Gaya Hidup Bukan Ukuran Harga Diri

Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas yang tertarik menulis opini.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kelly Wulandari Gea tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era media sosial, penampilan sering kali dijadikan ukuran keberhasilan seseorang. Pakaian bermerek, telepon genggam terbaru, nongkrong di tempat mahal, hingga gaya hidup yang tampak mewah kerap dianggap sebagai simbol kesuksesan. Akibatnya, tidak sedikit orang yang merasa harus terlihat kaya agar dihargai oleh lingkungan sekitarnya.
Fenomena ini juga dapat ditemukan di lingkungan kampus. Sebagian mahasiswa rela mengikuti tren yang sebenarnya berada di luar kemampuan ekonomi keluarganya. Demi terlihat mapan, mereka membeli barang yang mahal, sering berganti pakaian, atau memaksakan diri mengikuti gaya hidup teman-temannya. Padahal, di balik penampilan tersebut, ada orang tua yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya.
Menurut saya, keadaan ekonomi seseorang bukanlah sesuatu yang perlu dipermalukan. Yang menjadi persoalan adalah ketika gengsi membuat seseorang memaksakan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan. Tidak sedikit orang tua yang harus mengurangi kebutuhan rumah tangga, bekerja lebih keras, atau bahkan berutang hanya agar dapat memenuhi permintaan anak yang ingin tampil mewah di hadapan teman-temannya.
Ironisnya, ada pula orang-orang yang justru memiliki kondisi ekonomi yang sangat baik, tetapi tetap memilih hidup sederhana. Mereka tidak merasa perlu memamerkan kekayaan karena memahami bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh harga pakaian, kendaraan, atau barang yang dimilikinya. Kesederhanaan bukan berarti tidak mampu, melainkan bentuk kedewasaan dalam memandang kehidupan.
Perbedaan inilah yang sering kali mengajarkan bahwa penampilan tidak selalu mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Seseorang yang tampil sederhana belum tentu hidup dalam kekurangan, sementara seseorang yang terlihat mewah belum tentu benar-benar berkecukupan. Oleh karena itu, menilai orang hanya dari penampilan merupakan sikap yang kurang bijaksana.
Budaya gengsi juga dapat memberikan tekanan sosial, terutama bagi mahasiswa. Ada yang merasa malu menggunakan barang yang masih layak hanya karena dianggap ketinggalan zaman. Ada pula yang terus meminta uang tambahan kepada orang tua untuk membeli barang yang sebenarnya bukan kebutuhan. Jika kebiasaan ini terus dipelihara, tujuan utama menempuh pendidikan dapat bergeser dari mencari ilmu menjadi mengejar pengakuan.
Padahal, orang tua mengirim anaknya ke perguruan tinggi dengan harapan agar mereka belajar, berkembang, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Pengorbanan orang tua tidak seharusnya dibalas dengan tuntutan gaya hidup yang melebihi kemampuan keluarga. Menghargai jerih payah mereka dapat dimulai dengan hidup sesuai kemampuan dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Kesederhanaan bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru banyak orang yang berhasil dalam hidup tetap memilih hidup sederhana karena memahami bahwa karakter, integritas, dan ilmu pengetahuan jauh lebih berharga daripada penampilan yang hanya bertahan sesaat. Sebaliknya, kemewahan yang dibangun di atas tekanan ekonomi keluarga tidak akan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, nilai seseorang tidak diukur dari merek pakaian yang dikenakan atau tempat yang sering dikunjungi, melainkan dari sikap, tanggung jawab, dan cara menghargai pengorbanan orang tua. Gaya hidup boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai gengsi membuat kita lupa bersyukur dan memaksa keluarga menanggung beban yang seharusnya tidak ada.
