Kumparan Logo
Konten Media Partner

Ziarah ke Makam Sayid Umar, Penyebar Islam Pertama di Pulau Buru pada Abad 15

kepripediaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Keluarga besar Nahdatul Ulama (NU) Kabupaten Karimun bersama beberapa badan otonom saat  berziarah ke makam Sayid Umar bin Sayid Salim Al Attas di Pulau Buru. Foto: Khairul S/kepripedia.com
zoom-in-whitePerbesar
Keluarga besar Nahdatul Ulama (NU) Kabupaten Karimun bersama beberapa badan otonom saat berziarah ke makam Sayid Umar bin Sayid Salim Al Attas di Pulau Buru. Foto: Khairul S/kepripedia.com

Terletak di Kampung Ujung Gersik, Pulau Buru, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, terdapat petilasan tokoh penyebar agama islam pertama pada abad 15 di Pulau buru yakni Sayid Umar bin Sayid Salim Al Attas.

Dikisahkan, Sayid Umar bin Sayid Salim Al Attas menjadi ulama yang memilik peran sentral terhadap penyebaran agama islam di wilayah itu, tepatnya pada tahun 1468-1531 silam. Makam sang ulama itu pun masih terus di rawat hingga saat ini.

Kisah tersebut diceritakan Ketua Muslimat Nahdatul Ulama (Muslimat NU) Kabupaten Karimun, Nyimas Novi Ujiani, saat melakukan ziarah ke makam Sayid Umar bin Sayid Salim Al Attas bersama beberapa badan otonom, Jumat (30/10).

"Di sini ada makam keturunan Rasulullah. Kita sangat bersyukur sekali di Kabupaten Karimun ada makam ulama yang mesti kita ziarahi,” ungkap Nyimas.

Kedatangan mereka juga sekaligus melakukan silaturahmi bersama cucu dan cicit dari Sayid Umar bin Sayid Salim Al Attas. Sang cucu yakni bernama Sayid Sofi (33), serta sang menantu, Sayid Abdul Haris bin Sahmin Al Idrus. Mereka merupakan silsilah atau masih dalam garis keturunan Sayid Umar yang memang tinggal disekitaran makam tersebut.

Nyimas menambahkan, keberadaan makam ulama ini diharapkan bisa menjadi objek pengetahuan tentang sejarah agama islam bagi masyarakat, khususnya di wilayah Kabupaten Karimun.

Makam Sayid Umar bin Sayid Salim Al Attas yang berada di Pulau Buru, Kabupaten Karimun. Foto: Khairul S/kepripedia.com

"Kegiatan ini juga hendaknya dapat menjadi acuan bagi masyarakat, dimana kita disunnahkan bertawashul menziarahi makam ulama," tuturnya.

Disekitar area makam, saat ini masih dapat ditemui warga dengan ciri-ciri seperti pada umumnya orang arab. Hidung mancung, bola mata berwarna biru keputih-putihan. Hanya saja postur tubuh yang terbilang tidak menyamai umumnya orang arab. Mereka dipastikan merupakan kelahiran Pulau Buru.

Saat ini, tersisa ada delapan Kepala Keluarga (KK) yang merupakan cucu dan cicit dari keturunan Sayid Umar bin Sayid Salim Al Attas. Di antaranya Sayid Abdurrahman, Syarifa Maryam, Syarifa Aminah, Syarifa Syifa, Sayid Syeh, Sayid Mahdar, Sayid Jafar, Syarifa Salma.

“Kedelapannya ini semua menetap di Kecamatan Buru, lalu satu diantaranya tinggal di Desa Tanjungbatu Kecil Kecamatan Buru,” kata cucu dari Sayid Umar bin Sayid Salim Al Attas yakni Sayid Sofi.

Tak jarang, keberadaan makam tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin berburu wisata religi. Itu dibuktikan masih banyak wisawatan yang kerap mengunjungi makam keturunan Rasullah tersebut. Bahkan, tidak hanya warga lokal, pengunjung yang berasal dari negeri jiran Malaysia juga bisa datang untuk berziarah.

"Jadi sudah hampir setahun tidak ada yang datang karena pandemi ini, cuma kunjungan lokal saja dari kita warga Kabupaten Karimun,” jelasnya.