Konten dari Pengguna

Peran Mahasiswa Sebagai Upaya Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia

Kent Sebastian Ryelcius

Kent Sebastian Ryelcius

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya. Sedang belajar cara menjadi manusia.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kent Sebastian Ryelcius tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Unsplash

"Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli, apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu."

-Wiji Thukul

Peran Mahasiswa Sebagai Upaya Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia Guna Menjawab Tantangan SDGs-30

“Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia” begitu kata Bung Karno, Bapak Proklamator kita. Dari zaman dahulu, pemuda – pemuda menjadi garda terdepan sebagai semangat perjuangan bangsa untuk mencapai kejayaan. Akan tetapi, banyak rintangan untuk mencapai tujuan tersebut. Ternyata, bukan hanya Indonesia yang berjuang demi kejayaan. Bahkan, sebanyak 193 negara anggota PBB (Perserikatan Bangsa – Bangsa) menetapkan suatu tujuan bersama yang disebut SDG-s (Sustainable Development Goals) yang bertujuan untuk pembangunan berkelanjutan dan berlaku hingga 2030. SGD-s merupakan lanjutan dari The Millenium Development Goals (MDG’s). SGD-s didasari oleh hak asasi dan kesetaraan manusia, dengan slogan “No One Will Left Behind”. Slogan tersebut dimaksud bahwa seluruh manusia di suatu negara yang tergabung dalam SGD-s memiliki hak yang sama dalam hal sosial, pendidikan, ekonomi, dan hak asasi manusia lainnya. SDG-s sendiri memiliki 17 tujuan bersama, antara lain: (1) Tanpa Kemiskinan; (2) Tanpa Kelaparan; (3) Kehidupan Sehat dan Sejahtera; (4) Pendidikan Berkualitas; (5) Kesetaraan Gender; (6) Air Bersih dan Sanitasi Layak; (7) Energi Bersih dan Terjangkau; (8) Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; (9) Industri, Inovasi dan Infrastruktur; (10) Berkurangnya Kesenjangan; (11) Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan; (12) Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab; (13) Penanganan Perubahan Iklim; (14) Ekosistem Lautan; (15) Ekosistem Daratan; (16) Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh; (17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (SDGs Bappenas).

Dalam SDG-s, kemiskinan berada di poin pertama yang berarti menjadi tujuan prioritas. Berarti dunia sepakat, bahwa tingkat kemiskinan harus ditekan serendah mungkin, tidak terkecuali Indonesia. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik), pada tahun 2021, jumlah penduduk miskin di perkotaan Indonesia sebesar 26,50 juta. Walaupun menurun dari tahun sebelumnya, tingkat kemiskinan Indonesia masih berada di peringkat 101 dunia. Adapun beberapa faktor penyebab masyarakat Indonesia mengalami kemiskinan, antara lain: tingkat pendidikan yang rendah, terbatasnya lapangan Pekerjaan, malas, dan kekurangan lapangan pekerjaan karena skill yang tidak memadai. Sebenarnya kemiskinan melanggar Hak Asasi Manusia, karena pada dasarnya setiap manusia berhak untuk hidup sejahtera dan bahagia. Orang – orang yang terlahir dari keluarga miskin cenderung akan mengalami berbagai masalah, seperti kelaparan, kekurangan gizi, Pendidikan yang tidak mencukupi, kesehatan yang buruk, bahkan kematian.

Pemerintah Indonesia sangat sadar akan permasalahan kemiskinan ini, contohnya saja diadakan program “Merdeka Belajar : Kampus Merdeka” oleh Pak Nadiem Anwar Makariem. Lantas, apa hubungannya program pemerintah ini dengan penanggulangan kemiskinan di Indonesia? Kita semua tahu, bahwa tahun 2030 yang akan datang, Bangsa Indonesia akan mengalami fenomena yang disebut “Bonus Demografi” keadaan dimana jumlah penduduk produktif lebih banyak daripada penduduk non-produktif. Berarti, kemungkinan besar Indonesia memiliki banyak Sumber Daya Manusia yang akan menggerakan berbagai aspek sosial di Indonesia menjadi lebih baik, seperti perekonomian, pendidikan, teknologi, politik, dan sebagainya. Akan tetapi, permasalahannya adalah apakah Sumber Daya Manusia yang melimpah ini memiliki kualitas dan mampu bersaing dengan Sumber Daya Asing baik didalam maupun diluar negeri? Oleh karena itu, pemerintah melaksanakan program “Merdeka Belajar : Kampus Merdeka” dengan tujuan mempersiapkan pemuda Indonesia dalam persaingan di masa yang akan datang.

Perkembangan teknologi yang sangat cepat membutuhkan adaptasi yang baik pula oleh masyarakat dan menuntut manusia agar menjadi pengendali teknologi yang baik dan bijaksana. Sehingga pemerintah sangat gencar dalam upaya pemaksimalan penggunaan teknologi oleh pemuda – pemuda kita. Harapannya adalah generasi muda mampu memaksimalkan teknologi dan semua kesempatan guna meningkatkan kualitas dirinya dan berkontribusi dalam masa depan negara yang lebih baik.

Pemerintah memang tidak menutup mata dan selalu berupaya semaksimal mungkin untuk menanggulangi kemiskinan di Indonesia. Begitu juga dengan teori – teori yang ada tentang mengapa dan bagaimana kemiskinan terjadi dan upaya penanggulangannya. Akan tetapi, mengapa tingkat kemiskinan di Indonesia masih tinggi setelah upaya maksimal bertahun – tahun? Ada beberapa alasan yang mungkin bisa menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut, antara lain: Pergantian pemerintahan berarti pergantian kebijakan. Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa kebijakan – kebijakan yang baik ini masih terlalu dini untuk melihat hasil yang optimal. Sehingga, diperlukan waktu yang lebih lama untuk melihat hasil yang optimal; Pemerintah juga terkadang tidak mengajak masyarakat untuk merancang sebuah kebijakan. Sehingga yang terjadi adalah masyarakat tidak siap akan kebijakan tersebut. Ketika kebijakan pemerintah sudah selesai, masyarakat tidak mampu melanjutkan kebijakan tersebut karena kurangnya pemahaman akan kebijakan tersebut; Kurangnya koordinasi antar institusi dalam perencanaan penanganan masalah kemiskinan; dan yang terakhir adalah adanya indikasi KKN dalam penyaluran bantuan di masyarakat.

Jadi, diperlukan pemahaman bahwa Mahasiswa memiliki peran penting dalam kemajuan bangsa. Kehancuran generasi muda dapat dikatakan sebagai awal kehancuran sebuah negara. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang dapat dilakukan Mahasiswa sebagai orang yang berpendidikan untuk berpartisipasi secara nyata dalam masyarakat, antara lain: terlibat dalam pengembangan sumber daya manusia khususnya di daerah - daerah, terlibat dalam pemanfaatan teknologi, dan terlibat dengan hal - hal yang berkaitan dengan bidang studinya.

Daftar Pustaka

Falah, M. (2021). Digitalisasi pada Program Kampus Merdeka untuk Menjawab Tantangan SDGs 2030. Sultan Agung Fundamental Research Journal, 2 (2), 87-93. DOI: http://dx.doi.org/10.30659/safrj.2.2.87-94

Ishartono, & Raharjo, S. T. (2016). SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN PENGENTASAN KEMISKINAN. Share Social Work Journal, 6 (2), 159-166. DOI: https://doi.org/10.24198/share.v6i2.13198

Ubur, H. (2012). UPAYA PENANGGULANGAN KEMISKINAN MELALUI PENDEKATAN PROSES. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 209-223.