Konten dari Pengguna

Kenapa Setelah Bertemu Banyak Orang, Saya Justru Merasa Kehabisan Energi?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari asrina mawarni'ma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi perempuan yang kelelahan setelah berinteraksi dengan banyak orang. sumber gambar: AI ChatGPT (OpenAI), 2026.
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi perempuan yang kelelahan setelah berinteraksi dengan banyak orang. sumber gambar: AI ChatGPT (OpenAI), 2026.

Setiap kali selesai bersosialisasi atau bertemu dengan banyak orang, saya sering merasa sangat lelah. Hal ini cukup sering saya rasakan setelah pulang kuliah. Setelah seharian berada di kampus dan berinteraksi dengan banyak orang, rasanya energi saya sudah habis. Padahal masih ada tugas yang harus dikerjakan atau kegiatan lain yang perlu dilakukan. Namun, yang saya inginkan justru hanya diam, rebahan, dan menghabiskan waktu untuk diri sendiri.

Kadang saya juga bertanya-tanya, bagaimana orang lain bisa memiliki energi sebanyak itu untuk berinteraksi dengan banyak orang, bahkan selama delapan jam atau lebih. Bagi saya, hal tersebut cukup luar biasa. Ada orang yang sepertinya bisa terus berbicara, berkumpul, dan melakukan banyak kegiatan bersama orang lain tanpa terlihat kehabisan energi.

Saya sendiri tidak merasa sepenuhnya bisa disebut introvert maupun ekstrovert. Saya bisa menikmati bersosialisasi dan bertemu dengan banyak orang, tetapi di waktu tertentu saya juga membutuhkan waktu sendiri. Menariknya, rasa lelah setelah bertemu orang juga tidak selalu sama. Ada orang yang justru membuat saya merasa lebih berenergi karena membawa suasana yang positif. Namun, ada juga interaksi yang membuat saya sangat lelah, bukan selalu karena orang tersebut buruk, tetapi mungkin karena suasana atau cara berinteraksinya memang tidak sesuai dengan diri saya.

Ternyata, rasa lelah setelah banyak berinteraksi juga pernah diteliti. Sebuah penelitian yang mengamati perilaku dan perasaan seseorang dalam kehidupan sehari-hari menemukan bahwa perilaku yang lebih ekstrovert berkaitan dengan rasa lelah yang muncul sekitar dua sampai tiga jam setelahnya. Penelitian lain juga menemukan bahwa perilaku ekstrovert dapat memberikan suasana hati yang lebih positif pada saat itu, tetapi rasa lelah dapat muncul beberapa jam kemudian. Salah satu hal yang berkaitan dengan munculnya rasa lelah tersebut adalah jumlah orang yang ditemui.

Bagi saya, hal tersebut cukup menarik karena ternyata seseorang bisa saja menikmati interaksi sosial tetapi tetap merasa lelah setelahnya. Saya juga mengalaminya. Ada kalanya setelah bertemu teman-teman saya merasa senang dan mendapatkan energi positif, tetapi setelah sampai rumah saya tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Dari situ saya mulai menyadari bahwa setiap orang mungkin memiliki cara yang berbeda dalam menggunakan energinya. Tidak semua orang merasa nyaman dengan jumlah interaksi yang sama. Ada yang justru merasa lebih bersemangat ketika berada di tengah banyak orang, sementara ada juga yang membutuhkan waktu sendiri setelah bersosialisasi.

Namun, semakin dipikirkan, saya merasa rasa lelah tersebut juga tidak bisa dijadikan alasan untuk terus menghindari lingkungan sosial. Kita tidak mungkin selamanya memilih lingkungan yang sesuai dengan diri kita. Ada banyak situasi yang nantinya harus kita hadapi, termasuk ketika memasuki dunia kerja. Kita akan bertemu dengan berbagai macam orang dengan karakter dan cara berinteraksi yang berbeda.

Karena itu, sekarang saya mulai belajar bahwa merasa lelah setelah bersosialisasi bukan sesuatu yang harus selalu dilawan. Capek ya capek. Yang lebih penting adalah belajar memahami diri sendiri dan tahu kapan harus beristirahat, tanpa membuat diri kita terlalu jauh dari kehidupan sosial.

Saya juga mulai belajar membedakan antara membutuhkan waktu sendiri dan benar-benar ingin menghindari orang lain. Menurut saya, keduanya adalah hal yang berbeda. Saya boleh membutuhkan waktu untuk diam setelah seharian berinteraksi, tetapi bukan berarti saya harus terus menjauh dari lingkungan sekitar.

Pada akhirnya, saya mulai memahami bahwa setiap orang memiliki kapasitas dan pengalaman sosial yang berbeda. Ada kalanya bertemu orang lain membuat kita senang, ada juga kalanya kita hanya ingin pulang dan beristirahat. Bagi saya, keduanya adalah hal yang wajar.

Yang perlu dipelajari mungkin bukan bagaimana supaya kita tidak pernah merasa lelah setelah bersosialisasi, tetapi bagaimana memahami diri sendiri dan tetap bisa menempatkan diri di berbagai lingkungan. Karena kehidupan tidak selalu memberikan kita pilihan untuk berada di tempat yang paling nyaman.

Saya mungkin masih membutuhkan waktu sendiri setelah bertemu banyak orang. Namun, saya juga sedang belajar untuk tetap menghadapi berbagai lingkungan yang ada. Tidak harus memaksakan diri untuk selalu kuat, tetapi juga tidak menjadikan rasa lelah sebagai alasan untuk terus menjauh. Bagi saya, belajar mengatur energi dan menempatkan diri adalah bagian dari proses mengenal diri sendiri.