Konten dari Pengguna

Kenapa Kita Mendadak Lupa Semua Saat Disuruh Ngomong di Depan Orang?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Amalia Sakinah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto : Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto : Freepik.com

Pernah nggak, saat ngobrol sama teman kita bisa ngomong lancar ke mana-mana, tetapi begitu dosen meminta presentasi di depan kelas, tiba-tiba otak seperti kehilangan koneksi?

Materi yang semalam sudah dihafalkan mendadak hilang. Tangan mulai dingin, jantung berdebar, suara bergetar, bahkan nama sendiri rasanya perlu dipikirkan lagi.

“Padahal tadi di rumah lancar banget.”

Kalau pernah mengalami hal tersebut, tenang. Kamu tidak sendirian.

Rasa gugup ketika berbicara di depan orang lain merupakan hal yang umum terjadi. Menariknya, masalahnya sering kali bukan karena kita tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan, tetapi karena kita terlalu memikirkan bagaimana orang lain akan menilai kita.

Public Speaking Ternyata Bukan Cuma Berdiri di Atas Panggung

Selama ini public speaking sering dibayangkan sebagai seseorang yang berdiri di atas panggung dengan mikrofon dan berbicara di depan ratusan orang.

Padahal, cakupannya jauh lebih dekat dengan kehidupan kita.

Ketika mahasiswa mempresentasikan tugas, seseorang mengikuti wawancara kerja, karyawan menyampaikan ide dalam meeting, atau seorang penjual menjelaskan produk kepada calon pelanggan, semuanya membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik.

Bahkan, memperkenalkan diri kepada orang baru juga membutuhkan kemampuan yang sama.

Jadi, sebenarnya kita tidak perlu menunggu sampai menjadi pembicara profesional untuk belajar public speaking.

Kita sudah melakukannya hampir setiap hari.

Kenapa Ngomong di Depan Orang Terasa Lebih Sulit?

Salah satu alasannya adalah kita merasa sedang diperhatikan.

Saat berbicara dengan teman, biasanya kita tidak terlalu memikirkan apakah kalimat kita sempurna. Namun, ketika berada di depan banyak orang, muncul berbagai pikiran:

“Kalau aku salah gimana?”

“Kalau mereka menertawakan aku?”

“Kalau aku tiba-tiba lupa?”

“Kalau suaraku gemetar?”

Pikiran-pikiran tersebut justru dapat membuat kita semakin fokus pada rasa takut daripada pesan yang ingin disampaikan.

Padahal, audiens belum tentu memperhatikan kesalahan kecil yang kita lakukan sebesar kita sendiri.

Kadang, kita merasa melakukan kesalahan yang sangat besar, padahal bagi orang lain itu hanya kesalahan kecil yang langsung dilupakan.

Jangan Hafalkan Semua Kata

Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan sebelum presentasi adalah menghafalkan seluruh isi materi.

Awalnya memang terasa aman.

Namun, ketika satu kalimat terlupakan, kita bisa langsung panik karena otak berusaha mencari “kalimat berikutnya”.

Daripada menghafalkan semuanya, lebih baik pahami alur pembicaraannya.

Misalnya, gunakan pola sederhana:

Masalah → Penyebab → Solusi → Kesimpulan.

Dengan begitu, kita memiliki “peta” untuk berbicara. Kalaupun ada satu kalimat yang terlupakan, kita tetap tahu harus membawa pembicaraan ke arah mana.

Cara ini juga membuat penyampaian terdengar lebih natural dan tidak seperti sedang membaca teks yang dihafalkan.

Public Speaking Itu Bukan Kompetisi Siapa yang Paling Pintar

Kadang kita terlalu sibuk ingin terlihat pintar ketika berbicara.

Menggunakan istilah yang sulit, memasukkan terlalu banyak informasi, atau berbicara dengan cepat agar terlihat menguasai materi.

Padahal, pembicara yang baik justru adalah orang yang mampu membuat informasi yang rumit menjadi mudah dipahami.

Coba bayangkan dua orang menjelaskan topik yang sama.

Orang pertama menggunakan banyak istilah akademis yang sulit dimengerti.

Orang kedua menjelaskan dengan contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari.

Menurut saya, orang kedua justru lebih berhasil dalam public speaking karena tujuan komunikasi bukan untuk menunjukkan seberapa banyak yang kita tahu, tetapi seberapa baik orang lain memahami apa yang kita sampaikan.

Bahasa Tubuh Bisa Membantu atau Justru Mengganggu

Pernah melihat seseorang presentasi sambil terus menunduk membaca teks?

Atau ada yang berdiri diam dengan tangan disilangkan sepanjang presentasi?

Hal-hal kecil seperti ini dapat memengaruhi cara audiens menerima pesan.

Kontak mata, ekspresi wajah, gestur tangan, dan posisi tubuh merupakan bagian dari komunikasi nonverbal.

Kita tidak perlu berjalan ke sana kemari seperti presenter televisi. Cukup berdiri dengan nyaman, sesekali melakukan kontak mata, menggunakan gestur yang wajar, dan menunjukkan ekspresi yang sesuai dengan topik.

Yang penting bukan terlihat sempurna, tetapi terlihat nyaman dan percaya diri.

Cara Sederhana Melatih Public Speaking

Kabar baiknya, kemampuan ini tidak harus dilatih dengan langsung berbicara di depan ratusan orang.

Mulai saja dari hal kecil.

Pertama, biasakan menyampaikan pendapat.

Ketika berdiskusi di kelas atau dalam kelompok, jangan selalu menjadi orang yang memilih diam.

Kedua, latihan berbicara sendiri.

Coba ambil satu topik sederhana, kemudian jelaskan selama satu sampai dua menit tanpa membaca teks.

Ketiga, rekam diri sendiri.

Dengarkan kembali suara kita. Apakah terlalu cepat? Apakah terlalu banyak mengatakan “eee”, “anu”, atau “apa namanya”?

Keempat, belajar menjadi pendengar.

Komunikasi bukan hanya tentang berbicara. Mendengarkan pertanyaan dengan baik juga membantu kita memberikan jawaban yang tepat.

Dan yang paling penting, jangan takut melakukan kesalahan.

Karena semakin sering kita berbicara, semakin terbiasa pula kita menghadapi rasa gugup.

Tidak Percaya Diri Bukan Berarti Tidak Bisa

Menurut saya, banyak orang salah memahami arti percaya diri.

Mereka berpikir bahwa orang yang percaya diri adalah orang yang tidak pernah gugup.

Padahal, seseorang bisa saja gugup tetapi tetap mampu berbicara dengan baik.

Percaya diri bukan berarti tidak takut.

Percaya diri adalah tetap mencoba meskipun merasa takut.

Mungkin pada presentasi pertama suara kita masih bergetar. Pada presentasi kedua masih lupa beberapa bagian. Pada kesempatan berikutnya mungkin sudah mulai lebih tenang.

Tidak masalah.

Kemampuan public speaking memang tidak terbentuk hanya dalam satu malam.

Karena Kesempatan Tidak Selalu Datang Dua Kali

Di dunia pendidikan maupun pekerjaan, kemampuan menyampaikan ide dapat menjadi nilai tambah.

Ide yang bagus akan sulit dipahami jika kita tidak mampu menjelaskannya. Kemampuan yang kita miliki juga bisa tidak terlihat jika kita tidak mampu mengomunikasikannya dengan baik.

Karena itu, belajar public speaking sebenarnya bukan hanya tentang belajar berbicara di depan banyak orang.

Ini tentang belajar menyampaikan siapa diri kita, apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita tawarkan kepada orang lain.

Jadi, kalau lain kali dosen menunjuk kita untuk maju ke depan kelas, jangan langsung berpikir,

“Waduh, kenapa harus saya?”

Mungkin justru itu kesempatan kecil untuk melatih diri.

Tarik napas.

Lihat audiens.

Sampaikan apa yang kita pahami.

Kalau sedikit gugup, tidak apa-apa.

Karena pada akhirnya, pembicara yang hebat bukan mereka yang tidak pernah gugup, tetapi mereka yang tetap berbicara meskipun sedang gugup.