Konten dari Pengguna

Tak Hanya Diseduh, Kopi Kebondalem Diolah Menjadi Lilin Aromaterapi

Kelvin Lumbangaol

Kelvin Lumbangaol

Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Negeri Semarang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kelvin Lumbangaol tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan inovasi pemanfaatan potensi kopi menjadi lilin aromaterapi bagi masyarakat Desa Kebondalem, Kabupaten Semarang, melalui program KKN Tematik Universitas Negeri Semarang (UNNES) Tahun 2026 sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan mengembangkan potensi ekonomi kreatif desa.
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan inovasi pemanfaatan potensi kopi menjadi lilin aromaterapi bagi masyarakat Desa Kebondalem, Kabupaten Semarang, melalui program KKN Tematik Universitas Negeri Semarang (UNNES) Tahun 2026 sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan mengembangkan potensi ekonomi kreatif desa.

Semarang - Selama ini, aroma kopi di Desa Kebondalem, Kabupaten Semarang, lebih akrab dengan secangkir minuman. Namun, di tangan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES), komoditas tersebut dicoba memiliki wajah baru: lilin aromaterapi.

Inovasi tersebut diperkenalkan kepada masyarakat melalui program UNNES GIAT 2026 sebagai upaya memperluas pemanfaatan kopi sekaligus membuka peluang produk ekonomi kreatif berbasis potensi desa.

Desa Kebondalem memiliki komoditas kopi yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan minuman. Melalui pelatihan yang diberikan mahasiswa, kopi diperkenalkan dalam bentuk produk nonpangan yang memiliki nilai estetika dan berpotensi dikembangkan sebagai produk bernilai jual.

Dalam praktiknya, kopi dipadukan dengan bahan dasar lilin seperti parafin dan beeswax, serta bahan pendukung lainnya. Fragrance oil beraroma kopi digunakan untuk memberikan karakter aroma, sedangkan bubuk dan biji kopi menjadi bagian dari identitas produk.

''Kami sangat mengapresiasi adanya pelatihan ini karena masyarakat mendapatkan pengetahuan baru dalam memanfaatkan potensi kopi. Harapannya, produk ini dapat dikembangkan menjadi salah satu peluang usaha masyarakat,” ujar Suharni Nur Kolik, Ibu Kepala Desa Kebondalem.

Kegiatan tersebut melibatkan Perangkat Desa Kebondalem dan anggota PKK dari 12 dusun sebagai mitra sekaligus peserta. Keterlibatan masyarakat diharapkan dapat membuka ruang bagi pengembangan produk turunan kopi yang lebih beragam.

Bagi masyarakat, pemanfaatan kopi menjadi lilin aromaterapi memberikan alternatif selain menjual atau mengolah kopi sebagai minuman. Jika dikembangkan secara konsisten, produk tersebut dapat menjadi salah satu pilihan suvenir berbasis potensi lokal sekaligus mendukung kegiatan ekonomi kreatif desa.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat melalui UNNES GIAT 2026. Pengembangan produk berbasis komoditas lokal tersebut juga sejalan dengan upaya mendorong inovasi, diversifikasi produk, dan peningkatan nilai tambah sumber daya yang tersedia di desa.

Inovasi ini mendukung SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDGs 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat mampu mengembangkan produk berbasis kopi sebagai peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan keluarga, serta memperkuat ekonomi kreatif Desa Kebondalem, Kabupaten semarang.

Bersama UNNES GIAT, Membangun Indonesia dari Desa.