Kisah Paskibraka Nasional Asal Kepri, Tak Bertemu Ibu Selama 10 Tahun

"Ibu, lihatlah aku di televisi," itulah ungkapan Muhammad Pazi, Paskibraka Nasional asal Pulau Kundur, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, sesaat sebelum meninggalkan kediamannya menuju Jakarta untuk mengikuti pelatihan Paskibraka Nasional, pada 22 Juli 2019.
Muhammad Pazi (16) merupakan satu di antara ribuan pelajar Indonesia yang lolos seleksi sebagai Paskibraka Nasional dan akan mengibarkan bendera Pusaka di Istana Negara pada Sabtu, (17/8/2019).
Di balik keberhasilannya itu, pelajar SMA Negeri 1 Kundur ini ternyata menyimpan cerita kehidupan yang tak seberuntung anak-anak lain. Sejak 10 tahun lalu Pazi tidak pernah bertemu dengan ibu kandungnya. Diketahui, Pazi merupakan anak dari pasangan Agus Sumarto dan Citayami.
Saat itu, Pazi masih duduk di Sekolah Dasar (SD) dan faktor ekonomi keluarga yang memburuk, membuat rumah tangga kedua orang tuanya tak harmonis. Sejak tahun 2009, Citayami, ibu Pazi, meninggalkan Pazi dan lebih memilih hidup di Palembang, Sumatera Selatan.
Kemudian, di usia 7 tahun Pazi diasuh oleh bibinya, Dewi Sumarni, karena sang ayah harus bekerja di Batam dan biasanya menjenguk Pazi sebulan sekali.
"Sejak itu dia (Pazi) tidak lagi pernah bertemu dengan ibunya. Seperti apa ibunya itu dia juga tidak tahu," ujar Dewi Sumarni, Rabu (15/8).
Setelah satu dekade memendam rindu dan tak bertemu ibunya, Pazi tak pupus semangat. Keinginan untuk berjumpa dengan sang ibu akan segera terwujud.
Rencananya, ibu Pazi akan datang mendampinginya bertugas sebagai Paskibraka di Istana Negara pada Sabtu, (17/8).
Pada upacara Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-74, di Istana Negara, Jakarta, Pazi bertugas sebagai Komandan Peleton (Danton) Regu 17 regu yang akan mengibarkan sang merah putih.
Surat pemberitahuan kelulusannya sebagai Paskibraka perwakilan Provinsi Kepulauan Riau diketahui pada 5 Mei 2019. Dalam pemberitahuan itu, Pazi dinyatakan lulus sebagai Paskibraka tingkat nasional tahun 2019.
"Dengan Paskib (Paskibraka) dia katanya ingin sekali pergi ke Jakarta," kata Dewi.
Pazi berharap, dengan keberhasilannya menjadi Paskibraka Nasional selain mengabdi untuk negara, ia bisa bertemu dengan ibunya. Menurut informasi dari paman Pazi, saat ini ibu kandung Pazi telah bekerja di Jakarta.
Remaja kelahiran 3 Mei 2003 itu juga memiliki sederet prestasi di bidang olahraga. Di antaranya, ia pernah menjuarai ajang O2SN untuk pertandingan bola voli.
Selain itu, Pazi juga bercita-cita untuk masuk Akademi Kepolisian (Akpol) mengikuti jejak sang paman yang juga merupakan anggota polisi. Di sekolah dan keluarga, Pazi dikenal sebagai sosok yang baik.
Penulis : Khairul S
Editor : Wak JK
