Sosok Rahmat, Pemuda di Kendari Konsisten Berbagi Ilmu Budidaya Jamur Tiram

Konten Media Partner
21 Desember 2022 15:27
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Rahmat Dwi Satrio saat berbagi ilmu budidaya jamur dalam seminar di salah satu kampus Kendari. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Rahmat Dwi Satrio saat berbagi ilmu budidaya jamur dalam seminar di salah satu kampus Kendari. Foto: Istimewa
Puluhan pelajar tengah memenuhi halaman dan ruangan produksi jamur tiram di sebuah bangunan rumah yang terletak di Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Rumah semi permanen dengan luas 12x15 meter persegi tersebut digunakan oleh Rahmat Dwi Satrio untuk melangsungkan proses budidaya jamur tiram miliknya.
Ya, pria yang memilik sapaan akrab Rahmat ini menggeluti budidaya jamur tiram sejak tahun 2013. Saat itu, bisa dibilang bahwa jamur tiram cukup asing bagi sebagian masyarakat Sultra. Namun saat ini, budidaya jamur tiram ternyata sudah dikenal luas oleh masyarakat.
Olahan jamur tiram milik Rahmat yang telah dikemas dengan baik. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Olahan jamur tiram milik Rahmat yang telah dikemas dengan baik. Foto: Istimewa
Tak hanya fokus pada bisnis, bersama perusahaan yang didirikannya diberi nama PT Tiga Putra Farm, Rahmat sampai saat ini juga konsisten terus menebar ilmu tentang budidaya jamur tiram miliknya.
Ia tak segan-segan mengajarkan ilmu yang didapatnya secara otodidak tersebut kepada orang lain yang ingin mempelajarinya. Prinsipnya, jika bisa membantu orang lain untuk sukses bersama kenapa harus menundanya.
"Siapa pun yang ingin datang belajar budidaya jamur tiram akan saya terima, terpenting dia harus bersungguh-sungguh untuk belajar," kata Rahmat kepada kendarinesia, pada Senin (19/12).
Baglog jamur tiram hasil produksi Rahmat bersama rekannya. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Baglog jamur tiram hasil produksi Rahmat bersama rekannya. Foto: Istimewa
Rahmat mengungkapkan dalam pengembangan budidaya jamur tiram ini dirinya terus membuka peluang bagi siapa pun yang ingin belajar. Beberapa kali dari kelompok masyarakat yang datang kepada dirinya untuk mempelajari tentang potensi hingga peluang masa depan jamur tiram.
Ia pun memaparkan tentang prospek dan masa depan budidaya tersebut yang membuat masyarakat tertarik lebih jauh untuk mempelajarinya. Beberapa kesempatan pula Rahmat menjadi pembicara dalam seminar-seminar kewirausahaan. Dan ternyata respon masyarakat cukup besar.
"Ada masyarakat yang datang belajar kami ajarkan, mahasiswa biasa kalau mau menggelar Praktik Kerja Lapangan (PKL) kampus kami terima dengan baik, siswa-siswa yang ingin melaksanakan study tournya dengan melihat langsung budidaya jamur tiram kami terima dengan baik," ungkapnya.
Terlebih, di Kendari budidaya jamur tiram belum begitu masif beberapa tahun terakhir. Sehingga, masyarakat banyak yang ingin mengetahuinya lebih jauh lagi dengan turun langsung praktik ke lapangan.
Rahmat menceritakan awal mula merintis budidaya tersebut karena melihat potensi terkait limbah serbuk kayu di tengah-tengah masyarakat kampungnya yang terletak di Desa Ulu Pohara, Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe. Di tempat itu, masyarakat tidak memanfaatkan limbah tersebut.
Para pengrajin kayu setiap menghasilkan serbuk kayu biasanya langsung dibakar begitu saja di halaman rumah. Sehingga terbesit difikirannya untuk mengolahnya menjadi bernilai produk.
"Awal melihat peluang ini karena di tempat saya sangat banyak limbah serbuk kayu. Setelah mencari informasi tentang pemanfaatan limbah tersebut, maka saya niatkan untuk budidaya jamur tiram," ungkapnya.
Dalam menjalankan bisnis budidaya jamur tiram ini, Rahmat membutuhkan rekan mengajak beberapa teman sebangku sekolahnya untuk bersama-sama membangun dan mengembangkan budidaya tersebut. Bahkan, Rahmat bersama rekannya rela hijrah ke Kota Kendari untuk lebih memasifkan lagi pemasaran dan budidaya jamur tiram miliknya.
Siswa Gontor Kampus 6 Kendari saat melaksanakan study tour di rumah budidaya Rahmat. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Siswa Gontor Kampus 6 Kendari saat melaksanakan study tour di rumah budidaya Rahmat. Foto: Istimewa
Jadi Penerima Astra Satu Indonesia Awards 2018
Saat seleksi di tahun 2018 tingkat nasional, Rahmat menjadi sekian orang yang menerima apresiasi Astra Satu Indonesia Awards. Dari apresiasi tersebut, pria kelahiran Bandar Lampung ini terus bersemangat merambah bisnisnya untuk meningkatkan kesejahteran masyarakat.
"Waktu itu saya berpikir ketika menerima apresiasi Astra Satu Indonesia Awards, oh berarti saya diterima dong di masyarakat, oh saya di apresiasi dong. Jadi kenapa tidak saya kembangkan terus dengan adanya support dari berbagai pihak," ungkapnya.
Setelah sekian lama menjadi anggota penerima apresiasi tersebut, bisnis jamur tiramnya terus berkembang pesat. Saat ini, produk budidaya tiram nya mulai meningkatkan kualitas dengan pengemasan yang lebih baik lagi.
"Kalau dulu saya hanya menghasilkan budidaya mentahan dengan menjualnya ke pasar-pasar. Kalau sekarang kami sudah merambah ke pengemasan dengan olahan siap saji," bebernya.