Kumparan Logo
Konten Media Partner

Nasi Dagang Tambul Pelengkap Mandi Safar di Lingga, Kepulauan Riau

kepripediaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Duduk bersila menanti hidangan. Foto : WJK
zoom-in-whitePerbesar
Duduk bersila menanti hidangan. Foto : WJK

Sebelum memulai prosesi mandi safar di Bunda Tanah Melayu, Daik Lingga, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Kepri) beberapa waktu yang lalu, ada dua hidangan sebagai tambul yang dijamu kepada tamu-tamu yang hadir pada kegiatan tersebut. Keduanya adalah makanan khas melayu Kabupaten Lingga, yaitu Nasi Dagang melayu dan penganan bakar yang manis sebagai pencuci mulut.

Sambil duduk bersila di lantai di dalam Balai adat Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Lingga, para undangan dan masyarakat pun siap menikmati hidangan yang telah disediakan, setelah sebelumnya mendengarkan sepatah dua patah kata dari Sekretaris Daerah Kabupaten Lingga.

Sepintas tentang Nasi Dagang. Nasi Dagang adalah nasi yang dibungkus dengan daun pisang segar, membentuk segitiga piramida terbalik. Itu merupakan beras, yang ditanak dengan santan sehingga memiliki aroma khusus dan disajikan dengan lauk pauk ikan atau sotong dari laut yang segar.

"Lauknya itu bermacam-macam ada yang ikan labak (teri besar) tamban, sotong, udang dan kerang yang dimasak pedas," kata Indah salah satu pembuat Nasi Dagang di Dabosingkep, kepada kepripedia, Sabtu (26/10).

Hidangan nasi dagang. Foto : WJK

Lauk-lauk tersebut dimasak dengan dengan rempah-rempah khas Melayu, yang di dalamnya ada alba, cengkeh, kayu manis dan bahan lainnya. Bahan-bahan tersebut membuat Nasi Dagang Melayu ini memiliki aroma serta cita rasa yang khas, dan berbeda dengan Nasi Dagang dari daerah lainnya.

Istilah Nasi Dagang sendiri, menurutnya dibawa oleh para perantau yang artinya nasi yang dijual.

"Nasi Dagang sudah menjadi khas sarapan pagi bagi masyarakat Lingga. Banyak dijual di warung-warung kopi atau penjaja sarapan pagi," sebut Indah. Wanita yang berprofesi ibu rumah tangga ini sudah menjajakan Nasi Dagang puluhan tahun lamanya.

Nasi Dagang lau ikan tuna. Foto : WJK

Nasi Dagang yang dihidang dalam talam. Ditutup dengan tudung saji khas Melayu dan dimakan beramai-ramai. Tiap hidang disajikan untuk lima orang. Begitu nikmat mengisi perut yang lapar sejak pagi.

Selain Nasi Dagang ada juga Penganan Bakar, makanan pencuci mulut yang manis. Dibalut warna hijau daun pandan, tampilannya sungguh menggugah selera.

Dalam buku persembahan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Lingga, Pengangan Bakar atau sering juga disebut Binka Bakar ini merupakan salah satu makanan khas yang juga sering dihidangkan di balai-balai hajatan pernikahan, termasuk dalam kueh-mueh pengantin.

Sebagai makanan pencuci mulut, dihidangkan dalam balai jamuan resepsi pernikahan panganan bakar bermakna "Di dalam rumah tangga harus tahan tempa, tahan banting dan susah sama susah senang sama senang."

Bahan-bahan untuk membuat Penganan bakar ini sangat sederhana. Hanya terdiri dari tepung terigu, gula pasir, santan kelapa, telur, dan daun pandan. Semua bahan-bahan tersebut kemudian dibakar dengan loyang khusus.

Penganan bakar Foto : WJK

Rasanya yang manis dan khas, sangat serasi disandingkan dengan Nasi Dagang yang pedas. Rasa pedas akan hilang ketika memakan Penganan Bakar, setelah menyantap Nasi Dagang.

Setelah menikmati hidangan beramai-ramai, barulah prosesi mandi safar yang sakral pun dimulai dengan khusyuk dengan doa-doa harapan dan niat yang tulus. Kegiatan ini dipandu para ulama dan tetua di kampung tersebut.