News
·
2 Februari 2021 14:12

Waspada Virus Nipah Masuk ke Kepri

Konten ini diproduksi oleh kepripedia
Waspada Virus Nipah Masuk ke Kepri (215511)
Ilustrasi. Foto: Pixabay
Kabar mengenai menyebarnya Virus Nipah di negeri tetangga, Malaysia kini menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
ADVERTISEMENT
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepulauan Riau, Mohammad Bisri. Ia mengimbau seluruh masyarakat mewaspadai ancaman virus nipah dari negeri jiran itu. Hal tersebut mengingat Kepri dan Malaysia berbatasan secara langsung.
Menurutnya, virus tersebut berpotensi menyebar ke Indonesia melalui perantara hewan ternak babi dan kelelawar pemakan buah dari Malaysia.
"Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya kelelawar buah yang bergerak secara teratur dari Semenanjung Malaysia ke Pulau Sumatera atau melalui perdagangan babi ilegal dari Malaysia ke Indonesia," ungkapnya, Selasa (2/2).
Ia menerangkan, virus nipah pertama kali ditemukan pada tahun 1998, saat terjadinya wabah di Malaysia. Virus tersebut diketahui menginfeksi babi, kemudian menularkannya ke manusia hingga memakan korban jiwa hingga jutaan orang pada 1999. Nama virus tersebut juga diambil dari sebuah desa di Malaysia yang bernama Sungai Nipah.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, Bisri mengingatkan masyarakat terutama anak-anak agar tidak mengkonsumsi buah-buahan yang pernah digigit hewan, terutama hewan kelelawar. Selain itu, saat membeli buah-buahan di pasar diimbau agar dibersihkan sebelum dikonsumsi.
"Virus nipah memang belum dilaporkan terjadi di Indonesia, khususnya Kepri. Tapi kita wajib waspada, apalagi WHO menyatakan kalau virus ini berpotensi jadi pandemi," kata Bisri.
Untuk mewaspadai virus nipah ini masuk ke Kepri, Bisri mengajak semua pemangku kepentingan terkait, seperti Kantor Kesehatan Pelabuhan dan Balai Karantina Pertanian dapat memperketat arus lalu lintas penumpang dan barang di pintu masuk Kepri.
"Mereka gerbang terdepan untuk menjaga agar virus apa pun dari luar negeri tidak masuk ke daerah kita," tutupnya.