi arwah yang akan kembali ke bumi atau rumahnya. Jaman dahulu orang akan membakar ini di dekat atau juga di makam si arwah tersebut. Setelah kiranya arwah itu sudah ada di tempat yang dulu ia tinggali di bumi, pendeta Budha akan membacakan sesuatu yang dinamakan Sutra di depan barang persembahan yang sudah disiapkan tersebut.

Di Lampung juga ada tradisi yang sama yaitu Malaman yang dilaksanakan pada hari Ramadhan. Tradisi ini dilakukan dengan masyarakat memegang obor atau penerangan lainnya lalu berkeliling di daerah rumahnya itu. Orang dulu percaya bahwa Malaman ini dilakukan untuk menunjukan arah jalan pulang para leluhurnya.

  1. Ohakaimairi (お墓参り).

https://images.app.goo.gl/nKdSdbWmTc2Vy2BL8

Kegiatan ziarah. Sama halnya juga yang ada di Indonesia mereka akan membersihkan makam arwah tersebut, menghiasnya dengan bunga yang segar dan juga memberikan dupa di makam tersebut. Dan juga tidak lupa mereka akan memanjatkan doa untuk arwah itu supaya arwah itu tidak kesusahan di alam sana. Ritual Ohakaimairi ini sama dengan ritual yang dilakukan saat ada hari lebaran di Indonesia. Setelah mereka ziarah ke makam arwah ini, biasanya mereka akan melanjutkan untuk berkumpul bercengkrama dengan sanak saudara yang sudah berada di satu tempat yang sama. Mereka akan makan-makan bersama dan juga pastinya mengenang arwah yang sudah tiada itu. Ritual ini dilakukan dengan maksud menghormati si arwah tersebut.

  1. Okuribii (送り火).

https://images.app.goo.gl/wrk2CzYibvxpDxou8

Tradisi ini dilaksanakan di gunung,sungai atau juga laut di Jepang lalu orang-orang akan mulai membuat api atau juga cahaya dari lentera yang terang. Tradisi ini dilakukan dimaksudkan supaya mengantar leluhur pulang ke alam sana. Okuribi ini juga disebut dengan Daimonji no Okuribi. Mengapa disebut seperti itu karena api yang dinyalakan untuk acara ini akan membentuk akasara moji atau monji untuk membentuk kanji dai 大 yang mempunyai arti besar.

Pada zaman Edo acara Okuribi ini di laksanakan lebih dari 5 tempat yang berbeda. Okuribi ini juga menjadi salah satu dari empat perayaan terbesar di Kyoto. Keempat acara ini yaitu Aoi Matsuri, Gion Matsuri dan Jidai Matsuri. Pada waktu zaman Edo api unggun disusun membentuk aksara hiragana untuk aksara “i” dan kanji untuk ichi,hebi dan juga nai nata yang masing masing berarti ichi adalah satu, hebi adalah ular dan naginata adalah tombak bermata golok. Pada acara Okuribi ini tidak hanya cahaya yang terang tetapi juga ada persembahan untuk menunjukan rasa terimakasih untuk leluhur yang sudah datang kembali ke bumi. Api atau cahaya yang dinyalakan itu juga tidak asal cahaya. Tetapi cahaya itu dibentuk aksara kanji atau juga perahu. Kanji yang dibentuk ada empat, yang pertama ada kanji dai yang dipercaya membentuk tubuh manusia dan berdoa untuk mengusir wabah. Yang kedua ada myou hou yang berarti hukum yang menakjubkan. Yang ketiga ada funugata, bentuknya seperti perahu. Yang terakhir keempat ada toriigata disusun serupa seperti gambar torii.

https://images.app.goo.gl/XbuRLqaH1mNaiNHL6

Ada juga acara yang masih dibagian Okuribii yaitu bernama Shoro Nagashi (精霊流し) . Pada umumnya tradisi ini terkenal atas lenteranya yang berjumlah banyak. Lentera yang biasanya sering kita lihat di sebagian jalan dengan penyangganya itu disebut dengan Toro. Tetapi lentera yang digunakan pada tradisi ini berbeda dengan toro yang itu. Toro ini yang kecil sehingga bisa mengambang di permukaan air dan bercahaya saat malam. Kerangkanya terbuat dari bambu, kayu,batu dan lainnya. Lalu setelah mempunyai kerangka, akan dibalut dengan kertas atau kain untuk menjaga cahayanya supaya lebih awet. Pada bagian kertasnya banyak orang memilih untuk menggambarinya atau juga ditulisi dengan isian pesan yang akan disampaikan untuk arwah tersebut. Di dalamnya berisi cahaya berupa lilin atau senter yang tidak gampang padam saat tertiup oleh angin. Acara ini dimulai pada saat malam hari, sehingga menghasilkan pemandangan yang indah meskipun ada unsur suasana yang sedang duka. Toro nagashi yang berada di permukaan air ini tidak akan dibiarkan, tetapi setelah acara ini selesai akan diangkat supaya tidak mengotori lingkungan yang di pakai untuk merayakan tradisi ini. Tetapi juga ada yan dibiarkan mengalir di sepanjang sungai.

Perayaan Shoro Nagashi ini awal dilakukan pada saat tahun 1949. Perayaan ini dilakukan untuk menghormati mendiang paru leluhur yang sudah gugur. Perayaan ini di laksanakan pada tanggal 16 Agustus.

Di hari yang sama pada tanggal 16 Agustus juga diadakan suatu acara di Kyoto tepatnya. Disana kita bisa melihat api Okuribi yang menyala terang di atas gunung daru tempat perayaan Shoro Nagashi. Toro yang mengembang diatas permukaa air ini berbentuk kanji dai 大 yang berarti besar dan torii yan berarti gerang kuil. Ada juga tempat perayaan Shoro Nagashi yang diadakan di Hiroshima. Beda dengan yang lain yang merayakan pada tanggal 15 Agustus, disini dirayakan pada tanggal 6 Agustus sebagai upacara peringatan perdamaian saat bom atom dijatuhkan tepatnya di Hiroshima. Perayaan ini ditujukan untuk menghormati dan mengirimkan doa untuk korban-korban bom Hiroshima pada saat itu.

  1. Bon Odori(盆踊り)

https://images.app.goo.gl/bsq63Ve4QmfVBQjC9

Kegiatan ini akan menjadi tahap terakhir dari tradisi Obon Matsuri. Bon Odori adalah penutupan dari acara ini. Acara ini dilangsungkan dengan kegiatan menari dari perempuan dan laki-laki. Konon katanya gerakan yang ada di tarian ini menunjukan seolah olah para leluhur yang menari gembira karena terbebasnya dari api neraka. Kegiatan ini dilaksanakan di lapang luas terbuka atau juga sering dilakasanakan di depan stasiun. Pada taggal 16 orang-orang bisa menari dengan watu yang lama. dikarenakan saat itu bulan sedang terang- terangnya

Simpulan

Perayaan Obon Matsuri ini jika dilihat dampaknya memang menguntungkan untuk wisata para turis yang penasaran dengan tradisi ini. Meskipun juga menyesakkan untuk keluarga yang ditinggalkan tapi jika dilihat sisi positifnya orang-orang yang ditinggal bisa mengenang leluhurnya. Obon Matsuri ini juga tidak hanya sebagai tradisi saja, tetapi bisa menjadi waktu yang bagus untuk keluarga yang jarang kumpul, sehingga mereka bisa berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.

Sumber Referensi :

https://www.japanhoppers.com/id/all_about_japan/culture/214/

https://id.wikipedia.org/wiki/Obon

Wiyatasari, Reny. 2018. Perayaan Obon (Obon-Matsuri) di Jepang. Semarang

https://travel.kompas.com/read/2020/02/10/135500827/rekomendasi-7-festival-di-jepang-ada-festival-tari-terbesar