Filosofi 7 Tarian di Parade Tari Daerah 2019 di Karimun

Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau tidak hanya dikenal dengan tempat wisata yang menakjubkan, namun daerah yang digelar 'bumi berazam' ini memiliki kesenian yang sangat mumpuni. Salah satunya adalah seni tari.
Tarian bukan hanya sekedar kompilasi dari gerakan semata, lebih dari pada itu tarian memiliki makna dibalik setiap perpindahan langkah dan gerakan itu sendiri.
Begitu pula hal yang disampaikan dari masing-masing sanggar yang menjadi peserta dalam even Parade Tari Daerah 2019 yang di gelar oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karimun.
Para peserta menampilkan tarian kolosal yang memiliki makna filosofi sejarah kebudayaan melayu di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.
1. Angsana Dance (Legenda Mayong Seraga).
Dari hikayat sebuah legenda Balong Seraga yang dikenal dengan "Mayong Seraga" oleh seorang raja yang sedang berburu di hutan belantara tiada penduduknya. Terkejut baginda raja yang tidak menyangka atas makhluk yang ditemuinya.
Setelah Balong (Bulu) ditubuhnya dicukur, ternyata dialah yang bernama Jum'at seorang suami yang pergi berburu demi istri yang tengah hamil menginginkan rusa putih. Tekatnya bulat, tidak akan pulang sebelum mendapatkan keinginan sang istri.
Tanpa disadari bertahun-tahun lamanya, tubuh Jum'at tumbuh Balong (bulu) yang panjang dan membatu dimakan usia. Raja kemudian, memerintahkan untuk mengubur jasadnya di hutan tersebut, dari sini lah tersebar berita dialah manusia pertama di Pulau yang di kenal dengan Pulau Buru, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun.
2. Sanggar Sri Ungar (Sumpah Batu Kelamin).
Awal cerita, sang permaisuri diketahui telah melakukan hubungan terlarang dengan pengawal, hal tersebut membuat sang raja menjadi marah, sedih, dan kecewa yang berujung angkara murka, penyesalan dan permohonan maaf dari permaisuri tidak lagi dihiraukan oleh sang raja.
Seketika itu raja menendang, sang istri dan pengawal hingga terlepas alat kelamin nya dan seketika itu huru hara terjadi, seakan alam ikut mengutuk perilaku ingkar nya sang permaisuri hingga semua yang ada berubah menjadi batu. Akhirnya sang raja bergelut dalam kesedihan yang bercampur dengan kemarahan.
Objek wisata Desa Batu Limau terdiri dari berbagai jenis batu yang berbentuk benda-benda kehidupan yang dapat dijumpai sampai sekarang seperti batu kelamin, batu bilik, batu pengantin, batu lesung, batu kapal, batu Limau di atas Talam.
Garapan tarian ini berpijak pada Etika dan Estetika tari melayu dan tidak meninggalkan unsur-unsur garapan tari melayu.
3. Sanggar Seni Mawar Tanjoeng (Bukit Kota Pirus).
Tarian ini menceritakan tentang sebuah legenda dari salah satu objek wisata di Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau yaitu Bukit Kota Pirus.
Alkisah, hiduplah seorang puteri yang bernama Selendang Delima, sosok perempuan sebatang kara yang dipelihara dengan baik oleh Raja Dang Segara, raja yang memerintah di kawasan Pirus pada masa itu. Seorang puteri itu menerima ajakan sang raja untuk tinggal di istana.
Namun, sungguh malang nasib Selendang Delima. Ia tidak serta merta di terima oleh para permaisuri yang terlanjur benci dengan kehadirannya. Selendang Delima pun di usir keluar dari istana. Mengetahui kejadian itu Raja Dang Sagara segera murka pada seisi istana dan memerintahkan kepada mereka untuk membawa Selendang Delima kembali.
Namun, Selendang Delima yang malang pun sudah merajuk membawa kesedihan hatinya keatas Bukit Kota Pirus. Hingga kini, legenda Selendang Delima menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Bukit atas Kota Pirus.
Gambaran kisah ini disimbolkan melalui gerak kreasi yang ritmis dan dinamis dengan dibalut irama langgam Melayu yang khas.
4. Sanggar Seni Saujana (Tersebab Perangai dikutuk Larangan).
Batu Bunting merupakan salah satu objek wisata yang terletak di Pantai Air Dagang, Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun.
Konon, legenda dari batu bunting tersebut adalah kisah seorang perempuan yang melanggar norma adat dan pantang larang yang telah ada pada zaman itu. Disebabkan hal tersebut, ia terpaksa menerima akibatnya.
Namun tak disangka, ada seseorang yang ingin membantu nya, dengan sebuah syarat yaitu ia harus pergi menyebrangi lautan dan dapat mengeluarkan zuriat nya sebelum fajar agar terhindar dari kutukan yang telah ada. Dan ia pun dibekalkan seorang bidan dan segala persiapannya.
Malang tidak dapat dihindari, kutukan itu terlanjur lekat pada dirinya dikarenakan ia tidak dapat beranak sebelum fajar, hingga dirinya pun ikut mengeras dan menjadi batu.
5. Sanggar Pucuk Rebung (Legenda Batu Pengantin).
Tersebab adat dan pantang larang, percintaan puteri dan seorang pengawal ditantang oleh raja, dikarenakan hasrat ingin memiliki cinta yang suci, sang puteri berani menentang akan pantang larang tersebut. Sang puteri pun memohon kepada raja dengan segenap hati yang terdalam, karena cinta sang ayah terhadap anaknya, sang raja akhirnya merelakan keduanya untuk melaksanakan pernikahan tetapi dengan satu syarat.
Pernikahan itu harus diselesaikan satu malam, pernikahan itu pun dilangsungkan, seketika suasana bahagia menyambut pernikahan tersebut hingga lupa akan siang yang kian menjelang. Dalam sekejap huru hara terjadi, seakan mengutuk keduanya menjadi batu yang saling bersandingan.
Yang disebut-sebut orang setempat sebagai pengantin. Destinasi wisata ini terletak di Pantai Gading, Kelurahan Gading Sari, Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun.
Garapan tarian ini berpijak pada unsur-unsur khas kedaerahan Kepulauan Riau sebagai wujud kearifan lokal.
6. Sanggar Tari Dara (Tempayan).
Legenda ini berasal dari keberadaan sebuah sumber air berbentuk tempayan yang terdapat di Selat Beliah, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun.
Tempayan ini konon nya adalah sebuah hadiah dari sosok yang menyukai sang puteri. Puteri ini dikenal dengan nama puteri Gunung Ledang yang memiliki paras cantik dan menawan.
Melalui dayang-dayangnya, ia pun bermaksud mempersunting sang puteri untuk dijadikan istrinya. Puteri Gunung Ledang enggan untuk menerimanya dan mengajukan syarat satu tempayan air mata dara anak untuk sebagai makna penolakannya.
Namun, setelah syarat itu dipenuhi, Puteri Gunung Ledang tetap tidak ingin menerima dan membuangnya hingga ke selat Beliah. Saat ini tempayan tersebut menjadi salah satu objek wisata yang ada di Pulau Kundur, Kabupaten Karimun.
7. Perkumpulan Seni Senandung Budaya (Pelawan Berdendang).
Dahulu kala ada sebuah kampung, konon tempat itu merupakan lanon cina mencari harta pusaka. Kampung tersebut menjadi tempat singgah dan pergi para lanon, kampung ini sekarang dikenal sebagai Desa Pangke yang terletak di Kecamatan Meral Barat, Kabupaten Karimun.
Makna Pang artinya letak ke atau pergi yang berasal dari bahasa Cina. Desa Pangke memiliki pantai yang indah nan asri, banyak di tumbuhi pepohonan yang rindang berlawanan arah. Akan tetapi, dahulu suasana pantai sangat mistis namun karena letak desa tersebut merupakan perbatasan antara dua negara sehingga ramai di kunjungi masyarakat, lama-kelamaan suasana mistis dikalahkan dengan suasana tenang, nyaman, dan dapat membuat kagum akan keindahannya.
Kini pantai tersebut menjadi tempat wisata. Tidak hanya itu, masyarakat juga mempertaruh perekonomiannya sebagai nelayan, pantai ini diberi nama 'Pantai Pelawan'.
Makna filosofi legenda di desa Pangke ini menjadi garapan sanggar Seni Senandung Budaya untuk menampilkan seni tarian pada ajang Parade Tari Daerah tahun 2019 Kabupaten Karimun.
Penulis : Khairul S
Editor : Wak JK
