kumparan
search-gray
Opini & Cerita18 Juni 2020 19:42

Muslim Kreatif yang Berkarakter untuk Menyambut Revolusi Industri 5.0

Konten kiriman user
Muslim Kreatif yang Berkarakter untuk Menyambut Revolusi Industri 5.0 (363595)
ilustrasi muslim Foto: erdemdindar
Pendahuluan
Bangsa Indonesia saat ini, mau tidak mau, sedang mengikuti proses kebudayaan yang juga dihadapi masyarakat global, yaitu: revolusi industri 4.0. Era kebudayaan yang ditandai dengan transformasi disruptif pada segala bidang kehidupan ini, menuntut setiap orang memeras kecerdasan agar bisa menjadi “pemain” utama dalam prosesnya.
ADVERTISEMENT
Kehadiran internet dan teknologi informasi telah memberikan kontribusi signifikan pada semua perubahan tersebut. Perubahan tata kehidupan telah menghasilkan model budaya baru yang belum pernah ada (bahkan terfikirkan) sebelumnya.
Dalam konteks demikian, disrupsi budaya paling signifikan ini muncul dalam tata kehidupan dan hubungan sosial manusia (human being) sehari-hari. Sebagai contoh, dalam unit sosiologis terkecil, keluarga, pola komunikasi mengalami perubahan. Tidak jarang, orang tua dan anak, berkomunikasi menggunakan teknologi, mengabaikan aspek tatap muka.
Hal yang sama terjadi juga pada kehidupan sehari-hari. Relasi berbasis digital telah mengubah perilaku manusia dalam bermasyarakat. Bahkan ada benih-benih etika relasional baru yang berbasis pada budaya digital tersebut.
Relasi-relasi dan fungsi-fungsi dalam tata kelola kehidupan ini telah menunjukkan perubahan signifikan. Ada big data, yang didalamnya menginteraksikan beragam aktivitas seseorang dalam suatu identitas tunggal, yang kemudian polanya dipelajari untuk bisa dilayani kebutuhan hidupnya.
ADVERTISEMENT
Di samping dunia akan semakin tidak memiliki batas territorial karena mudahnya komunikasi, anak-anak kita juga akan hidup bersama robot, kode, algoritma, chips, memory, virtual dan sebagainya.
Di masa depan, bahkan masa ini, mereka yang masih menggunakan pola dan cara lama sudah harus siap menjadi penonton. Sebab masa depan yang sedang akan dihadapi sudah berbeda terbalik, sehingga jika tidak ada persiapan untuk mengadaptasikan diri, pilihannya sangat terbatas: tertinggal atau ditinggalkan. Masa depan inilah yang harus dihadapi oleh anak-anak kita di masa mendatang.
Sekolah Dasar Sebagai Basis Karakter
Menghadapi era yang disebutkan di atas, sistem pendidikan kita harus direvolusi secara radikal. Sebagai contoh, pada sebuah sekolah dasar yang ada di Pamulang, Sekolah Dasar Islam Pembangunan (SDI Pembangunan), para penggagasnya telah menjadi sekolah dasar ini sebagai lembaga pendidikan tingkat dasar yang menjadikan pembangunan karakter sebagai pondasi untuk menyongsong era revolusi industri 5.0.
ADVERTISEMENT
SDI Pembangunan ini telah meletakkan diri pada posisi melakukan lompatan budaya. Dipilihnya kode 5.0 yang bisa dikatakan sebagai pasca revolusi industri 4.0 merupakan paradigma yang tepat. Karena era revolusi industri 5.0 didasarkan kepada bagaimana teknologi mendukung upaya-upaya kritikal kemanusiaan dalam berbagai bidang. Di era ini, manusia menjadi titik tumpu dan poros dari kehidupan dan perubahan sosial, budaya, ekonomi, dan kebudayaan.
Dalam pengembangan, penguatan, dan perawatan karakter anak, yang bertumpu pada peningkatan kualitas dari kecintaan kepada sang pencipta., kemandiriaan, leadership, kreatif, dan lain-lain, maka dimensi karakter adalah salah satu pondasi yang tetap menjadikan manusia sebagai tumpuan. Sehingga optimalisasi teknologi bukan untuk mengambil alih fungsi-fungsi utama kemanusiaan. Tetapi lebih jauh justru untuk meletakkan manusia sebagai agen utama pengembangan kemanusiaan itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Di antara tantangan umum di era revolusi 4.0 adalah VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity). VUCA telah menjadi keniscayaan budaya (bahkan politik dan ekonomi) yang tidak ada pilihan selain menghadapinya dengan kesadaran dan kapasitas penuh. Dalam konteks mengelola era disrupsi dan VUCA maka pondasi karakter akan dan harus tetap menjadi tumpuan.
Pada sekolah dasar ini, upaya mengelola VUCA tersebut didasarkan pada paradigma karakter yang paling kuat sepanjang hayat. Karakter ini diturunkan dari sifat-sifat Rasulullah yang terkumpul dalam frasa SAFT (Siddiq, Amanah, Fathanah, dan Tabligh).
Pada karakter “Siddiq” artinya anak-anak ada dalam suasana belajar yang didampingi untuk selalu benar dalam setiap perkataan dan perbuatan. Benar berarti sesuai dengan fakta ilmiah yang bisa divalidasi dan diverifikasi secara teoritis dan metodenya.
ADVERTISEMENT
Pada karakter “Amanah” artinya anak-anak akan belajar dalam suatu arena yang akan didampingi untuk berproses menjadi pemimpin yang mampu mengemban tugasnya dengan baik dan sesuai dengan kapasitas, kebutuhan dan aturan. Pada karakter “Fathanah” artinya anak-anak didampingi menemukan, mendapatkan, dan mengasah kecerdasannya. Sehingga melalui kecerdasan inilah kreativitas dan nalar kritis bisa terasah dengan baik dan menghasilkan manfaat.
Pada karakter "Tabligh" anak-anak ada dalam suasana belajar yang didampingi untuk mampu mempresentasikan, mengekspresikan, dan menunjukkan kebenaran dan hasil-hasil pembelajaran dan pembacaan atas beragam analisisnya kepada siapapun.
Nilai-nilai yang terkandung dalam SAFT ini dihiasikan pada keseharian pembelajaran sehinga mengkristal menjadi karakter positif, kreatif, dan produktif. Jika kita melakukan proses dialektis akan paradigma 4.0 dengan model SAFT ini, ternyata keduanya memiliki irisan yang kuat.
ADVERTISEMENT
Karakter Siddiq memiliki semangat yang sama dengan dengan aspek kritis dalam paradigma 4.0. Sebab representasi kebenaran itu ada setelah dia bisa memantulkan dirinya sampai tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Karakter Amanah memiliki beberapa indikator yang kuat pada aspek kolaborasi dalam paradigma 4.0. Di mana salah satu ciri pemimpin berkarakter adalah kemampuannya mengelola sebuah sumberdaya untuk diharmonisasi dalam suatu visi dan misi.
Karakter Fathonah sangat kuat hadir dalam aspek kreatif yang juga merupakan bagian dasar dari dalam paradigma 4.0. Sebab dasar dari tindakan kreatif adalah kecerdasan dari subyek. Sedangkan karakter Tabligh merupakan dasar dari kemampuan komunikasi. Di mana aspek komunikasi dalam konteks ini tidak hanya mewujud menjadi kemampuan berceramah, tetapi lebih dalam dalam lagi adalah kemampuan berdakwah dan mendidik secara cerdas dan berkarkter.
ADVERTISEMENT
Keempat karakter yang diturunkan dari ahlaq Nabi Muhammad SAW itu akan hadir jika sang orchestra, dalam hal ini guru dan institusi sekolah, memahami cita-cita dasar dari kehadiran manusia di muka bumi, yakni sebagai khalifah.
Khalifah, yang di dalam Al-Qur'an disebutkan dua kali (Al-Baqarah: 30 dan Al-Shad: 26) secara modern bisa diberi makna sebagai manusia yang menguasai beragam hal dalam kehidupannya secara mandiri dan independen. Mandiri dan independen dalam arti memiliki kemampuan dan kapasitas untuk menentukan arah dan jalan kehidupannya.
Di sini juga makna mengapa ketika revolusi industri yang memukau itu harus tetap ditumpukan kepada manusia sebagai subyek utama. Sebab tanpa menjadikan manusia sebagai subyek dan sumbu utama, maka teknologi akan menjadi obyek yang menghegemoni kehidupan.
ADVERTISEMENT
Simpulan
Dengan gambaran di atas, meski belum detil, kita bisa melihat bahwa pembangunan karakter (character building) yang sejak lama didengungkan oleh Bung Karno (1901 - 1970), tetap memiliki relevansi kuat ketika visualisasi peradaban berubah signifikan. Artikel ini mengajukan suatu hipotesis bahwa menginteraksikan antara wujud peradaban kekinian yang ditandai dengan VUCA dan Revolusi 4.0 (4C) harus dihadapi menggunakan metode dan karakter yang sudah lama unggul, yakni SAFT.
Sehingga 4C dan SAFT merupakan entitas yang saling bersinergi agar kita bisa menghadapi VUCA yang hadir dan saat ini kita rasakan bersama. [ ]
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white