Tradisi Tua Dole-dole, Cara Masyarakat Buton Imunisasi Anak Secara Tradisional
ยทwaktu baca 3 menit

Anak yang lahir akan diberikan vaksin guna meningkatkan kekebalan tubuh pada penyakit tertentu dengan program imunisasi. Seperti halnya masyarakat Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) terdahulu, memiliki satu program imunisasi tradisional yang diberi nama dengan Dole-dole.
Tradisi Dole-dole sendiri masih diyakini dengan baik oleh masyarakat Buton hingga saat ini. Ada yang kurang jika tradisi Dole-dole tidak dilakukan oleh orang tua dalam kelahiran sang buah hati.
"Tradisi Dole-dole ini tidak wajib, tapi kalau tidak dilakukan ada yang kurang," kata Pemerhati Budaya Masyarakat Buton, Imran Kudus kepada kendarinesia, pada Minggu (11/09).
Dalam tradisi ini, anak berusia kisaran 6 bulan hingga 2 tahun akan di dole-dole. Namun tidak sembarang orang yang boleh memimpin ritual adat itu. Masyarakat adat Buton telah menunjuk seorang Bisha atau wanita yang memiliki garis keturunan yang memiliki kelihaian khusus dalam tradisi itu.
Tradisi Dole-dole sendiri merupakan kegiatan mengguling-gulingkan bayi di atas daun pisang yang dilumuri minyak kelapa dan kunyit.
"Bayi akan di dole-dole atau diguling-gulingkan di atas daun pisang yang dilumuri minyak kelapa dan kunyit," ujar Imran.
Untuk melengkapi tradisi ini, dalam prosesnya harus disediakan bahan makanan yang bergizi seperti ikan Bobara, nasi yang dimasak menggunakan periuk kuningan, santan yang dimasak sebelum menjadi minyak, pisang, ubi jalar yang dicampur gula aren menjadi makanan tradisional.
Bahan makanan disediakan memiliki filosofis yakni makanan yang harus disediakan orang tua kepada sang anak dalam masa pertumbuhannya harus bergizi.
"Seperti kunyit, itu kan kalau di bidang kesehatan sebagai obat menghilangkan peradangan, terus ikan memiliki protein dan ubi-ubi jalar sebagai karbohidrat," bebernya.
Salah satu keunikan dalam tradisi Dole-dole ini, kata Imran, hanya boleh dihadiri oleh wanita saja. Sedangkan pria tidak diperkenankan mengikuti prosesi tradisi ini.
"Bisha yang pimpin oleh perempuan dan hanya dihadiri ibu-ibu, untuk bapak-bapak tidak boleh dalam prosesinya. Tapi kalau untuk anak yang di dole-dole bebas, baik perempuan maupun laki-laki," ungkapnya.
Imran mengungkapkan asal-usul Dole-dole ini sudah ada sejak abad ke-13. Saat ini, tokoh masyarakat Buton bernama Betoambari mengalami sakit. Kemudian sang ayah Sipanjonga berinisiatif melakukan Dole-dole agar sang buah hati tidak sering terjangkit penyakit.
"Tokoh Betoambari semasa kecil ini sering mengalami sakit-sakitan, maka dilakukan tradisi Dole-dole ini oleh sang ayah Sipanjonga di lingkungan kerajaan," ungkap dia.
Awalnya tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Wolio yang mendiami kawasan dalam benteng Keraton Kesultanan Buton. Namun saat ini, Dole-dole sudah menjamur luas dam dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Buton yang percaya dengan tradisi sebagai penangkal penyakit.
"Harapannya tradisi ini bisa terus dipertahankan oleh masyarakat Buton," pungkasnya.
