Kumparan Logo
Konten Media Partner

Menelusuri Tradisi Cin Ming di Kepulauan Riau

kepripediaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Menelusuri tradisi Cin Ming di Kepulauan Riau. Foto: Kepripedia
zoom-in-whitePerbesar
Menelusuri tradisi Cin Ming di Kepulauan Riau. Foto: Kepripedia

Tradisi ziarah kubur atau Sembahyang Kubur Marga Tiong Hua

Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau adalah negeri Melayu yang sejak ratusan tahun lalu di masa kejayaan sultan-sultan dan raja-raja kerajaan Riau-Lingga sudah menjalin hubungan dagang dan buruh dengan negeri Tiongkok. Tak heran jika nenek moyang orang Tiang Hua beserta tradisinya masih melekat di negeri dengan julukan Bunda Tanah Melayu ini.

Dibalik tradisi tersebut, ada beberapa tradisi yang menarik perhatian kepripedia untuk menelusuri lebih jauh, tentang tradisi Cin Ming atau sembahyang kubur.

Menurut para sesepuh Tionghua dan orang Tionghua pada umumnya tradisi tersebut lebih sakral dan lebih penting ketimbang tradisi Imlek.

Sejak 21 Maret, ritual sembahyang kubur sudah dimulai dengan cara, dan tradisi sesuai dengan marga masing masing. Puncaknya, jatuh pada hari Jumat, (05/04).

"Sudah dimulai sejak maret, tergantung marga keluarga, contohnya marga Cong tanggal 3 Maret, ada juga marga Pang tanggal 4 April," ungkap Ketua Yayasan Rumah Duka, Halim Untung, yang mengakomodir Marga Campuran Tionghoa di Pulau Singkep.

Di Kepulauan Riau terdapat yayasan yang bernama Bhakti Singkep Sejahtera. Yayasan ini sendiri sudah membentuk kepanitiaan melaksanakan sembahyang kubur pada 17 Maret lalu dengan berbagai rangkaian acaranya.

Ibadah ini dinilai ibadah wajib untuk semua ahli waris leluhur yang telah tiada. Meski menurut Halim tidak ada sanksi jelas, tapi berbagai hal yang tidak diharapkan bisa saja datang karena tidak mengirimkan doa dan penghormatan kepada leluhur.

Kepripedia berkesempatan melihat langsung prosesi sembahyang kubur bersama dengan orang Tionghoa lainnya di komplek pemakaman China Bukit Asam, Dabo Singkep.

Peserta sembahyang kubur saat meminta izin san mendoakan tuan tanah. Foto: kepripedia/Aulia

Tradisi ini dilaksanakan umumnya pada pagi hari, dengan menyajikan berbagai sajian makanan yang diperuntukan bagi leluhur mereka.

Acara yang dimulai pada pukul 09.00 WIB tersebut, diikuti seluruh etnis Tionghoa yang hadir dari berbagai marga yang telah bersiap untuk melaksanakan sembahyang.

Dimulai dari memakai selendang lambang kemegahan, menghidupkan dupa dan juga ada yang menaburkan kertas doa di atas tanah makam.

Kemudian dilanjutkan dengan prosesi meminta izin tuan tanah atau diyakini sebagai arwah penunggu kuburan, doa-doa pun mulai dipanjatkan dengan dipimpin oleh seorang pemandu doa. Setelah itu baru masuk ke acara inti sembahyang di makam leluhur.

Ada tiga doa yang dikirimkan dalam prosesi sembahyang kubur. Setiap doa tersebut diselingi dengan menuangkan teh atau arak kedalam cangkir yang sudah disediakan di depan makam.

Doa pertama ditujukan untuk kedamaian, keamanan dan kebaikan Indonesia. Kemudian setelah diselingi menuang teh atau arak, doa kedua ditujukan untuk kebaikan orang-orang yang memberikan sumbangsih terhadap yayasan dan tradisi sembahyang kubur.

Sedangkan doa ketiga dikhususkan untuk keamanan dan kedamaian kota Dabo Singkep dan sekitarnya agar terhindar dari marabahaya dan hal buruk lainnya.

Setelah memanjatkan doa, dupa sembahyang yang dipegang jemaah ditancapkan di tanah sekitaran makam.

Bersiap sebelum mendoakan leluhur dan sebagian menancapkan dupa ke tanah sekitar makam. Foto: kepripedia/Aulia

Ini merupakan ibadah yang bersifat keseluruhan, sekaligus untuk mewakili leluhur yang belum didoakan atau tidak didatangi keluarganya.

T. Cintatso seorang tokoh politik di Provinsi Kepulauan Riau yang hadir saat ritual Cin Ming, mengaku ibadah tersebut tidak saja ritual-ritual semata. Menurutnya momen ini bisa menjadi ajang kumpul keluarga, seperti yang ia rasakan sebagai salah satu keluarga Tionghoa marga Huang.

"Meski tidak keseluruhan dari total 800 marga yang ada. Kita dapat bertemu, seperti saya Marga Huang. Kita juga ada Rapat Kordinasi marga hingga internasional," ungkap Cintatso.

Berkumpul dengan keluarga kecil ataupun seetnis ini di pelaksanaan sembahyang kubur, tidak hanya pada waktu ibadah, melainkan juga dengan waktu jamuan makan.

"Setelah doa dimakam ini, sorenya kita ada jamuan makan, siapa saja boleh datang," ujar Cintatso.

Atribut Ritual Sembahyang Kubur

Ritual sembahyang kubur Cin Ming ini juga terdapat aneka atribut prosesi sembahyang. Mulai dari aneka makanan sesembahan dan enam ekor babi yang terpajang didepan makam.

"Tak ada ketentuan khusus makanan yang disajikan. Apa saja boleh," ungkap Halim yang juga mengkoordinasikan prosesi sembahyang kubur.

Halim mengungkapkan, semua atribut tersebut merupakan sumbangan yang diberikan orang-orang secara pribadi sebagai bentuk solidaritas karena prosesi tersebut ditujukan untuk leluhur secara keseluruhan.

Semua atribut tersebut, dapat dibeli di hampir semua toko-toko orang Tionghua yang ada di Kepulauan Riau, dan untuk wilayah pembuatannya dibuat di salah satu toko di Kota Tanjungpinang.

"Didabo tak ada pabrik, kalau di Pinang ada pabrik kertas sembahyang, lilin dan dupa khusus untuk ibadah kami," terang Halim.

Mengenai hewan Babi menurut Halim, babi yang layak untuk ibadah saat ini mulai sulit didapati di Lingga khususnya Dabo Singkep.

Panitia harus memesan bahkan membeli sejak masih anak dan dipelihara, yang memang dipersiapkan khusus untuk agenda tertentu seperti saat sembahyang kubur ini. Harganya pun cukup fantastis, seekor babi dengan berat 60-70 Kg bisa dihargai sekitar Rp 3 juta.

"Sekarang disini (Dabo Singkep) susah, untuk acara makan makan sengaja kita pesan daging babi dari Batam yang sudah disterilkan," ucap pemilik Showroom Suzuki tersebut.

Sesajian yang diletakkan di tempat doa tuan tanah. Foto: kepripedia/Aulia

Marga Tertua Tionghua di dunia di Pulau Singkep

Toleransi yang sangat tertanam kuat di kehidupan masyarakat Lingga sejak dulu, dapat dibuktikan dengan makam China yang diketahui sudah ada sejak abad 18 bahkan sebelumnya.

Dalam pelaksanaan sembahyang kubur, Dabo Singkep, Lingga menjadi tujuan dari berbagai etnis Tionghoa dari penjuru dunia. Seperti Hongkong, China bahkan Amerika.

"Singapura Malaysia banyak, bahkan Amerika, kalau yang suami istri di sana dari Hongkong, wajar tak bisa bahasa Indonesia," ujar Halim.

Ia mengaku, yayasan yang ia pimpin sengaja membuka prosesi sembahyang kubur sejak 2 minggu lalu, mengantisipasi kendala seperti hotel dan transportasi laut penuh karena ramainya.

Prosesi doa di makam leluhur secara keseluruhan. Foto: kepripedia/Aulia

"Malaysia bisa dibilang tidak ada tradisi ini, karena makam leluhurnya banyak di sini," ungkap Halim.

Selain makam Marga Campuran, terdapat makam leluhur atau makam tertua dua marga besar di dunia, yakni Marga Pang dan Marga Cong. Ini menjadi alasan lain Dabo Singkep akan dipenuhi keturunannya saat tradisi sembahyang kubur.

Halim yang sepanjang kegiatan menjadi guide eksclusive kepripedia menerangkan bahwa tidak ada unsur agama dalam tradisi ini.

Keturunan yang kristen, budha bahkan Islam ada yang datang ke makam untuk menghormati leluhurnya. Minimalnya, lanjut Halim, mereka membersihkan makam tersebut dan berdoa dengan keyakinan masing masing.

Sembahyang kubur ini masih berlanjut hingga tanggal 15 April mendatang paling terakhir. Setelahnya, momen lain yang juga besar bagi etnis Tionghoa yakni Sembahyang Rebut.

"Nanti selain ini, sembahyang rebut juga momen spesial, Agustus nanti," tutup Halim.

--

(Tim kepripedia)