Sejarah Berdirinya Museum Timah Singkep di Lingga, Kepulauan Riau

Pulau Singkep
Pada tahun 1950-an hingga 1990-an, di Pulau Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, pernah berdiri perusahaan besar yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Perusahaan Negara Timah Singkep namanya, yang cukup dikenal hingga mancanegara.
Namun, akhirnya perusahaan itu kolaps dan bangkrut. Penyebabnya adalah tata kelola yang buruk dan kondisi politik Indonesia yang terus bergejolak.
Aset-aset perusahaan pun terbengkalai. Banyak bangunan tua berarsitektur Belanda yang menjadi kosong tak berpenghuni. Kesan angker menyelimuti bangunan-bangunan perkantoran yang tadinya berdiri megah. Jalan-jalan utama di sekitarnya pun dipenuhi semak belukar.
Masyarakat juga mengeluhkan banyaknya kolong-kolong bekas galian penambangan. Sebab, kolong-kolong itu tidak sedikit memakan korban jiwa dan juga kerap menjadi sumber sarang nyamuk.
Puluhan tahun lamanya, Pulau Singkep menjadi pulau mati. Pasca-reformasi, banyak daerah-daerah yang mendapat peluang besar untuk melakukan pemekaran.
Meski tidak menjadi ibu kota dari wilayah yang jadi dampak pemekaran tersebut, tetapi tetap banyak masyarakat yang tertarik tinggal di sana. Sebab, banyaknya aset yang ditinggalkan oleh perusahaan timah dan kultur masyarakatnya bersifat heterogen.
Pulau Singkep menjadi kawasan dengan jumlah penduduk terbanyak dan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Kabupaten Lingga. Untuk menjadi kabupaten/kota yang mandiri, Singkep sebenarnya sudah memiliki modal yang besar, baik luas wilayah hingga dukungan infrastruktur. Namun, kebijakan politik berkata lain, demi kesejahteraan seluruh masyarakat di sekitarnya.
Ide Lahirnya Museum Timah Singkep
Setelah kurang lebih belasan tahun Kabupaten Lingga berdiri dan melewati tiga kali pemilihan kepala daerah secara langsung, pembangunan Pulau Singkep masih terlihat jalan di tempat. Hal ini sejalan dengan jalannya pemerintahan di Bunda Tanah Melayu--julukan Kabupaten Lingga.
Kini, Lingga dipimpin oleh bupati bernama Alias Wello (Awe) dan wakilnya yang bernama Muhammad Nizar. Awe adalah putra daerah kelahiran Dabosingkep, sementara Nizar kelahiran Desa Kolombok Daik Lingga. Pasangan yang menjabat pada periode 2016-2021 ini membuat berbagai terobosan untuk mengatasi permasalahan di Kabupaten Lingga.
Pasangan Awe-Nizar merombak sejumlah kabinetnya hingga mengubah beberapa Nomenklatur Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), sehingga lahirlah beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) baru. Salah satunya adalah Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, yang sekarang menjadi OPD tersendiri, padahal sebelumnya bergabung dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Lingga.
Jabatan Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga kini diemban oleh Drs. Datok Muhammad Ishak. Tidak lama setelah ditunjuk, ia juga dinobatkan menjadi Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Lingga.
Berbekal pengalaman sebagai camat dan aparatur sipil negara yang pernah menduduki beberapa jabatan strategis, Ishak merintis berbagai ide dan konsep di bidang kebudayaan. Pria kelahiran Lingga ini menularkan konsep-konsep pemikirannya untuk menggali potensi yang ada di Kabupaten Lingga, yang tidak hanya terfokus pada kemegahan peninggalan Kerajaan Riau Lingga saja.
Dari berbagai konsep tersebut, dengan anggaran yang minim untuk sebuah pekerjaan yang besar, tidak membuat tokoh melayu yang satu ini berhenti bekerja. Terbukti, pada 23 Mei 2019, Ishak bersama perwakilan Bupati Lingga meresmikan Museum Timah Singkep (MTS), bangunan yang akan menjadi ikon baru di Kabupaten Lingga, meski bangunannya tak terkesan megah.
"Insyaallah akan diresmikan Bupati Lingga 23 Mei," ungkap Datok Muhammad Ishak kepada awak media.
Ishak menyebut Museum Timah Singkep akan memuat beragam benda bersejarah peninggalan masa kejayaan Pulau Singkep sebagai penghasil timah (Stannium). Dan ini merupakan museum kedua di Kabupaten Lingga, yang boleh dikatakan isinya merupakan perubahan dari zaman ke zaman, di zaman kerajaan dan di zaman semi-modern.
"Di Daik Lingga ada Museum Linggam Cahaya untuk menyimpan barang peninggalan Kerajaan Riau Lingga, kalau museum timah ini peninggalan dari masa jayanya timah di Singkep," ujarnya.
Nantinya, di Museum Timah Singkep akan dipajang koleksi peninggalan dari Unit Pengelola Timah Singkep (UPTS). Ada pun, benda peninggalan tersebut berasal dari hibah beberapa eks karyawan UPTS, masyarakat umum, dan beberapa tokoh.
Tercatat, kini sudah ada 637 koleksi peninggalan masa kejayaan tambang timah di Pulau Singkep. Untuk sementara, museum masih menggunakan gedung sementara yang sederhana. "Kita berharap ke depannya dibangun gedung museum yang representatif sesuai standar kelayakan museum," tutur Ishak.
Upaya Datok Muhammad Ishak untuk merealisasikan Museum Timah Singkep juga disambut baik oleh semua pihak. Dirinya mengaku telah berkoordinasi dengan pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sebagai pihak pengamanan museum nantinya dan pihak Kecamatan Singkep sebagai pemilik wilayah Pagoda tempat bangunan sementara museum timah berada.
Diresmikan pada Bulan Ramadan
Bulan Ramadan dipercaya oleh umat Islam sebagai bulan yang penuh berkah. Semarak Ramadan juga tampak di Lingga yang mayoritasnya adalah muslim.
"Tidak Melayu kalau tidak Islam, tapi Islam belum tentu Melayu," begitulah ungkapan yang sering dilontarkan oleh beberapa tokoh Melayu di Nusantara.
Ishak mengatakan, alasan peresmian Museum Timah Singkep di pertengahan bulan Ramadan tidak lepas dari nilai religius.
"Kenapa di bulan Ramadan? Pertimbangannya ialah mengharapkan keberkahan di bulan yang penuh berkah ini. Agar ke depannya MTS dapat berkembang dan memberikan nilai nilai positif bagi masyarakat," ungkap Ishak.
Selain itu, kata Ishak, ada juga harapan dari sisi ekonomi terkait dengan tradisi mudik lebaran Idul Fitri. Momen mudik tersebut adalah waktu yang sangat pas untuk menarik antusiasme masyarakat, khususnya bagi masyarakat Singkep di perantauan yang pastinya diharapkan sangat peduli terhadap kampung halamannya.
Dukungan Eks Karyawan Timah
Gagasan Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas Kebudayaan untuk menciptakan sebuah wadah koleksi kejayaan timah di Singkep juga disambut baik oleh mantan karyawan UPTS.
"Kami dari purna karyawan timah sangat mendukung hadirnya museum timah," ungkap Rahman, Ketua Purna Karyawan Timah Singkep, saat ditemui kepripedia di rumahnya, Rabu (22/5).
Ia mewakili seluruh rekan-rekannya mengaku siap untuk membantu pengembangan museum. Menurutnya, museum itu akan menjadi wadah bagi generasi selanjutnya untuk mengenal kampung halamannya yang dulu pernah berjaya sebagai penghasil timah.
"Kami siap serahkan koleksi kami termasuk juga yang di Koperasi UPTS sekarang seperti alat kantor dan timbangan masa dulu," ujarnya.
Rahman yang dulunya mengurusi administrasi Perusahaan Negara Timah Singkep ini juga menuturkan bahwa Singkep tercatat sebagai kawasan penghasil timah terbesar pada masa kolonial Belanda.
Dilansir oleh situs resmi PT Timah, pada masa kolonial Belanda, timah di Singkep dikelola perusahaan bernama Singkep TIN Exploitatie Maatschappij (SITEM). Kemudian pada tahun 1953-1958, perusahaan itu diambil alih negara dan dikenal dengan nama PN Tambang Timah Singkep.
Namun pada tahun 1992, Rahman menyebutkan PT Timah di Singkep mengalami goncangan internal karena adanya rekonstruksi lahan. Akhirnya itu menjadi salah satu penyebab PT Timah kolaps dan harus tutup, serta karyawan yang jumlahnya sangat banyak terpaksa di-PHK.
