Konten dari Pengguna

Kampus ke Kandang: Mahasiswa UMM Ciptakan Disinfektan Alami Ramah Lingkungan

Keken Himawan

Keken Himawan

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Keken Himawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tulungagung – Kreativitas dan kepedulian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali terbukti lewat program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM). Kali ini, mereka meluncurkan Gerakan Mandiri Pembuatan Disinfektan Hewan Alami yang berbahan dasar daun sirih dan sereh. Produk ini ramah lingkungan, aman untuk ternak, dan menjadi alternatif pengganti disinfektan kimia yang sering menimbulkan efek samping. Inisiatif ini lahir dari mahasiswa Fakultas Peternakan UMM yang paham betul kondisi lapangan. Sebelum program dijalankan, tim PMM melakukan survei ke kandang-kandang ternak milik warga di Dusun Bonsari, Desa Betak, Kecamatan Kalidawir, Tulungagung. Survei tersebut menemukan dua masalah utama: bau kandang yang menyengat dan penyakit gudik yang kerap menyerang hewan.“Kami ingin memberikan solusi yang murah, mudah dibuat, tapi tetap efektif,” ujar salah satu anggota tim PMM.

Gambar produk disinfektan alami
zoom-in-whitePerbesar
Gambar produk disinfektan alami

Sosialisasi pembuatan disinfektan alami ini digelar di rumah Kepala Dusun Bonsari. Warga yang hadir tampak antusias mengikuti setiap penjelasan. Mereka tak hanya mendengar, tapi juga ikut mempraktikkan cara membuat disinfektan berbahan sirih dan sereh.

Para mahasiswa menjelaskan bahwa kedua tanaman ini mengandung senyawa alami yang mampu mengurangi bau, mencegah penyakit kulit pada ternak, sekaligus aman jika terhirup atau mengenai kulit hewan. “Selama ini warga terbiasa memakai disinfektan kimia, padahal ada bahan alami di sekitar kita yang tidak kalah manjur,” tambah anggota tim.

gambar sosialisasi bersama warga dusun Bonsari, Betak pembuatan disinfektan alami

Program ini tak lepas dari kendala. Penyesuaian jadwal dengan kesibukan peternak menjadi tantangan tersendiri. Banyak warga yang sibuk mengurus ternak sejak pagi hingga malam, sehingga mahasiswa harus fleksibel menentukan waktu sosialisasi dan pemantauan.

Selain itu, tahap evaluasi pasca-penyemprotan juga terbatas karena waktu warga yang sempit untuk menerima kunjungan rutin. Meski begitu, tim PMM tetap berusaha melakukan monitoring untuk memastikan efektivitas produk.

gambar monitoring kandang setelah penyemprotan disinfektan

Beberapa hari setelah penggunaan, hasilnya cukup menggembirakan. Bau kandang berkurang signifikan dan tanda-tanda penyakit kulit pada ternak mulai menurun. Para peternak mengaku senang karena bisa mendapatkan solusi yang aman, murah, dan bisa dibuat sendiri di rumah.

“Kalau bisa dibuat sendiri dari bahan yang ada di kebun, kenapa harus beli yang mahal,” ujar salah satu warga sambil tersenyum puas.

Harapan Jadi UMKM Desa

Lebih dari sekadar solusi kesehatan ternak, mahasiswa UMM berharap program ini bisa berkembang menjadi usaha baru warga Desa Betak. Dengan pengelolaan yang tepat, disinfektan alami ini berpotensi menjadi produk UMKM yang bernilai jual, sehingga membantu perekonomian desa sekaligus menjaga lingkungan.

Kepala Dusun Bonsari mengapresiasi langkah mahasiswa ini. “Kerja sama seperti ini sangat bermanfaat. Kami mendapatkan ilmu, solusi, dan peluang usaha sekaligus,” ujarnya.

Program ini menjadi bukti bahwa kolaborasi kampus dan masyarakat dapat melahirkan inovasi yang tepat guna, memberi manfaat nyata, dan berdampak langsung pada kesejahteraan warga desa. Dari kampus ke kandang, mahasiswa UMM menunjukkan bahwa pengetahuan yang dibawa dari ruang kuliah bisa benar-benar mengubah kehidupan masyarakat.