Korban Bullying Bersuara: Tak Ada kah yang Serius dari Luka Kami?

Mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Putri Nabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Maraknya berita terkait bullying atau juga yang kita kenal sebagai perundungan, membuat saya akan selalu dan terus bertanya. Apa yang sebenarnya para pelaku cari dari korban selain memenuhi hasrat kepuasan?

Sedangkan yang didapat oleh korban sudah jelas. Trauma psikis, luka fisik, rasa malu dan pedih yang terasa, bahkan keinginan mengakhiri hidupnya. Dampak yang dirasakan korban tentu berlarut-larut. Bukan hal yang pantas untuk disepelekan. Tapi, kebanyakan pelaku bullying selalu lolos. Cenderung tidak peduli akan apa yang korban rasakan.
begitu juga dengan konsekuensinya, pelaku bullying rata-rata hanya mendapat teguran klasik berupa, “jangan seperti itu lagi, jangan diulangi lagi.” Disertai ancaman lain yang bahkan tidak sepadan dengan apa yang didapat korban.
Saya, selaku korban bullying, merasa sangat tidak adil akan hal ini. Di saat korban bullying benar-benar merasakan luka luar dan dalam, tetapi pelaku masih dapat mengulang kembali perbuatan yang dapat merugikan korban.
Sejenak saya berpikir, sistem sosial kita masih sangat longgar dan cenderung menutup mata dan telinga. Menganggap bahwa bullying di lingkungan sekolah mau pun di lingkungan rumah merupakan hal biasa dan sebatas 'candaan'. Jika begitu, jelas-jelas ada kesalahan besar dalam cara kita memandang masalah ini.
Korban tidak membutuhkan kata-kata sebagai hiburan. Tapi korban membutuhkan aksi dan perlindunngan yang nyata. Selama para pelaku bullying tidak menerima konsekuensi yang serius, korban tetap merasa tidak adanya ruang aman.
Perubahan seharusnya bisa dimulai secara kolektif. Lingkungan sekitar seperti sekolah, keluarga, teman, bahkan masyarakat harus berhenti menormalisasi bullying dalam bentuk dan alasan apa pun. Karena bullying bukan sekadar kelakuan ‘iseng’, melainkan sebagai salah satu bentuk kekrasan yang nyata akibatnya.
