kumparan
8 Maret 2019 1:49

Mereka Masih Seperti yang Dulu: Mendayung Sampan Menuju Sekolah

Mereka melepas sepatu bukan karena kebanjiran, tapi karena takut basah terkena percikan ombak saat menyeberangi lautan sepulang dari sekolah. / F. Nurjali
Oleh: Nurjali
Di perkotaan, kita sudah biasa melihat anak-anak sekolah meramaikan suasana hiruk pikuk pagi, dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat menuju tempat mereka menuntut ilmu. Namun, pemandangan itu jauh berbeda ketika kita menyambangi pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau, khususnya di Kabupaten Lingga, di mana anak-anak di sana masih sama seperti yang dulu, bertarung nyawa menyeberangi laut.
ADVERTISEMENT
Ke mana? Untuk apa? Ke sekolah, untuk menuntut ilmu.
Ini bukan sebatas mempertahankan budaya mereka, tapi kemampuan anak-anak mendayung sampan dan menyeberangi laut, seakan sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan demi memudahkan mereka menuju sekolah, demi menuntut ilmu. Faktor geografis, daratan yang terpisah-pisah oleh laut, memaksa anak-anak di seputaran pulau ini harus memiliki keterampilan menakhodai sampan untuk sampai di sekolah.
Sekolah tentu merupakan pilihan wajib bagi anak-anak di pulau agar kualitas hidup mereka lebih baik dari orang tuanya atau kakak-kakaknya. Bagi dua bersaudara Rendi dan Ina--panggilan salah dua siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Kepulauan Posek--mendayung sampan bukan sesuatu yang luar biasa, karena hal itu sudah menjadi terbiasa bagi mereka.
Permainan anak-anak di pulau masih seperti yang dulu main tali merdeka dan lompat belon. / F. Nurjali
Bahkan, jika anak-anak di kota sibuk bermain game di gadget mereka, dan menonton kartun atau sinetron setelah pulang sekolah, kedua bersaudara ini akan lebih sibuk mengumpulkan kerang-kerang atau siput-siput di pantai untuk dijadikan lauk pauk. Hasil kumpulan mereka juga bisa dijual untuk membantu perekonomian keluarga.
ADVERTISEMENT
Bagi mereka, handphone adalah sesuatu yang langka. Meskipun orang tua mereka atau abang-abang mereka ada yang menggunakan ponsel, tetapi ponsel tersebut tidaklah secanggih ponsel yang bisa memotret atau mengakses internet.
"Kenal itu ponsel, tapi kan cuma HP senter yang penting bisa menelepon," kata Limau, salah satu warga pulau setempat.
Jauh dari glamornya kehidupan kota, anak-anak setempat sangat menjaga adat budaya. Bagi mereka, pendidikan nomor satu, tetapi tidak sedikit juga anak-anak di sekitar yang tidak tamat sekolah dasar. Peraih gelar S1 pun masih sangat terbatas.
Fakta tersebut tidak menjadi penghalang bagi Rendi dan Ina, meski belum tahu apakah nanti akan melanjutkan sekolah atau tidak. Akan tetapi, cita-cita untuk menyelesaikan pendidikan setinggi mungkin masih terlihat dari raut dan cerita-cerita mereka.
Salah satu alternatif pelajar menggunakan pompong jika gelombang tinggi
ADVERTISEMENT
Ketika itu, Kepripedia sedang melakukan peliputan salah satu anggota DPRD Lingga, yang kebetulan melakukan reses di beberapa pulau di Kepulauan Posek. Permintaan yang pertama kali disampaikan oleh masyarakat adalah meminta agar pemerintah memberikan fasilitas tranportasi yang layak untuk anak-anak sekolah di pulau tersebut.
"Selama ini anak-anak di sini menggunakan sampan, kami berharap agar dibantu dibuatkan pompong melalui dana desa atau anggaran pemerintah daerah," kata Limau, salah satu warga, Pulau Besi Desa Busung Panjang Kecamatan Kepulauan Posek, kepada Anggota DPRD Lingga, Neko Wesha Pawelloy.
Memang diakuinya, tidak setiap saat anak-anak tersebut menggunakan sampan. Saat cuaca-cuaca tertentu atau musim gelombang kuat, orang tua mereka akan mengantarkan mereka menggunakan pompong (sejenis kapal) yang lebih besar. Namun, di saat musim-musim biasa, anak-anak di pulau tersebut akan dibiarkan menggunakan sampan karena kalau terus-terusan menggunakan pompong, mata pencaharian orang tua mereka akan terganggu.
ADVERTISEMENT
Pompong yang digunakan tersebut adalah pompong-pompong pribadi yang juga digunakan untuk mencari ikan di laut atau sebagai mata pencaharian dan pendapatan perekonomian mereka.
Kehidupan anak-anak di pulau ini sangat jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak di perkotaan. Harapan dan cita-cita mereka harus dipertaruhkan dengan nyawa dan keberuntungan.
Harta terbesar bagi mereka adalah menggapai cita-cita mewujudkan pendidikan tertinggi, karena bagi mereka pencapaian lulus sekolah sembilan tahun saja sudah menjadi hal yang luar biasa, apalagi jika mampu mencapai tingkat perguruan tinggi.
Editor: Hasrullah
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan