kumparan
KONTEN PUBLISHER
10 November 2019 17:45

Gerilya Sultan Mahmud Muzaffar Syah untuk Gelar Pahlawan Nasional

Sultan Mahmud Muzaffar Syah : Naga Bercula dari Lingga

Mahmud Sang Pembangkang.jpg
Cover buku tentang perjalanan perjuangan Sultan Mahmud Muzaffar Syah karya Rida K Liamsi. Foto : Dok. Jembia Emas
Setelah tiga nama tokoh kerajaan Melayu di Kepulauan Riau bernobat Pahlawan Nasional yang diberikan Pemerintah Republik Indonesia, pada dasarnya masih ada sejumlah tokoh pejuang dari tanah Melayu yang sangat berpengaruh.
ADVERTISEMENT
Sementara hanya tiga nama pahlawan nasional asal Kepri yakni, Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali Haji dan terakhir yakni Sultan Mahmud Riayat Syah.
Sayangnya, nama pejuang lain masih belum kuat terekspose meski sangat berjasa dimasanya memperjuangkan kemerderkaan. Diantaranya nama Sultan Lingga-Riau ke-IV, Sultan Mahmud Muzafar Syah
kepripedia, saat berdialog singkat dengan Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, Muhammad Ishak, menyebutkan Sultan Mahmud Muzafar Syah yang sekira layak bernobat Pahlawan Nasional selanjutnya dari Kepulauan Riau.
"Barangkali, Sultan Lingga-Riau ke IV layak digelari Pahlawan Nasional," ucap Ishak.
Sultan Mahmud Muzafar Syah, lahir dan besar di Istana Terengganu tahun 1823. Kakek dari pihak ayahnya merupakan Sultan Lingga Riau dan dari pihak ibunya merupakan Sultan Terengganu (kini bagian dari Malaysia).
ADVERTISEMENT
Merujuk kebeberapa sumber referensi sejarah, seperti buku berjudul "Mahmud sang Pembangkang" karya Rida K Liamsi terbit tahun 2017, Sultan Mahmud Muzaffar memang memiliki garis keturunan sultan yang sangat kuat dalam kekuasan Melayu.
Sebelum Dinasti Kesulatan Riau-Lingga-Johor-Pahang pecah, Baginda Sultan Muzaffar merupakan sultan yang ke-18. Kemudian pusat kesultanan pindah ke Daik, Lingga, ia kemudian dinobatkan sebagai Sultan yang ke-4.
Sama seperti buyutnya, Sultan Mahmud Riayat Syah yang bergelar Pahlawan Nasional tahun 2017 lalu dan berjuluk hantu laut karena gerilyanya dilautan, Sultan Muzaffar Syah punya pendirian kuat menolak intervensi asing pada masa kepemimpinannya.
"Sama seperti pendahulunya, sikapnya tak pernah mau berunding, tak mau berkompromi dengan VOC-Belanda," terang Muhammad Ishak.
Baginda Muzaffar Syah dihadapkan dengan konflik Melayu-Bugis pada masa itu sekaligus intervensi asing (VOC-Belanda).
ADVERTISEMENT
Kontrak politik ditahun 1830 antara Belanda dan dan Kesultanan Lingga-Riau yang kala itu ditanda tangani oleh Yang Dipertuan Muda VI, Kedudukan kesultanan seakan berbalik menjadi milik Belanda.
Buku Mahmud Sang Pembangkang.jpg
Buku Mahmud sang Pembangkang, karya Rida K Liamsi tahun 2017. Foto : Dok Kemendikbud,
Belanda juga memberikan anugerah khusus kepada penguasa tempatan , yang kemudian berdampak konsekuensi bahwa Sultan harus tunduk kepada Gubernur Jenderal Belanda.
Belanda pun kemudian menetapkan Yang Dipertuan Muda sebagai wakilnya. Hal ini memicu perlawanan Sultan Muzaffar Syah.
"Keterangan sejarah, Sultan Muzaffar ini tak pernah menghiraukan peringatan Belanda dan Yang Dipertuan Muda," lanjut Ishak.
Seperti yang disebutkan dalam buku karya Rida K Liamsi itu, Sultan Muzaffar memang tegas dan melawan campur tangan penjajah dengan kekhasannya dibawah pemerintahan yang ia pimpin.
Dalam buku tersebut, Muhammad Ishak menyebutkan jika Sultan ke IV Lingga Riau itu lantang dan optimis untuk mengembalikan wilayah Kerajaan Melayu yang telah terpecah oleh penjajahan.
ADVERTISEMENT
Sekali lagi, Baginda Sultan Muzaffar tidak pernah menghiraukan peraturan Belanda dan Inggris yang kemudian menguasai wilayah Lingga melalui Traktat London tahun 1824.

Strategi Sultan Muzaffar Syah

Beberapa pergerakan yang disebutkan dalam Buku Mahmud sang Pembangkang, diantaranya Baginda Muzaffar Syah mengembangkan pertambangan timah di Pulau Singkep (kini menjadi 4 kecamatan di wilayah Kabupaten Lingga). Baginda Sultan tegas ingin menunjukkan jika dirinya adalah penguasa sah di negeri Lingga-Riau.
Baginda Sultan Muzaffar juga menjalin hubungan dengan para pimpinan bajak laut dari Tempasuk yang dulunya juga membantu buyutnya Sultan Mahmud Riayat Syah melawan penjajahan.
Selain itu, ia juga menjalin aliansi dengan kerabatnya yang juga penguasa di Temenggung Johor, Sultan di Singapura, Bendahara Pahang dan Sultan di Terengganu. Tujuannya untuk memperkuat imperium Melayu di era yang baru.
ADVERTISEMENT
Dengan rencananya tersebut, Baginda Sultan Muzaffar berhasil membuat Belanda malu dimata politik Internasional karena menunjukkan kekuatannya di wilayah kesultanannya sendiri.
Tidak hanya Belanda, Inggris pun ikut khawatir akan gerilya diplomasi Sultan Muzaffar dengan sejumlah pemimpin Melayu di Semenanjung yang merupakan wilayah mereka.
Kala itu, Sultan Muzaffar dipandang besar dan sangat berwibawa dikalangan para pemimpin Melayu di tanah Semenanjung (kini Malaysia).
Untitled Image
Pertambangan timah di Singkep masa lalu. Foto : Wikimedia

Perang Retih tahun 1858

Dinilai mengancam posisinya di Lingga, Belanda akhirnya memakzulkan (mengasingkan dan diberhentikan) Sultan Muzaffar pada tahun 1857.
Baginda Sultan Muzaffar disebutkan dalam buku-buku sejarah, tidak bereaksi saat dimakzulkan ke Pahang. Namun dalam diamnya, beliau menjawab Belanda dengan perang, dan meminta Panglima besar sekaligus pimpinan bajak laut untuk memerangi Belanda.
ADVERTISEMENT
Perang tersebut dikenal dengan Perang Retih pada 12 Oktober 1858 setahun setelah Baginda Sultan Muzaffar dimakzulkan.
Malang, pemimpin bajak laut tersebut, Panglima Besar Sulung harus tewas didalam perang, kemenanganpun menjadi milik Belanda. Pemimpin baru Kesultanan Lingga Riau pun dilantik oleh Belanda.
Untitled Image
Meriam Sumbing / Meriam Retih, saksi perang Retih tahun 1857 oleh Panglima Besar Sulung, Pimpinan Bajak Laut melawan Belanda. Foto : Riyad Stone/Tempatwisata
Sultan Muzaffar dengan ideologi bahwa dirinya tidak dilantik dan diberhentikan Belanda, tetap tak berputus asa. Beliau sempat menghimpun kekuatan Johor, Pahang, Terengganu, Kelantan hingga Siam.
Sayang, Baginda Sultan Muzaffar harus menelan kekalahan akibat pengkhiatanan kerabat terdekatnya.
"Sultan Mahmud Muzaffar Syah tidak pernah menyerah, tetap melakukan perlawanan hingga meninggalnya ditahun 1864 di Pahang." tutup Ishak
Diketahui, Sultan Mahmud Muzzafar Syah memerintah di Kerajaan Lingga-Riau pada 1835–1857
ADVERTISEMENT
Tanpa senjata, Sultan ke IV Lingga-Riau itu telah membuat Belanda, Inggris dan pengkhianat menjadi ketakutan dengan perlawanan politiknya.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan