News
·
8 Maret 2020 9:35

Tradisi 'Tepuk Tepung Tawar' di Kepri, Simbol Permohonan Keselamatan

Konten ini diproduksi oleh kepripedia
Tradisi 'Tepuk Tepung Tawar' di Kepri, Simbol Permohonan Keselamatan (181435)
Tradisi tepuk tepung tawar dalam acara perkawinan. Foto: Dok Disbud Kepri
Prosesi Tepuk Tepung Tawar merupakan salah satu adat istiadat yang tak terlepas dari berbagai ragam kebudayaan Melayu.
ADVERTISEMENT
Di Indonesia, Tepuk Tepung Tawar telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia dari Kepulauan Riau pada tahun 2018 lalu. Prosesi ini di WBTB dikategorikan sebagai adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan.
Wakil Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau, Abdul Malik mengungkapkan, prosesi Tepuk Tepung Tawar ini salah satu adat yang penting pada di alam Melayu.
Menurutnya, tak semua unsur budaya ini diangkat menjadi adat. Namun, begitu unsur itu diangkat sebagai adat maka itu pasti dianggap sangat penting dan utama.
"Maka, prosesi ini sudah menjadi aturan, di mana pada acara-acara penting, seperti, pengangkatan jabatan, pernikahan, dan acara penting lainnya. Semuanya melakukan adat Tepuk Tepung Tawar," ucapnya saat ditemui di Kantor LAM Kepri, Jalan Haji Agus Salim Tanjungpinang, Sabtu (7/3).
ADVERTISEMENT
Ia menjelaskan, secara umum adat istiadat itu merupakan perwujudan doa selamat untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, didalam prosesinya digunakan dengan simbol-simbol melayu yang dikaitkan dengan ajaran agama Islam.
Yang menepuk tepung tawar pun, lanjut Malik, harus dilakukan sesama jenis jenis kelamin. Lelaki dengan lelaki, dan perempuan dengan perempuan. Kalau pun berbeda kelamin, namun harus muhrim.
Tradisi 'Tepuk Tepung Tawar' di Kepri, Simbol Permohonan Keselamatan (181436)
Walikota Batam saat tepuk tepung tawar oleh LAM. Foto: Dok MC Batam
"Itu makanya manakala prosesi itu dilakukan diawali dengan lafaz Allah, dan dilakukan oleh orang yang paham. Tidak boleh sembarangan orang," tegasnya.
Malik menambahkan, adat Melayu selalu menekankan pada dua nilai yakni, 'tuah' dan 'amanah'. 'Tuah' yang artinya keberuntungan berdasarkan inayah (pertolongan) Allah SWT. Sementara 'amanah' merupakan sesuatu yang dipercayakan untuk dijaga, dilindungi, dan dilaksanakan.
ADVERTISEMENT
Atas nilai itulah, adat Tepuk Tepung Tawar dianggap sangat sakral. Sehingga, tidak boleh dianggap remeh, atau dilakukan dengan sembarangan.
"Itu makanya proses ini sangat sakral karena pengharapan bagi orang yang ditepuk tepung tawar itu sangat besar. Baik itu sebagai pemimpin, pejabat, atau lainnya," tukasnya.

Bahan-Bahan, Tata Cara serta Simbol dalam Prosesi Tepuk Tepung Tawar

Prosesi tepuk tepung tawar biasanya dilakukan dalam berbagai acara. Mulai dari penabalan gelar adat, pelantikan pemimpin, peresmian tempat, pernikahan, dan berbagai acara penting lainnya.
Dalam melaksanakan adat tersebut memerlukan tata cara serta bahan-bahan yang harus disediakan. Adapun bahannya yakni, beras kunyit, beras basuh, air tepung tawar, beretih, dan air wangi.
Prosesi bertepuk tepung tawar dimulai dengan mengambil sejemput beras kunyit, beras putih dan beretih lalu ditaburkan melewati atas kepala, kebahu kanan dan kiri orang yang ditepuk tepung tawarkan.
ADVERTISEMENT
Kemudian, percikan air yang ada ke dahi atau kening, bahu kanan dan kiri, lalu di belakang telapak tangan kanan dan kiri, urutan merenjis digambarkan dalam bentuk lam alif yang bermakna Allah Berkehendak.
Budayawan Kepri, Abdul Malik menjelaskan, penggunaan bahan-bahannya pun penuh dengan simbol, seperti, beras kunyit yang berarti kemuliaan.
Tradisi 'Tepuk Tepung Tawar' di Kepri, Simbol Permohonan Keselamatan (181437)
Bahan tepuk tepung tawar. Foto: Istimewa
Lalu, ada lagi beras basuh atau beras putih yang sudah dibersihkan, melambangkan kesucian diri. Beretih atau padi yang digoreng kuning melambangkan kecermatan.
Kemudian, Air percung atau air yang harum mawar melambangkan keharuman nama. Serta, bedak langir yang dingin atau kapur, yang melambangkan tidak mudah panas menghadapi kehidupan.
"Dari simbol itu saja, sudah bisa diartikan bahwa prosesi ini sangat sakral bagi kebudayaan Melayu," kata Malik.
ADVERTISEMENT
Setelah itu, prosesi tepuk tepung tawar diakhiri dengan pembacaan doa agar orang yang ditujukan dalam keadaan selamat dan penuh keagungan.