Euforia Malam Takbiran dan Ancaman di Balik Ledakan Kembang Api

KKN UMY PADUKUHAN KRIKILAN
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari KKN MU-122 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suara takbir menggema di langit malam, bersahut-sahutan dari masjid ke masjid. Di beberapa sudut kampung, anak-anak berlarian membawa obor, sementara langit dihiasi kilatan cahaya kembang api. Malam takbiran, bagi banyak orang, menjadi puncak kebahagiaan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.
Namun, di balik gema takbir yang menenangkan, suara dentuman petasan kerap mengambil alih suasana. Ledakan demi ledakan bukan hanya memecah keheningan malam, tetapi juga menyimpan ancaman nyata.
Ramadan tahun ini kembali diwarnai sejumlah insiden tragis akibat petasan. Pada Minggu, 1 Maret 2026, sebuah ledakan terjadi di Ponorogo, Jawa Timur, menjelang waktu berbuka puasa. Seorang remaja yang diduga tengah merakit petasan menjadi korban jiwa, sementara dua orang lainnya mengalami luka serius.
Peristiwa ini bukan kejadian tunggal. Dalam kurun waktu berdekatan, sejumlah ledakan juga terjadi di wilayah Jawa Tengah, seperti Grobogan, Kendal, dan Wonosobo. Beberapa insiden menyebabkan luka bakar serius hingga kerusakan bangunan.
Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan petasan bukan lagi sekadar hiburan musiman, melainkan telah berkembang menjadi aktivitas berisiko tinggi. Sayangnya, risiko ini sering kali diabaikan, terutama oleh anak-anak dan remaja.
Di sisi lain, euforia malam takbiran kerap mendorong masyarakat untuk merayakan secara berlebihan. Pawai yang semula bertujuan menyemarakkan syiar berubah menjadi ajang unjuk kemeriahan, termasuk dalam penggunaan kembang api dan petasan tanpa mempertimbangkan aspek keselamatan.
Fenomena ini mencerminkan adanya pergeseran makna dalam perayaan malam takbiran. Nilai spiritual yang seharusnya menjadi inti perlahan tergeser oleh dorongan hiburan. Takbir yang sarat makna seakan tenggelam di balik dentuman yang memekakkan telinga.
Seorang warga di lingkungan permukiman padat mengaku merasa khawatir setiap kali mendengar suara petasan pada malam hari. Selain berbahaya, suara ledakan juga dinilai mengganggu kenyamanan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Pemerintah dan aparat penegak hukum telah berulang kali mengingatkan bahaya petasan ilegal serta melakukan razia terhadap peredarannya. Namun, upaya tersebut tidak akan cukup tanpa kesadaran dari masyarakat.
Malam takbiran sejatinya tetap dapat dirayakan dengan cara yang lebih aman dan bermakna, seperti takbir bersama di masjid, pawai obor, atau kegiatan sosial.
Pada akhirnya, perayaan bukan tentang seberapa meriah suara yang dihasilkan, melainkan tentang bagaimana makna itu dijaga. Di tengah euforia yang meluap, penting bagi masyarakat untuk mengingat bahwa kemenangan tidak seharusnya dibayar dengan keselamatan.
