Manusia dan Halaman-Halaman Waktu

Mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Putri Nabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manusia dengan keseragaman segala aspeknya. Dari sifat, kebiasaan, hingga pada kisah hidup. Tuhan Maha Kreatif, merancang berbagai ciri khas pada setiap ciptaan-Nya. Tertata rapi di benak setiap manusia, tentang bagaimana ia mengelola semua yang telah dirancang Sang Pencipta di dalam hidupnya. Misalnya, seperti kisah. Sebagian ada yang terang, sebagian lainnya ada yang redup.
Kita semua tahu, sejak lahir, manusia tidak bisa memilih kisah hidup seperti apa yang akan ia jalani. Garis takdir telah ditentukan oleh Tuhan. Tugas kita hanyalah jalani, nikmati, dan syukuri. Kita tumbuh, terluka, belajar, lalu perlahan-lahan menua. Dan seiring berjalannya waktu, ada beberapa bagian yang akan lapuk: keyakinan yang tadinya sangat kuat, maka kian hari kian goyah. Hingga berbagai harapan yang dulu terang benderang, kini menjadi gelap gulita.
Manusia dengan keseragaman segala aspeknya, terkadang hanya ingin dikenali mengenai kerentanannya, bukan hanya keistimewaan yang ada.
Pada akhirnya, manusia hanya ingin dimengerti. Layaknya buku yang menua di rak yang sunyi: lembarannya yang semakin rapuh dan menguning, meninggalkan debu di sela-sela kenangan. Layaknya buku yang tak lagi indah, tetap menyimpan isi yang bernilai. Manusia sama halnya dengan buku tua. Mereka ingin dihargai, dikenang dengan lembut, dan dimaknai dengan perhatian.
Manusia bukan hanya kisah yang dijalani, tapi juga cara ia dipahami. Dibalik keseragaman, ada begitu banyak kerentanan yang layak untuk dimengerti.
