DTIIF 2026 Sukses Digelar: Pertemukan 3.000 Peserta, Hasilkan Kemitraan Strategis Industri Nasional

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah menteri kabinet berfoto bersama jajaran Board of Directors Danantara Indonesia pada acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont Jakarta. Foto: Danantara Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah menteri kabinet berfoto bersama jajaran Board of Directors Danantara Indonesia pada acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont Jakarta. Foto: Danantara Indonesia

Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 sukses digelar dengan mempertemukan lebih dari 3.000 peserta serta 274 pembicara dan moderator dari berbagai sektor.

Forum selama tiga hari yang melibatkan pemerintah, perusahaan, perguruan tinggi, lembaga riset, penyedia teknologi, dan ekosistem badan usaha milik negara (BUMN) ini menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis untuk mendorong pemanfaatan hasil riset, pengembangan teknologi, dan investasi bagi industri nasional.

Kolaborasi yang terbangun mencakup sejumlah bidang, mulai dari kesehatan, energi terbarukan, infrastruktur digital, hingga kendaraan listrik. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan industri dengan hasil riset dan inovasi, sehingga memiliki peluang lebih besar untuk diterapkan dan dikembangkan secara komersial.

Chief Technology Officer Danantara Indonesia sekaligus Ketua DTIIF 2026 Sigit Puji Santosa mengatakan penandatanganan kerja sama merupakan langkah awal untuk membangun kolaborasi yang berdampak bagi industri nasional.

Chief Technology Officer Danantara Indonesia sekaligus Ketua DTIIF 2026 Sigit Puji Santosa menjawab pertanyaan media pada sesi doorstop di sela-sela acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026. Foto: Danantara Indonesia

Ia juga mengaitkan semangat kolaborasi tersebut dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda yang bertepatan dengan hari penutupan DTIIF 2026 di Fairmont Jakarta pada Rabu (28/10).

“Pada 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang berkumpul dengan semangat dan cita-cita bersama untuk membangun masa depan Indonesia. Hampir satu abad kemudian, semangat persatuan, kolaborasi, dan tekad tersebut tetap relevan,” jelas Sigit dalam sambutannya pada penutupan DTIIF 2026

“Untuk itu, Danantara Indonesia ingin meneruskan semangat Sumpah Pemuda dengan mempertemukan berbagai gagasan, keahlian, dan sumber daya untuk bersama-sama mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih maju,” imbuh Sigit.

Pertemukan Riset dengan Kebutuhan Industri

Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 Foto: Danantara Indonesia

Salah satu fokus DTIIF 2026 adalah memperkuat hubungan antara riset, pengembangan talenta, kebutuhan industri, pendanaan, dan investasi.

Hal ini diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Danantara Indonesia, Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Perindustrian, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Salah satu bentuk kerja sama yang terjalin pada Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026. Foto: Danantara Indonesia

Kerja sama tersebut diarahkan untuk mempercepat pemanfaatan dan hilirisasi hasil riset, memperkuat kemampuan teknologi industri, serta meningkatkan daya saing nasional.

Danantara Indonesia juga menjalin MoU dengan BRIN dan 32 perguruan tinggi untuk membangun platform kemitraan riset, akademik, dan industri. Melalui kolaborasi ini, hasil penelitian dari perguruan tinggi dan lembaga riset diharapkan dapat menjawab kebutuhan dunia usaha sekaligus membuka peluang pengembangan produk dan teknologi.

Di sektor kesehatan, Danantara Development Management Fund (DDMF) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), Indofarma, dan PT EBM Saintifik dan Teknologi sepakat mengembangkan fitofarmaka berbasis kratom. Kerja sama ini membuka peluang komersialisasi hasil riset di bidang kesehatan.

DDMF juga menjajaki kolaborasi dengan Thermo Fisher Scientific dalam pengembangan teknologi ilmu hayati untuk memperkuat kapabilitas riset dan industri kesehatan nasional.

Kolaborasi Energi dan Teknologi untuk Industri Masa Depan

Sejumlah menteri kabinet berfoto bersama jajaran Board of Directors Danantara Indonesia pada acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont Jakarta. Foto: Danantara Indonesia

Selain riset, sejumlah kesepakatan yang diumumkan dalam DTIIF 2026 menyasar kebutuhan infrastruktur dan pengembangan industri masa depan.

Di sektor infrastruktur digital, Telkom Indonesia dan PLN bekerja sama menyelaraskan rencana pengembangan pusat data atau data center dengan kesiapan pasokan listrik. Sinkronisasi ini diperlukan agar pertumbuhan kapasitas pusat data dapat diimbangi ketersediaan energi yang memadai.

Sementara itu, LEN, PLN, dan Pertamina Patra Niaga memperkuat kolaborasi untuk mendukung ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas). Kerja sama ini mencakup aspek infrastruktur, energi, hingga penerapan kendaraan listrik.

Pada sektor energi terbarukan, Pertamina New & Renewable Energy dan Agrinas Palma menandatangani Heads of Agreement untuk rencana pembangunan dan pengoperasian fasilitas produksi biodiesel atau fatty acid methyl ester (FAME) di Indragiri Hilir, Riau.

Rencana kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas hilir bahan bakar nabati dan mendukung ketahanan energi nasional.

Kolaborasi lain juga mencakup industri maritim dan baja, keamanan siber, post-quantum cryptography, bioteknologi, serta robotika. Ragam kemitraan ini memperlihatkan peluang penerapan teknologi yang melibatkan berbagai sektor industri.

Enam Sektor Strategis

Chief Technology Officer Danantara Indonesia sekaligus Ketua DTIIF 2026 Sigit Puji Santosa mengunjungi booth Pertamina Patra Niaga di acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026. Foto: Danantara Indonesia

Selama tiga hari, DTIIF 2026 menghadirkan 274 pembicara dan moderator melalui tujuh sesi Distinguished Lecture, 21 sesi pleno, serta 38 sesi panel dan kegiatan pitching maupun showcase yang mempertemukan BUMN, peneliti muda, dan perusahaan rintisan berbasis teknologi.

Forum ini juga menghadirkan dua peraih Nobel Ekonomi, Peter Howitt dan Thomas J. Sargent, yang membahas pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi serta peran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai akselerator.

Pembahasan dalam forum mencakup enam sektor strategis, yaitu energi; telekomunikasi dan infrastruktur digital; pertanian, pangan, dan kesehatan; material maju dan semikonduktor; keuangan dan perbankan; serta transportasi dan infrastruktur.

Rangkaian kegiatan tersebut dirancang dalam tiga tahap, yakni Imagine, Advance, dan Build. Ketiganya menggambarkan proses mulai dari eksplorasi teknologi masa depan, pengembangan kemampuan teknologi, hingga penerapannya untuk membangun industri yang berkelanjutan.

“Ketiga tahap ini, dari frontier teknologi, kemajuan teknologi, sampai industri yang berkelanjutan, menjadi topik, tujuan, sekaligus fokus kami di Danantara,” ujar Sigit.

Chief Technology Officer Danantara Indonesia sekaligus Ketua DTIIF 2026 Sigit Puji Santosa. Foto: Danantara Indonesia

Setelah forum berakhir, tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai kesepakatan dapat berlanjut ke tahap implementasi.

Danantara Indonesia akan mengawal tindak lanjut kerja sama yang terbangun selama DTIIF 2026 agar peluang kolaborasi dapat diterjemahkan menjadi pengembangan teknologi dan penguatan industri.

Keberlanjutan agenda ini juga akan dibawa ke New Asia Forum (NAF) perdana yang dijadwalkan berlangsung pada 3–4 Desember 2026 di Bali. Forum tersebut akan memperluas agenda kemitraan dan investasi Danantara Indonesia ke tingkat kawasan Asia.

Melalui rangkaian kolaborasi tersebut, DTIIF 2026 menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan riset, teknologi, dan investasi dengan kebutuhan industri.

Keberhasilan kemitraan ini pada akhirnya akan ditentukan oleh sejauh mana kesepakatan yang telah dibangun dapat diwujudkan menjadi solusi dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.