Mahasiswa KKN-T UNNES Olah Alpukat Desa Kebondalem Menjadi Lulur

Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Negeri Semarang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kelvin Lumbangaol tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semarang – Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui program UNNES GIAT 2026 mengembangkan pemanfaatan alpukat menjadi produk lulur di Desa Kebondalem, Kabupaten Semarang. Inovasi tersebut dilakukan sebagai alternatif pengolahan komoditas lokal sekaligus upaya meningkatkan nilai tambah potensi yang dimiliki desa.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan mahasiswa KKN-T UNNES bersama masyarakat Desa Kebondalem. Alpukat dipilih karena menjadi salah satu komoditas yang dapat ditemukan di wilayah tersebut. Selama ini, pemanfaatan alpukat masih didominasi sebagai bahan pangan dan dikonsumsi secara langsung.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan alternatif pemanfaatan alpukat menjadi produk lulur berbahan dasar komoditas lokal. Alpukat terlebih dahulu diolah dan dikeringkan untuk mengurangi kadar air sebelum digunakan sebagai salah satu bahan dalam formulasi lulur.
Dalam proses pembuatannya, alpukat dikombinasikan dengan tepung beras dan sejumlah bahan pendukung lainnya. Tepung beras digunakan sebagai salah satu bahan dasar sekaligus memberikan karakter scrub pada produk. Proses pembuatan dilakukan melalui beberapa tahap, mulai dari persiapan bahan, pengolahan dan penimbangan, pencampuran, hingga pengemasan.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan mahasiswa KKN-T UNNES yang telah membantu masyarakat dalam mengembangkan potensi alpukat yang ada di Desa Kebondalem. Inovasi ini memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat bahwa alpukat tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tetapi juga dapat diolah menjadi produk lain yang memiliki nilai tambah.” ujar Suharni Nur Kolik, Ibu Kepala Desa Kebondalem.
Inovasi pengolahan alpukat menjadi lulur tersebut juga mendukung beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini berkaitan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui upaya pengembangan potensi komoditas lokal yang dapat membuka peluang usaha masyarakat. Selain itu, kegiatan mendukung SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengenalan inovasi pengolahan bahan lokal menjadi produk bernilai tambah.
Kegiatan tersebut juga sejalan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, karena mendorong pemanfaatan komoditas lokal melalui proses pengolahan menjadi produk alternatif. Penerapan ketiga tujuan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengembangan potensi desa berbasis inovasi dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-T UNNES berharap pemanfaatan alpukat tidak hanya terbatas pada produk pangan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk alternatif yang memiliki nilai tambah.
