Kumparan Logo
Konten Media Partner

Mengenal Tradisi Menungkah di Kampung Gisi Bintan, Kepri

kepripediaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas warga mencari kerang yang disebut Menungkah. Foto: Milyawati/kepripedia.com
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas warga mencari kerang yang disebut Menungkah. Foto: Milyawati/kepripedia.com

Bak lapangan luas terbentang. Air laut surut jauh nun di ujung pulau. Padang lumpur yang berada di teluk, jadi pandangan di pesisir Kampung. Dengan berlatar belakang Gunung Bintan, tampak warga sedang berseluncur di atas papan, layaknya sedang berselancar. Inilah, salah satu tradisi yang dikenal dengan menungkah di Kampung Gisi, Bintan, Kepulauan Riau.

Setelah tim Kepripedia mencoba mendekat, ternyata bukan sengaja untuk bermain saja, tapi mereka sedang berkarang yakni mencari kerang, gonggong dan hewan laut lainnya.

Salah satu orang tertua di Kampung Gisi, Samit mengatakan cara mencari kerang seperti ini merupakan salah satu mata pencarian yang sudah ada sejak dulu dari nenek moyang mereka, yang merupakan orang laut. Kebiasaan ini umumnya ada di daerah pesisir Sumatera Timur. Sedangkan di Bintan terdapat di Kampung Gisi.

"Inilah kerja orang tua-tua kita dulu. Kalau petang macam gini, ni lah kegiatan masyarakat sini. Tergantung pasang surut. Kalau air surut barulah bisa menungkah. Kalau petang masih nampak. Kalau malam ya pakai senter untuk penerangan." kata Samit. Sabtu, (15/11).

Menungkah juga disebut mudflats surfing. Sebilah papan dengan panjang sekitar 1 meter menjadi tumpuan atau titian, membantu mereka bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Papan ini biasanya mereka sebut tongkah atau tungkah.

Cara mereka menungkah sangat unik. Lutut sebelah kiri berada di atas papan. Kaki kanan menjadi pengayuh tungkah dan kedua tangan memegang tali kendali dan bertopang di ember.

"Lumpurnya cukup dalam. Bisa mencapai lutut orang dewasa. Tentunya sulit untuk berjalan. Butuh waktu yang lama untuk berkarang. Dengan tungkah inilah memudahkan untuk bergerak." terang Samit.

Anak-anak ikut mencari kerang di sekitar pesisir pantai di pulau Bintan, Kepulauan Riau. Foto: Milyawati.

Layaknya surfing, mereka dengan lincahnya berseluncur kesana kemari. Sesekali penungkah berhenti. Tangan mereka meraba ke dalam lumpur dan mengambil kerang. Lalu, dimasukkan ke dalam ember. Tak hanya laki-laki, perempuan juga sangat gesit menungkah. Bahkan anak-anak pun begitu lihai mengikuti orang tuanya.

Samit mengatakan tradisi ini bukan hanya dilakukan oleh warga Kampung Gisi saja. Ada 2 desa lain yang berada dekat dengan teluk yakni Desa Tanah Merah dan Desa Tembeling Tanjung.

"Kalau tradisi ini bisa dijadikan acara besar, kami sangat bersyukur sekali. Orang dapat mengenal tradisi menungkah di Kampung Gisi, Bintan." harap Samit.

Seorang remaja perempuan bernama Yasri tak ikut ketinggalan. Ia begitu mahir mengendara tungkah. Tampak di dalam ember yang ia punya, ada banyak kerang dan gonggong.

"Kalau sudah menungkah, ini lah yang kami dapat. Ada gonggong, serunting, kerang, udang ketah, bahkan ketam. Kalau lebih lama lagi cari, makin banyak dapat." ucap Yasri.

Semua hasil tangkapan biasanya untuk menunjang perekonomian mereka. Dijual ke penampung yang berada di Kampung Gisi yaitu Samit dan Ripin yang juga sebagai Ketua RT di Kampung Gisi.

"Sewaktu sebelum corona untuk penjualan lumayan. Kalau sekarang susah. Paling hasil tangkapan untuk dikonsumsi sendiri." tambah Yasri.

Pembuatan Sebilah Tungkah

Sebuah tungkah biasanya terbuat dari belahan kayu besar yang utuh. Tapi, juga bisa dibuat dari gabungan belahan papan. Panjang tungkah rata-rata 1,5 meter hingga 2 meter, dengan lebar sekitar 50 cm sampai 80 cm. Ketebalannya mulai dari 3 cm hingga 5 cm.

Pada umumnya jenis kayu yang digunakan adalah kayu pulai dan jelutung. Kayu-kayu ini lebih ringan dari kayu lainnya. Ujung tungkah berbentuk lonjong atau lancip dan agak sedikit melentik ke atas. Fungsinya agar tungkah tidak menghujam atau masuk ke dalam lumpur sewaktu digunakan. Mirip seperti papan selancar.

"Kalau bisa buat sendiri. Mereka buat sendiri. Kalau tak pun mereka beli yang sudah jadi. Banyak yang pandai buat,"

"Untuk sebilah tungkah harganya sekitar seratus ribu. Ada juga yang lima puluh ribu. Itu yang belum jadi. Kalau dah di ketam atau dihaluskan itu seratus ribu atau delapan puluh ribu. Tergantung orang yang jual." tandas Samit.

Samit berharap tradisi menungkah ini dapat terus terjaga dan ada di Kampung Gisi. Sebagai sebuah peninggalan leluhur dulu. Bahkan ia juga sangat ingin tradisi ini bisa dikenal orang banyak.