Melihat Lokasi Randy Tewas Tertembak Saat Demo Mahasiswa di Kendari

Randy (22 tahun), mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halau Oleo (UHO), tewas tertembak saat ikut aksi demonstrasi menolak sejumlah RUU di kantor DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis (26/9).
Hasil autopsi yang dilakukan dokter independen RSUD Kota Kendari, atau lebih dikenal dengan RS Abunawas, memastikan bahwa Randy tewas tertembak peluru tajam.
Begitu pula dengan pihak polisi yang membenarkan bahwa Randy tewas karena diterjang peluru tajam.
Sesaat setelah peristiwa nahas itu, mahasiswa menemukan selongsong peluru kaliber 9 mm tak jauh dari lokasi terkaparnya Randy. Dua hari setelahnya, polisi juga menemukan 3 selongsong peluru di tempat itu.
Minggu (29/9), jurnalis kendarinesia kembali mendatangi lokasi tempat Randy gugur akibat terjangan peluru tajam. Di lokasi itu, tampak ada ceceran darah yang telah mengering di aspal.
Lokasi itu berada di depan Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Pemprov Sultra, Jalan Abdulah Silondae, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari. Lokasi itu jaraknya memang cukup jauh dari Kantor DPRD Sultra.
Di samping Disperindag Sultra, ada juga Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sultra. Pantauan kendarinesia saat bentrok terjadi, aparat kepolisian memang memukul mundur mahasiswa hingga ke depan Kantor Disnakertrans.
Lalu, di samping Disnakertrans, ada STIMIK Catur Sakti Kendari. Di tempat itu juga, massa demonstrasi berkumpul.
Menurut keterangan saksi dari mahasiswa berinisial Y, di tempat itu pula Yusuf Kardawi juga tertangkap dan dipukuli oknum berbaju polisi dan preman. "Waktu dikejar, Yusuf jatuh, dipukuli sama polisi, ada yang pakaian dinas, ada yang pakaian preman," jelas Y.
Pada Sabtu (26/8), Wakil Kepala Polri, Komjen Pol Ari Dono, juga mengunjungi tempat itu. Ari Dono melihat langsung proses olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) oleh tim Indonesia Automatic Finger Print Identification System (Inafis) Polda Sultra dan Markas Besar Polri.
Dia memastikan bahwa proses investigasi akan dilakukan secara transparan. "Kita libatkan juga dari Komnas HAM, Obdusman atau pihak yang berkompeten dalam proses investigasi," ujar Ari Dono di rumah jabatan Gubernur Sultra.
Wiwid Abid Abadi
