kumparan
6 Mar 2019 23:36 WIB

Memaknai Hari Raya Nyepi: Sucikan Diri Melalui Tapa Brata Penyepian

Masyarakat desa Jati Bali, Sulawesi Tenggara, saat mengarak ogoh-ogoh jelang hari raya nyepi, Rabu (5/3). Foto: Mufti/kendarinesiaid
Sore ini, Rabu 6 Maret 2019. kendarinesia disambut hujan deras saat tiba di Desa Jati Bali, Kecamatan Ranomeeto Barat, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.
ADVERTISEMENT
Desa Jati Bali terletak tidak jauh dari Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Kendari. Jarak tempuh memakan waktu sekitar 30 menit menggunakan kendaraan roda dua.
Desa ini merupakan salah satu desa yang penduduknya hampir 100 persen beragama Hindu.
"Jumlah penduduknya 1.414 orang dengan jumlah KK ada 364. Semua beragama Hindu mas," kata Kepala Desa Jati Bali, Dewa Ayu Rai Utari, saat mengawali perbincangan sore ini.
Lantas, kami diajak ke lapangan dan langsung disapa dengan senyum ramah para warga yang berpakaian adat Bali. Ya, warga memang sedang berkumpul untuk menggelar pawai ogoh-ogoh.
Pawai ogoh-ogoh merupakan agenda rutin warga desa Jati Bali dalam menyambut Hari Nyepi. Menurut penanggalan Masehi tahun ini, Hari Nyepi jatuh pada Kamis 7 Maret 2019.
ADVERTISEMENT
Dalam pawai ogoh-ogoh kali ini, warga membuat 5 jenis patung dengan berbagai macam bentuk. Setiap patung memiliki makna tersendiri.
Pawai diawali dari Pura Desa Jati Bali dengan lapangan desa sebagai titik start. Setelah diarak keliling Desa, pawai ogoh-ogoh berhenti di Pura Dalem Desa Jati Bali. Ogoh-ogoh kemudian dibakar sebagai simbol membuang, membakar, melebur sifat negatif dalam diri manusia sebelum melaksanakan Nyepi.
Umat Hindu saat mengarak ogoh-ogoh di Desa Jati Bali, Rabu (5/3). Foto: Mufti/kendarinesiaid
"Pawai ogoh-ogoh menjadi tonggak awal pelaksanaan Tapa Brata Penyepian. Diawali dengan penyucian diri ke pesisir pantai dengan harapan dapat menjalankan Nyepi dengan batin yang tenang dan suci," jelas Sekretaris Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Jati Bali, G. P. Agus Sumiarna kepada kendarinesiaid.
Ogoh-ogoh mencerminkan sifat manusia yang negatif, amarah, dengki, untuk dilebur melalui keheningan Nyepi dengan harapan menjadi pribadi yang bersih dan jiwa yang suci setelah sepi.
ADVERTISEMENT
Sumiarna menjelaskan, ogoh-ogoh merupakan karya seni patung dengan wujud terkadang menyeramkan yang diarak keliling Desa sehari sebelum Nyepi. Tujuannya, untuk menetralisir pengaruh negatif dilingkungan sekitar agar umat Hindu dapat melaksanakan introspeksi diri dalam keheningan Nyepi dengan penuh hikmat.
Ia menjelaskan, ada empat kewajiban umat Hindu dalam melaksanakan Tapa Brata Nyepi. Pertama adalah dilarang menyalakan api (Brata Amati Geni).
"Dalam diri kita pun ada api, ada amarah, iri dan dengki, termasuk api nyata. Jadi Nyepi bermakna merenung dalam kegelapan, introspeksi dan berdoa serta tidak makan dan minum alias puasa, menahan haus dan lapar," katanya. 
Ogoh-ogoh sebelum di arak, Rabu (5/3). Foto: Wiwid/kendarinesiaid
Kedua, dilarang bekerja dan beraktivitas (Brata Amati Karya). "Selama Nyepi kami menghentikan segala aktivitas sehari-hari untuk merenungi diri dan meditasi," katanya.
ADVERTISEMENT
Yang ketiga, saat Nyepi, para pemeluk Hindu dilarang menghibur diri (Brata Amati Lelanguan). Selama 24 jam, pemeluknya diharuskan benar-benar sepi dan hening. "Tanpa televisi dan gadget, mengekang seluruh hawa nafsu dan berlatih untuk lebih sabar," katanya.
Terakhir, selama melaksanakan nyepi, pemeluk Hindu dilarang berpergian keluar rumah (Brata Amati Lelungan), selama 24 jam.
"Tidak boleh kami melangkahkan kaki keluar dari pekarangan rumah, segalanya terhenti, sepi dan sunyi dalam keheningan," sambungnya.
Setelah melaksanakan Nyepi, lanjut Sumiarna, umat Hindu akan melaksanakan ritual Ngembak Geni. Ritual ini dilaksanakan sehari setelah Nyepi yang menjadi tanda awal Tahun Baru Saka 1941. 
"Setelah seharian penuh, selama 24 jam umat Hindu se-Indonesia melakukan introspeksi diri dalam hening, diharapkan menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi dengan jiwa yang bersih dan suci," paparnya.
ADVERTISEMENT
"Harapan yang baru dalam senyum bahagia. Saling mengunjungi sanak saudara dan tetangga untuk saling memaafkan. Tahun Baru Saka 1941 kita harus memiliki jiwa yang baru, harapan yang lebih baik," tambahnya.
Pawai ogoh-ogoh yang dilaksanakan warga Desa Jati Bali setiap tahun ini didukung penuh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe Selatan.
"Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan melalui perwakilan Kecamatan Ranomeeto Barat sangat mendukung kegiatan seni budaya dan keagaman di Desa ini," kata Camat Ranomeeto Barat, Rahmat Saleh.
Rahmat mengatakan, Desa Jati Bali kini sudah ditetapkan menjadi Desa Adat dan Budaya di Kabupaten Konawe Selatan. Tak lama lagi, Desa Jati Bali akan ditetapkan sebagai desa wisata.
---
Wiwid Abid Abadi / Mufti
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan