Konten dari Pengguna

Tewasnya Pimpinan Kartel El Mencho dan Pelajaran untuk Perang Melawan Narkoba

Septyanto Galan Prakoso

Septyanto Galan Prakoso

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Septyanto Galan Prakoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Para pekerja berdiri di samping puing-puing trailer yang digunakan untuk memblokir jalan raya setelah serangkaian blokade dan serangan oleh kejahatan terorganisir menyusul operasi militer di mana bos kartel Nemesio Oseguera, "El Mencho," tewas. Foto: REUTERS/Ivan Arias
zoom-in-whitePerbesar
Para pekerja berdiri di samping puing-puing trailer yang digunakan untuk memblokir jalan raya setelah serangkaian blokade dan serangan oleh kejahatan terorganisir menyusul operasi militer di mana bos kartel Nemesio Oseguera, "El Mencho," tewas. Foto: REUTERS/Ivan Arias

Upaya pemerintah Meksiko memberantas kartel narkoba kembali menjadi sorotan setelah tewasnya Nemesio Oseguera Cervantes alias Nemesio Oseguera Cervantes dalam operasi militer pada 22 Februari 2026. Pemimpin Cártel de Jalisco Nueva Generación (CJNG) itu selama bertahun-tahun masuk daftar buronan utama otoritas Meksiko dan Amerika Serikat.

Menurut laporan Al Jazeera (22/2/2026), operasi di Tapalpa, negara bagian Jalisco, melibatkan militer, Garda Nasional, serta dukungan intelijen dari Amerika Serikat. Sedikitnya tujuh anggota CJNG tewas dan sejumlah lainnya ditangkap. Namun, pascaoperasi, bentrokan dan pembakaran kendaraan dilaporkan terjadi di beberapa titik—menunjukkan kapasitas kartel yang masih kuat.

Ilustrasi bendera Mexico. Foto: Chantel/Unsplash

Perang Melawan Narkoba yang Tiada Akhir

Sejak Presiden Felipe Calderón meluncurkan perang besar melawan kartel pada 2006, Meksiko dilanda gelombang kekerasan berkepanjangan. Data resmi pemerintah Meksiko menunjukkan lebih dari 350.000 kematian terkait kekerasan kriminal sejak 2006, sementara puluhan ribu orang dilaporkan hilang. Laporan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) mencatat bahwa Meksiko secara konsisten berada di antara negara dengan tingkat pembunuhan tertinggi di kawasan Amerika Latin dalam satu dekade terakhir. Pada 2023–2024, angka pembunuhan tahunan masih berada di kisaran lebih dari 25.000 kasus.

Pengalaman sebelumnya—misalnya setelah penangkapan Joaquín Guzmán alias El Chapo—menunjukkan bahwa kejatuhan satu figur sentral sering memicu fragmentasi dan perebutan wilayah antarfaksi. Fenomena ini kerap disebut efek “hydra”: satu kepala dipotong, beberapa kepala baru muncul.

Salah satu sudut kota Guadalajara, negara bagian Jalisco, Meksiko. Foto: Roman Lopez/Unsplash

CJNG yang berbasis di Guadalajara, kota terbesar di negara bagian Jalisco, oleh United States Drug Enforcement Administration (DEA) disebut sebagai salah satu organisasi kriminal paling kuat dan agresif, terutama dalam penyelundupan fentanyl dan metamfetamin ke Amerika Serikat. Artinya, dampak operasi terhadap El Mencho juga memiliki implikasi regional. Keberhasilan Meksiko ini juga berlandaskan pada tiga pilar utama: operasi militer intensif terhadap pimpinan kartel; kerja sama intelijen lintas negara, khususnya dengan Amerika Serikat; serta pengerahan Garda Nasional untuk memperkuat kontrol keamanan domestik.

Namun, sejumlah studi akademik dan laporan lembaga internasional menunjukkan bahwa militerisasi tanpa reformasi institusional sering kali hanya memindahkan pusat kekuasaan kartel, bukan menghapusnya. Korupsi lokal, lemahnya sistem peradilan, serta tingginya permintaan narkoba global tetap menjadi faktor struktural yang memperkuat jaringan kriminal.

Ilustrasi ganja. Foto: Ndispensable/Unsplash

Pembelajaran bagi Indonesia: Kasus Suap Aparat

Di Indonesia, pemberantasan narkoba juga menghadapi tantangan serupa. Laporan Antara (2026) mengungkap bahwa seorang bandar narkotika resmi menjadi tersangka dalam kasus dugaan penyuapan terhadap eks Kapolres Bima, Nusa Tenggara Barat. Jumlah suap yang diberikan pun terbilang tidak sedikit, yakni 2,8 Miliar Rupiah. Kasus ini kembali menyoroti persoalan integritas aparat penegak hukum dalam perang melawan narkoba. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi pasar signifikan bagi jaringan narkotika internasional, dengan jutaan pengguna tercatat dalam survei nasional beberapa tahun terakhir. Sementara itu, laporan UNODC menempatkan Asia Tenggara sebagai salah satu pusat produksi metamfetamin terbesar di dunia. Kasus suap aparat di Indonesia memperlihatkan bahwa tanpa tata kelola yang bersih, keberhasilan penangkapan bandar besar berisiko tidak berkelanjutan. Jaringan dapat terus beroperasi melalui celah korupsi dan kelemahan sistem hukum.

Kadivhumas Polri, Irjen Johnny Eddizon Isir saat menyampaikan kasus narkotika yang menjerat eks Kapolres Bima, AKBP Didik Putra Kuncoro di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta, Minggu (15/2/2026). Foto: Ryan Iqbal/Kumparan

Dari pengalaman Meksiko, terdapat sejumlah pelajaran penting bagi Indonesia. Pertama, penindakan terhadap bandar besar memang penting untuk memberi efek jera dan mengganggu struktur komando; akan tetapi, pendekatan ini harus diimbangi dengan penguatan lembaga peradilan dan pengawasan internal aparat. Kedua, kerja sama internasional menjadi keharusan, mengingat perdagangan narkotika modern pasti bersifat transnasional dengan memanfaatkan jalur laut dan keuangan global. Ketiga, strategi keamanan perlu diseimbangkan dengan pendekatan pencegahan dan rehabilitasi—tanpa pengurangan permintaan, suplai akan terus mencari jalannya. Keempat, pemberantasan korupsi menjadi fondasi utama; semangat anti-suap dan integritas institusi terkait harus menjadi fokus utama.

Tewasnya El Mencho merupakan tonggak penting bagi pemerintah Meksiko. Namun, data dua dekade terakhir menunjukkan bahwa perang narkoba adalah proses panjang dan kompleks. Bagi Indonesia, pengalaman tersebut menegaskan satu hal: kemenangan di medan operasi harus diikuti reformasi struktural yang konsisten. Tanpa itu, siklus regenerasi jaringan dan potensi kekerasan akan terus berulang—baik di Meksiko maupun di bumi pertiwi.