Konten dari Pengguna

Belajar Ekonomi, Tapi Masih Sulit Mengatur Uang: Apa yang Salah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maria Keren Oktavia Murni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memahami ekonomi tidak cukup hanya dengan teori. Siswa juga perlu belajar menerapkannya dalam mengelola uang dan mengambil keputusan sehari-hari.

Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI Generator, 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI Generator, 2026.

Pernahkah kita berpikir, mengapa seseorang bisa belajar tentang ekonomi di sekolah, tetapi masih kesulitan mengatur uang dalam kehidupan sehari-hari?

Di kelas, siswa mungkin sudah mengenal kebutuhan dan keinginan, skala prioritas, konsumsi, tabungan, hingga konsep pengelolaan keuangan. Namun, ketika uang saku sudah berada di tangan, teori tersebut terkadang sulit diterapkan. Uang yang seharusnya cukup untuk beberapa hari bisa habis lebih cepat karena membeli makanan, mengikuti tren, berbelanja daring, atau sekadar tergoda promo.

Fenomena ini menunjukkan bahwa belajar ekonomi tidak cukup jika hanya berhenti pada pemahaman teori. Pendidikan ekonomi seharusnya membantu siswa memahami bagaimana konsep ekonomi digunakan untuk mengambil keputusan dalam kehidupan nyata.

Ketika Teori Bertemu Kebiasaan

Dalam kehidupan sehari-hari, keputusan menggunakan uang sering kali tidak sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan rasional. Seseorang bisa saja mengetahui bahwa menabung itu penting, tetapi tetap memilih menghabiskan uang untuk sesuatu yang sedang diinginkan.

Apalagi saat ini siswa hidup di tengah perkembangan media sosial dan perdagangan digital. Berbagai iklan, promo, tren, dan konten gaya hidup dapat muncul hanya dengan membuka layar ponsel.

Kalimat seperti “mumpung diskon”, “cuma sekali”, atau “teman-teman juga punya” terkadang cukup untuk membuat seseorang membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Di sinilah pendidikan ekonomi memiliki tantangan. Siswa tidak hanya perlu mengetahui perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, tetapi juga perlu dilatih untuk mengambil keputusan ketika menghadapi situasi nyata.

Pendidikan Ekonomi Harus Lebih Dekat dengan Kehidupan Siswa

Pelajaran ekonomi sering kali dianggap sebagai pelajaran yang berisi banyak konsep, istilah, dan perhitungan. Padahal, ekonomi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan siswa.

Uang saku adalah bagian dari ekonomi. Memilih membeli makanan atau menabung adalah keputusan ekonomi. Membandingkan harga sebelum membeli barang juga merupakan kegiatan ekonomi. Bahkan keputusan menggunakan uang untuk membeli barang karena terpengaruh media sosial juga dapat menjadi bahan pembelajaran ekonomi.

Karena itu, pembelajaran ekonomi sebaiknya tidak hanya meminta siswa menghafal pengertian konsumsi, produksi, atau kebutuhan. Siswa perlu diberikan kesempatan untuk melihat bagaimana konsep tersebut bekerja dalam kehidupan mereka sendiri.

Misalnya, guru dapat memberikan tugas sederhana berupa pencatatan uang saku selama satu minggu. Siswa mencatat pemasukan, pengeluaran, jenis kebutuhan, serta pengeluaran yang sebenarnya bisa dikurangi.

Dari kegiatan tersebut, siswa dapat diajak mengevaluasi kebiasaan mereka sendiri. Bukan untuk menghakimi cara mereka menggunakan uang, tetapi untuk membangun kesadaran bahwa setiap keputusan keuangan memiliki konsekuensi.

Literasi Keuangan Tidak Harus Rumit

Literasi keuangan sering terdengar seperti sesuatu yang hanya berkaitan dengan investasi, perbankan, atau pengelolaan keuangan dalam jumlah besar. Padahal, bagi siswa, literasi keuangan dapat dimulai dari hal yang sederhana.

Siswa dapat belajar membuat anggaran uang saku, membedakan kebutuhan dan keinginan, menetapkan target menabung, membandingkan harga, memahami risiko membeli secara impulsif, dan mempertimbangkan manfaat suatu barang sebelum membelinya.

Hal-hal sederhana tersebut justru dapat menjadi kebiasaan penting ketika mereka memasuki kehidupan yang lebih mandiri.

Bayangkan jika sejak sekolah seseorang sudah terbiasa bertanya sebelum membeli: “Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?”, “Apakah ada pilihan yang lebih murah?”, dan “Apakah uang saya akan lebih bermanfaat jika disimpan?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang menjadi konsumen yang lebih bijak.

Jangan Hanya Mengajarkan Cara Menghitung

Pendidikan ekonomi seharusnya tidak hanya membuat siswa mampu menghitung keuntungan, kerugian, persentase, atau pendapatan. Lebih dari itu, pendidikan ekonomi perlu membantu siswa memahami alasan di balik setiap keputusan ekonomi.

Siswa perlu belajar bahwa memiliki uang bukan berarti harus menghabiskannya. Mendapatkan diskon bukan berarti selalu menghemat. Membeli barang yang sedang tren juga tidak selalu menunjukkan bahwa barang tersebut dibutuhkan.

Dengan demikian, pembelajaran ekonomi dapat menjadi ruang untuk membentuk pola pikir kritis dalam menghadapi berbagai pilihan ekonomi.

Guru juga dapat menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan siswa. Misalnya, daripada hanya memberikan soal tentang perhitungan anggaran, siswa dapat diminta membuat rancangan penggunaan uang saku selama satu minggu dengan jumlah tertentu.

Dari sana, mereka dapat belajar menentukan prioritas, membuat pilihan, dan memahami konsekuensi dari keputusan yang dibuat.

Peran Guru Bukan Sekadar Menyampaikan Materi

Dalam konteks ini, guru ekonomi memiliki peran penting. Guru bukan hanya menyampaikan materi yang terdapat dalam buku, tetapi juga dapat menjadi penghubung antara teori dengan realitas kehidupan siswa.

Pembelajaran dapat dibuat lebih kontekstual melalui diskusi tentang fenomena yang sedang terjadi di sekitar siswa, studi kasus sederhana, proyek pengelolaan uang saku, simulasi membuat anggaran, hingga analisis kebiasaan konsumsi yang dipengaruhi media sosial.

Dengan pendekatan seperti itu, siswa tidak hanya bertanya, “Apa pengertian konsumsi?” tetapi juga mulai bertanya, “Mengapa saya membeli barang ini?” dan “Apakah keputusan saya sudah tepat?”

Perubahan pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi sebenarnya menunjukkan perubahan cara berpikir.

Ekonomi Bukan Sekadar Pelajaran, tetapi Keterampilan Hidup

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan ekonomi tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa tinggi nilai siswa dalam ujian.

Nilai memang penting, tetapi kemampuan menerapkan pengetahuan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari juga tidak kalah penting.

Siswa yang memahami ekonomi diharapkan mampu mengambil keputusan secara lebih bijak ketika menggunakan uang, menentukan prioritas, menghadapi godaan konsumsi, serta memahami konsekuensi dari keputusan ekonominya.

Karena itu, pertanyaan “Belajar ekonomi, tapi masih sulit mengatur uang: apa yang salah?” sebenarnya tidak harus dijawab dengan menyalahkan siswa.

Bisa jadi, yang perlu diperbaiki adalah cara kita mengajarkan ekonomi.

Jika pendidikan ekonomi hanya berhenti pada teori, siswa mungkin mampu menjawab soal di kelas tetapi belum tentu mampu menerapkannya dalam kehidupan. Namun, jika pembelajaran ekonomi dikaitkan dengan pengalaman nyata, uang saku, kebiasaan belanja, media sosial, dan keputusan sehari-hari, pelajaran tersebut dapat menjadi bekal yang benar-benar mereka gunakan.

Sebab, tujuan belajar ekonomi bukan hanya agar siswa memahami bagaimana uang bekerja, tetapi juga agar mereka mampu membuat keputusan yang lebih bijak ketika berhadapan dengan uang.