Di Balik Gunungan Sampah TPA Sumur Batu, Warga Dibayangi Ancaman Longsor & Lindi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Kota Bekasi menghadapi persoalan pengelolaan sampah yang semakin mendesak. Timbunan sampah yang terus bertambah setiap hari membuat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu menjadi salah satu titik penting dalam persoalan persampahan di kota dengan penduduk lebih dari 2,5 juta jiwa tersebut.

Kondisi ini semakin serius setelah Kota Bekasi ditetapkan sebagai salah satu dari 336 kota/kabupaten yang berstatus darurat sampah berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup pada 13 Oktober 2025.

Data menunjukkan produksi sampah di Kota Bekasi mencapai sekitar 1.800 hingga 2.000 ton per hari. Dengan jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa, setiap warga diperkirakan menghasilkan 0,5 hingga 0,7 kilogram sampah setiap harinya.

Warga mengendarai motor melintas disamping truk pembawa sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Sebagian besar sampah tersebut kemudian dibawa ke TPA Sumur Batu. Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar 1.800 ton sampah masuk ke kawasan TPA setiap hari, sementara kemampuan penanganannya berada di kisaran 1.200 ton per hari.

Kondisi ini menyisakan selisih sekitar 600 ton sampah per hari yang perlu ditangani dan berpotensi menambah timbunan di kawasan TPA.

Timbunan sampah tersebut kemudian membentuk gunungan dengan ketinggian sekitar 20 hingga 25 meter. Ketinggian ini disebut telah melampaui ambang teknis yang berada di kisaran 10 hingga 15 meter. Di sejumlah area, sampah juga masih ditangani dengan sistem penimbunan terbuka atau open dumping.

Bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan TPA, persoalan tersebut bukan sekadar angka dalam laporan pengelolaan sampah. Gunungan sampah berada begitu dekat dengan permukiman dan menghadirkan berbagai kekhawatiran, mulai dari bau menyengat hingga potensi longsor saat hujan.

Hidup di Bawah Bayang-bayang Longsor dan Bau Menyengat

Aktivitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Bagi warga yang tinggal tepat di kaki tumpukan sampah, angka statistik tonase tersebut bukan sekadar data di atas kertas, melainkan ancaman fisik harian.

“Kekhawatiran juga lebih banyak. Gitu, apalagi udah tinggi buangannya, Yang paling bikin khawatir itu longsor. Nah, terus baunya emang menyengat karena udah posisinya tinggi gitu ya, kita kan posisi jadi di bawah. Itu memang hawa [bau] sampahnya ya kecium banget,” tutur Madi (61), seorang pemulung yang telah menggantungkan hidupnya di kawasan TPA Sumur Batu sejak 2005 kepada kumparan.

Warga berjalan di atas tumpukan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bekasi. Foto: Dok. Istimewa

Ketakutan fisik dan ancaman banjir genangan turut disuarakan oleh Ntin (58), seorang pedagang warung kecil di sekitar kawasan TPA.

“Iya emang. Ya ada baunya, takut longsornya kalau hujan, saya ngerinya. Pernah kan jadi banjir. Masuk ke rumah-rumah. Tapi sekarang udah diperbaiki salurannya, bener gitu ya, alhamdulillah,” tutur Ntin saat menceritakan perbaikan saluran air di pemukiman mereka.

Ancaman Tak Kasat Mata: Air Lindi dan Degradasi Sumber Air Warga

Aktivitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Di balik menjulangnya bukit sampah, ancaman lain mengintai dari bawah permukaan tanah: air lindi (leachate). Air hujan yang merembes masuk ke tumpukan sampah dapat membawa berbagai zat yang terkandung dalam sampah dan berpotensi mencemari tanah maupun air tanah apabila tidak dikelola dengan baik.

Dampak yang dikhawatirkan warga terlihat dari perubahan kualitas air sumur bor. Madi menceritakan bagaimana air di tempat tinggalnya berubah rasa secara drastis.

“Dulu kita pertama ke sini 2007 nih ke tempat ini masih bisa dimasak, bisa diminum. Kalau sekarang pahit, makanya kita ganti ke galon. Kalau air kayaknya tercemarnya cuma itu aja. Kalau warna nggak sih, warna masih bersih,” ungkap Madi.

instagram embed

Pengalaman serupa dibagikan Odeh (54), seorang warga pemukiman sekitar TPA Sumur Batu. Ia mendapati air sumur di rumahnya berubah karakteristik fisik hingga berminyak.

“[Air sumurnya] pernah kayak berminyak gitu, enggak bening gitu airnya. Nggak bisa kalau buat masak. Jadi kita pakai air galon masaknya tuh,” ujar Odeh.

Sementara itu, Ntin menyiasati penggunaan air sumur bor di dekat rumahnya secara terbatas, khusus untuk mencuci dan mandi. “Kalau saya kalau air kan ngebor ya, cuma buat nyuci, buat mandi. Kalau air minum dan dimasak mah air galon isi ulang,” ungkapnya.

Ancaman Nyata di Balik Timbunan Sampah

Aktivitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menanggapi kondisi TPA Sumur Batu, Environment and Social Consultant, Nurul Fadhiya Hidayatunnisa, menegaskan bahwa kawasan TPA dengan kondisi sampah yang sudah overload memiliki berbagai risiko terhadap masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

“Jika melihat kondisi lingkungan yang sehat untuk mendukung masyarakat agar dapat hidup sehat, kondisi TPA tidak memenuhi persyaratan karena selain adanya kemungkinan penyebaran penyakit yang dibawa oleh vektor seperti tikus dan lalat, bau yang muncul disebabkan oleh proses natural decomposing limbah, lalu ada air lindi yang tidak terkelola dapat mencemari tanah dan air tanah, dan gas yang terbentuk dari proses dekompos anaerob,” jelas Nurul dihubungi kumparan secara terpisah.

Lebih lanjut, Nurul menguraikan akumulasi limbah terbuka tersebut menjadi sarang ideal bagi ledakan populasi vektor penyakit. Lalat berperan sebagai pembawa pasif mikroorganisme, sementara tikus membawa risiko penularan bakteri Leptospira.

“Lalat dapat mencemari makanan dan peralatan makan, sedangkan tikus meningkatkan risiko leptospirosis, khususnya pada musim hujan dan banjir,” ungkapnya.

Warga berjalan di atas tumpukan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bekasi. Foto: Dok. Istimewa

Terkait keluhan warga mengenai bau menyengat, Nurul menjelaskan bahwa sumber bau bukan berasal dari gas metana karena sifatnya yang tidak berbau, melainkan dari senyawa sulfur, hidrogen sulfida, dan amonia hasil penguraian sampah.

“Bau pekat dari TPA terutama berasal dari hidrogen sulfida, amonia, merkaptan atau senyawa sulfur, serta berbagai senyawa organik volatil yang terbentuk selama proses penguraian sampah... Mual dan muntah dapat dipicu langsung oleh bau yang sangat menyengat,” papar Nurul.

Selain itu, Nurul juga menyoroti ancaman air lindi (leachate) yang dapat meresap ke tanah dan berpotensi memengaruhi kualitas air tanah.

Aktivitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menurut dia, perubahan karakteristik air seperti rasa yang menjadi pahit atau kondisi air yang tampak berminyak perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan laboratorium.

“Lindi memang terbentuk ketika cairan bersentuhan dengan sampah dan melarutkan berbagai unsur yang terkandung di dalamnya...Perubahan tersebut merupakan tanda peringatan yang harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan laboratorium,” papar dia.

“Air yang terlihat jernih dan tidak berbau juga belum tentu aman karena sebagian kontaminan berbahaya tidak dapat dikenali dengan pancaindra,” tegasnya.

Dengan produksi mencapai 1.800 hingga 2.000 ton per hari, sampah yang berasal dari permukiman di Kota Bekasi harus ditangani agar tidak terus menambah timbunan di TPA Sumur Batu.

Di tengah status darurat sampah yang disandang Kota Bekasi, persoalan di Sumur Batu bukan sekadar soal kapasitas menampung sampah, tetapi juga menyangkut keselamatan warga dan kualitas lingkungan di sekitarnya