Kisah Satu Keluarga di Lingga yang Berjuang Melawan Depresi

Hidup yang tenang, nyaman dan bahagia adalah dambaan semua orang. Sehingga menjadi wajar saat semua orang juga berlomba lomba mengejar kebahagiannya masing-masing.
Namun sepertinya berbeda cerita dari satu keluarga di Kampung Nerakak, Kecamatan Singkep Pesisir, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau
Keluarga yang mendiami sebuah rumah di jalan Air Bedegam RT 03/RW 04 Desa Sedamai itu, sedang diuji dengan rasa depresi. Dimulai dari sang ayah, ibu, dan ketiga anaknya.
Kisah depresi ini pun diakui langsung oleh Widi (26), putera satu-satunya sekaligus anak bungsu dari keluarga tersebut. Ia yang saat ini merasa lebih baik dari sebelumnya mau berbagi cerita kepada kepripedia saat berkunjung ke kediamannya, Rabu (7/4) lalu.
Widi menyebutkan, depresi itu dialami ayahnya yang berusia 84 tahun dan ibunya berusia 68 tahun. Kemudian kedua kakak perempuannya, Farida (34) dan Erna (42).
Ia bercerita kondisi itu bermula sejak bulan Januari 2021, setelah ia memutuskan pulang kampung dari merantau di Kota Batam karena kabar ibunya yang sakit.
"Jadi mamak itu rasanya takut. Seperti ada orang yang mau masuk rumah," kata Widi memulai cerita.
Bahkan rasa takut itu semakin menjadi, seperti khawatir ada yang mau membunuh dan menculik. Sehingga dirinya pun dilarang untuk pergi bekerja.
Perasaan seakan ada yang datang ke rumah itu berlanjut. Bahkan pernah suatu ketika, kata Widi, keluarganya seperti ada yang datang memberitahu untuk mengambil barang di warung dekat rumahnya. Yang membayar adalah tetangganya.
"Tapi nyatanya tidak ada yang ngirim pesan itu," ceritanya.
Mengenai kondisi saat ini, menurut Widi sang ibu masih mengalami rasa takut. Namun dalam beberapa hari terakhir tidak ada tindakan yang menonjol.
"Sekarang barang-barang tajam masih disembunyikan. Khawatir terjadi hal-hal yang tak kita inginkan," lanjut Widi.
Sementara itu, Widi menyebutkan jika kakak perempuannya, Farida yang juga mengalami depresi diduga bermula saat masih bersama suaminya.
Sang kakak kerap mendapat perlakuan fisik dan mendapat tekanan dari suaminya. Padahal, kakaknya tersebut telah memiliki tiga orang anak.
"Tapi kakak sekarang sudah cerai. Cuma ya masih depresi dan trauma," imbuhnya.
Sedangkan kakak perempuan tertua, Erna yang juga mengalami depresi masih dirawat oleh suaminya sendiri. Namun widi tak merinci penyebab depresi yang dialami kakak perempuannya ini.
"Bersyukur suami kak Erna ini setia merawat istrinya. Suaminya juga berusaha untuk kesembuhan istrinya," sebut pria yang masih lajang ini.
Sementara dirinya sendiri, Widi mengaku sudah bisa lepas dari rasa takut dan depresi itu. Hal itu berkat bantuan dan dorongan sahabat serta tetangga. Namun ia juga merasa sedih saat sebagian orang menganggap keluarganya gila.
Kini Widi harus menjadi tulang punggung keluarganya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dengan menjadi pekerja serabutan.
"Ada abang, tapi sudah meninggal dunia. Juga mengalami gangguan kejiwaan," lanjut Widi yang dulunya juga pernah menjadi Kepala Dusun setempat.
Upaya Pengobatan
Widi lanjut mengisahkan kondisi keluarganya. Teman teman pemuda di kampungnya pernah ikut menggalang dana untuk pengobatan keluarganya. Ia pun mengaku terharu dan mengungkapkan rasa terima kasihnya atas inisiatif kelompok pemuda tersebut.
"Hingga itu terkumpul sebanyak Rp 700 ribu. Uang yang terkumpul tersebut untuk membantu pengobatan ibu saya dengan metode merukiah," terangnya.
Namun pengobatan itu belum membuat ibunya sembuh sepenuhnya dari depresi.
Ia berharap ibu dan ayah berserta kakaknya segera bisa sembuh dari depresi tersebut. Namun hingga kini dirinya masih bingung dengan cara apa agar bisa pulih kembali.
"Kalau untuk berobat dengan cara terapi atau ke psikolog terus terang dirinya tidak mampu karena membutuh kan biaya," demikian Widi.
Tanggapan Dinsos Lingga
Plt Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lingga, Kisanjaya mengaku prihatin atas kondisi yang menimpa keluarga Widi tersebut. Ia menyebutkan jika pihak Dinas Sosial sudah menyambangi langsung kediaman keluarga itu.
Kisanjaya mengucapkan rasa terima kasihnya kepada media yang ikut menyampaikan informasi pemerlu pelayanan kesejahtraan sosial.
"Menyikapi hal tersebut, kita pantau di làpangan langsung bersama kepala desa serta perangkatnya, Kamtibmas dan para pemuda," ucap Kisanjaya, Jumat (9/4).
"Alhamdulliah pemerintah daerah melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Pelindung anak, 4 orang dalam satu KK mengalami depresi sudah termasuk dalam data kementrian sosial yaitu Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS)," tambahnya.
Artinya, lanjut Kisanjaya, keluarga tersebut dalam pantau pemerintah yaitu mereka dapat Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH)
"Mereka dapat sembako dan dari PKH bantuan dana serta pelayanan kesehatan gratis," lanjutnya.
Kisanjaya menyebutkan jika pihak desa berkerjasama dengan para pemuda dinilai sudah cukup peduli. Seperti saat keluarga tersebut mengambil sembako disalah satu warung. Warga melalui pemuda turut membantu melunasinya.
