Buzz
·
12 Juli 2021 14:56
·
waktu baca 5 menit

Berderma Karena Alasan 'People Pleaser' ataukah Altruis?

Konten ini diproduksi oleh Kelik Novidwyanto Wibowo
Berderma Karena Alasan 'People Pleaser' ataukah Altruis? (1042820)
searchPerbesar
Motif seseorang berderma bisa jadi murni 'membantu' (altruis), tapi bisa juga pamrih untuk dirinya sendiri. Foto: Pixabay
Di tengah badai pandemi COVID-19 seperti saat ini, kita menyaksikan tumbuhnya berbagai aksi kemanusiaan di tanah air. Tak kurang dari para selebritis, komunitas keagamaan, sampai komunitas masyarakat tingkat RT rutin berderma meringankan beban sesama.
ADVERTISEMENT
Bahkan Indonesia dikukuhkan sebagai negara paling dermawan di dunia versi World Giving Index (WGI) 2021. Indonesia menempati 2 peringkat teratas dari 3 kategori atau indikator, yaitu menyumbang pada orang asing/tidak dikenal, menyumbang uang, dan kegiatan kerelawanan (volunteer). Menurut studi CAF (Charities Aid Foundation), 8 dari 10 orang Indonesia menyumbangkan uang pada tahun ini. Tingkat kerelawanan di Indonesia tiga kali lipat lebih besar dari rata-rata tingkat kerelawanan dunia.
Tingginya tingkat kedermawanan masyarakat Indonesia ini tentu dipengaruhi oleh kuatnya doktrin keagamaan, nilai-nilai budaya yang dianut, serta kecenderungan bonus demografi yang bercirikan kesadaran kolektif anak-anak muda.
Sayangnya prestasi itu bukan tanpa cacat. Kebanyakan masyarakat masih berpikir sporadis dan jangka pendek. Aksi-aksi filantropis acapkali didorong oleh keinginan nampak “dermawan”, tidak enak kalau tidak nyumbang (people pleaser), dibandingkan kesadaran untuk bersikap 'altruis'. Hal itu ditunjukkan dari kecenderungan masyarakat menyumbang langsung ke individu dibanding melalui organisasi sosial. Donasi untuk kegiatan keagamaan, penyantunan dan pelayanan sosial juga masih dominan dibanding program-program yang sifatnya jangka panjang, seperti pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian lingkungan.
ADVERTISEMENT
Berkenalan dengan ‘People Pleaser’
Merujuk laman Psychology Today, istilah ‘people pleasing’ adalah kebiasaan seseorang untuk terus-menerus menyenangkan orang lain apapun caranya. Sedang seseorang yang selalu berusaha untuk menyenangkan orang-orang di sekitarnya dan memiliki kecenderungan untuk melakukan apapun agar orang-orang di sekitarnya tidak kecewa disebut ‘people pleaser’. Bagi kaum hawa, sifat ini lazim disebut good girl syndrome.
Alasan atau penyebab utama seseorang menjadi people pleaser adalah keinginan untuk mendapatkan pengakuan dan menghindari konflik. Namun disinyalir orang-orang yang insecure dan memiliki trauma masa lalu, seperti pelecehan seksual atau broken home, cenderung tumbuh menjadi people pleaser.
Leon F Seltzer, psikolog di Evolution of the Self menyebut akar dari sikap people pleaser adalah dari lingkungan keluarga. Biasanya orang tua menuntut agar anak-anak mereka menjadi orang yang baik, dan selalu dapat menjadi kebanggaan. Orang tua yang selalu menginginkan agar anaknya terlihat kuat dan dapat selalu menjadi contoh, tanpa melihat adanya kebutuhan anak untuk dikasihi dan menjadi diri sendiri.
ADVERTISEMENT
Lantas apakah sikap people pleaser ini berdampak negatif? Menurut terapis di Bend, Oregon, Erika Myers, dorongan untuk menyenangkan orang lain dapat merusak diri kita sendiri dan berpotensi pada hubungan kita ketika kita membiarkan keinginan orang lain menjadi lebih penting daripada kebutuhan kita sendiri.
Beberapa ciri umum seorang people pleaser bisa berupa: merendahkan diri sendiri agar mendapat persetujuan orang lain, khawatir terhadap penolakan orang lain, sulit mengatakan “tidak”, meminta maaf padahal tidak salah, cepat menyetujui keputusan orang lain, selalu menghindari konflik, tidak punya waktu untuk diri sendiri, serta suka memberi (bersikap dermawan) dengan tujuan disukai.
People Pleaser vs Altruisme
Alih-alih mengharapkan penilaian baik dari orang lain seperti biasa dilakukan seorang ‘people pleaser’, seorang altruis cenderung memberikan sesuatu yang dimilikinya dengan tujuan mementingkan kebutuhan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.
ADVERTISEMENT
Altruisme adalah kata lain dari empati, istilah ini pertama kali dicetuskan filsuf Prancis Auguste Comte (1798-1857). Menurut Auguste Comte altruisme berasal dari bahasa Perancis, autrui yang artinya orang lain. Comte memercayai bahwa individu-individu mempunyai kewajiban moral untuk berkidmat bagi kepentingan orang lain atau kebaikan manusia yang lebih besar.
Merujuk Very Well Mind, seorang yang memiliki perilaku altruisme murni menolong orang lain karena keinginan untuk membantu. Bukan karena merasa berkewajiban, doktrin agama, atau alasan-alasan tertentu. Bahkan altruisme dikenal sebagai perilaku yang dilakukan tanpa pamrih atau tanpa mengharapkan imbalan tertentu.
Altruisme sejatinya merupakan keadaan pikiran yang baik hati dan didorong oleh perasaan prihatin terhadap orang lain. Kepedulian yang dimiliki untuk mensejahterakan orang lain. Namun dalam beberapa kasus, perilaku ini dapat membahayakan kesejahteraan dan kesehatan diri sendiri. Intinya, apapun yang berlebihan pasti tidak akan memberikan dampak yang baik bagi diri kita.
ADVERTISEMENT
Sejatinya kita pasti memiliki sepotong altruisme di dalam diri. Seperti kala membukakan pintu untuk orang lain, mempersilakan tempat duduk bagi orang tua di angkutan umum, atau sekedar memberikan uang pada pengemis di pinggir jalan. Saat menolong orang lain tanpa berpikir mengenai imbalan atau bahkan kondisi sendiri, itu menandakan kita tengah melakukan tindakan altruistik.
Lantas apa saja yang memicu seseorang menjadi altruis? Merujuk laman satupersen.net, setidaknya ada 3 (tiga) alasan seseorang mengutamakan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.
Pertama, ‘respon otak’. Ketika menolong orang lain, otak kita akan memberikan respon yang membuat kita merasa bahagia, karena perilaku ini sangat mempengaruhi afeksi kita. Area otak yang aktif ketika menolong orang lain adalah amigdala dan korteks prefrontal. Area yang bertanggung jawab untuk mengatur emosi manusia. Saat seseorang melakukan kebaikan, bagian otak ini memunculkan perasaan euforia atau helper’s high dan mengaktifkan pusat reward di otak. Ahli neurobiologi juga menemukan bahwa ketika seseorang berperilaku altruisme akan membuat pusat kesenangan di otak menjadi aktif. Respon otak ini membuat mereka merasa bahagia hingga “ketagihan” ketika membantu orang lain.
ADVERTISEMENT
Kedua, lingkungan. Studi yang dilakukan Stanford University menunjukkan bahwa interaksi dan hubungan dengan orang lain memiliki pengaruh yang besar pada perilaku altruisme. Lingkungan sosial memiliki pengaruh yang besar pada perilaku altruisme pada anak-anak. Anak-anak akan mengamati tindakan menolong dan menirunya. Meniru perilaku altruisme dapat mendorong seseorang melakukan hal serupa terlebih anak-anak ibarat spon yang gampang meniru perilaku orang lain.
Ketiga, ‘norma sosial’. Norma, aturan, dan ekspektasi masyarakat sekitar menjadi alasan seseorang tumbuh menjadi altruis. Manusia akan cenderung merasa tidak enak, atau merasa “harus” membantu orang lain jika orang tersebut sudah melakukan sesuatu untuknya, ini merupakan contoh dari norma timbal balik. Perasaan ini yang ternyata dapat memunculkan keinginan untuk menolong orang lain. Namun perlu disadari juga bahwa altruisme merupakan perilaku yang dilakukan tanpa pamrih atau tanpa mengharapkan sesuatu, bukan karena adanya perasaan tidak enak.
ADVERTISEMENT
Jika merujuk pada ciri utama altruisme: “membantu tanpa pamrih”, maka sikap altruis memiliki irisan yang sama dengan sikap ‘people pleaser’, yaitu membantu orang lain. Bedanya, seorang altruis membantu orang lain tanpa pamrih, tanpa tuntutan dari siapa pun. Sementara seorang people pleaser membatu orang lain berlandaskan pamrih. Karena merasa tidak enak, takut dijauhi, takut tidak disukai, menginginkan pengakuan yang pada ujungnya malah menimbulkan perasaan tidak nyaman.
Meneliti Kembali Derma Kita
Perbuatan membantu orang lain alias bersikap dermawan sejatinya perbuatan mulia. Tidak ada yang salah ketika membantu orang lain atau berbuat baik kepada orang-orang di sekitar kita. Namun kita harus tetap memperhatikan diri sendiri, jangan sampai niat baik itu malah menjadi tidak baik bagi diri kita sendiri.
ADVERTISEMENT
Sementara membantu dengan hanya berlandaskan pamrih tentu bukan perilaku yang benar-benar baik. Pada kasus people pleaser, perbuatan menolong orang lain yang seharusnya memberikan rasa nyaman, bahagia, malah membuat munculnya perasaan tidak berdaya bahkan dapat mempengaruhi kesehatan mental.
Ada baiknya kita meneliti kembali apakah perbuatan membantu orang lain (berderma) yang kita lakukan benar-benar berdasarkan motif yang murni 'membantu' atau sekedar pamrih. Apakah kita membantu hanya agar ‘podo karo liyane’ (sama dengan yang lain) sehingga tidak memunculkan outcame bagi orang yang kita bantu. Bisa jadi kita malah menciptakan ketergantungan dan sikap manja.
Kadangkala kita asyik memberikan ‘ikan’ tanpa memperhatikan bahwa orang yang kita bantu sejatinya membutuhkan ‘kail’ untuk menjadi mandiri. Kita terlena oleh doktrin membantu orang lain sebagai perbuatan baik, sampai-sampai lupa bahwa kita bisa terperosok dalam perbuatan sia-sia. Realitanya kita memang lebih fokus pada bantuan yang bersifat keagamaan, penyantunan dan pelayanan sosial dibanding program-program yang bersifat sustainable seperti pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian lingkungan.
ADVERTISEMENT