Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
29 Ramadhan 1446 HSabtu, 29 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna
Marbut Masjid Naik Haji Menangis Saat Didatangi Menag
25 Agustus 2017 7:31 WIB
Diperbarui 14 Maret 2019 21:15 WIB
Tulisan dari Media Center Haji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
MCH--Air mata bahagia tampak di wajah Mulyono, jemaah haji berusia 75 tahun asal Tulungagung, Jawa Timur. Dia tidak dapat menahan tangis bahagia, saat Amirul Hajj yang juga Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, datang menemuinya, Kamis pagi, 24 Agustus 2017.
Menag Lukman memang sengaja datang ke hotel 601, untuk mendengar cerita dari Mulyono tentang tekadnya yang kuat hingga dapat pergi ke Tanah Suci. Marbut Masjid Almunawar yang tergabung dalam kloter 9 Surabaya (SUB 09) ini sedang asyik tidur-tiduran, ketika Lukman Hakim mengetuk kamarnya.
Mulyono yang hanya mengenakan kaos dalam langsung mengenakan jaket ketika menyadari Menteri Agama datang dan masuk ke kamarnya. Menag langsung menanyakan kabar Mulyono dan menanyakan bagaimana kiatnya bisa sampai ke Tanah Suci.
"Assallamu’alaikum, Bapak Mulyono ada," kata Menag.
"Wa’alaikumsallam, ada Pak yang ini orangnya," kata jemaah lain yang berada di dekat Mulyono.
Setelah mendengar kabar soal kondisi Mulyono, Menag kemudian mulai menanyakan apa semula dia ingin ketahui tentang upaya Mulyono hingga dapat pergi melaksanakan ibadah haji.
Mulyono kemudian mulai bercerita, kalau dia sudah 30 tahun jadi marbut masjid. Tugasnya membersihkan masjid pada pagi dan sore hari.
"Kerja saya itu tukang ngepel masjid. Sudah 30 tahun tugas ngepel-ngepel masjid," kata Mulyono.
"Lalu, biaya haji ini dari mana?" tanya Menag.
Menurut Mulyono, saat bertugas sebagai bersih-bersih masjid, dia kadang diberi uang oleh jemaah yang datang.
Uang yang dia peroleh selalu dikumpulkan. Hingga akhirnya pada 2010, dia menyetorkan uang tabungannya untuk mendaftar haji. Setelah menunggu selama enam tahun, Mulyono akhir bisa pergi ke Tanah Suci.
“Saya itu, kadang diberi uang oleh jemaah. Uangnya saya tabung," kata Mulyono sambil mengusap air matanya.
Menurut Mulyono, keinginannya untuk pergi haji memang sudah lama. Sejak 20 tahun lalu, dia mulai menabung dan terus berdoa agar dia bisa berangkat haji.
Dia yakin, setiap orang Islam dapat pergi haji bila berusaha dan berdoa. Selain itu, juga harus yakin kalau Allah itu Maha Kaya dan Maha Pemurah.
"Saya yakin Pak, Allah itu baik. Saya selalu berdoa, biar bisa berangkat haji," katanya.
Mengenai usaha yang dilakukan Mulyono, Menag menyampaikan, usaha dan doa yang berjalan beriringan akan mampu membawa kita pada cita-cita yang kita inginkan. Kata Menag, apa yang dilakukan Mulyono adalah bukti dari adanya komitmen dan tekad yang sangat kuat. Meski dalam kondisi yang terbatas, tetapi dengan tekad yang besar setiap orang dapat wujudkan keinginannya berhaji.
"Alhamdulillah, Bapak Mulyono yang bekerja sebagai marbut mesjid. Setelah menabung tidak kurang dari 20 tahun. Meskipun dalam kondisi yang seperti ini, tapi beliau dengan tekadnya yang besar dapat mewujudkan keinginannya berhaji. Ini pelajaran yang baik untuk kita semua," kata Menag.
Selain mendatangi Mulyono, Menag Lukman Hakim juga sempat menemui Maksum Sapii Bunet bin Wahab. Jemaah berusia 79 tahun asal Madura.
Menang juga terkesan dengan usaha Maksum untuk dapat pergi haji. Padahal, dia hanya berkerja sebagai tukang becak dengan penghasilan harian yang tidak menentu.
Tetapi, kondisi ini tidak menyurutkan niatnya untuk berhaji. Pelajaran rukun iman yang didapatnya sewaktu kecil, menjadi pondasi dasar akan keyakinannya untuk menunaikan rukun Islam kelima ini.
“Jadi, kuncinya percaya kepada Allah, lalu berusaha sambil meminta. Kalau Allah menakdirkan, saya yakin. Kalau Allah menghendaki, saya akan berangkat,” katanya. (asp)
ADVERTISEMENT
Sumber :
www.viva.co.id/berita/nasional/949828-marbut-masjid-naik-haji-menangis-saat-didatangi-menag