Buzz
·
2 Juni 2021 14:43

Turut Berduka Cita Atas Kematian Kebebasan dan Keadilan

Konten ini diproduksi oleh Patrick Ivan
Turut Berduka Cita Atas Kematian Kebebasan dan Keadilan  (633069)
searchPerbesar
Ilustrasi Bentuk Perlawanan Massa Melawan Penguasa (sumber: pixabay.com/dmncwndrlch)
Parade kematian yang berbaris di bawah ketamakan telah mengubah paradigma setiap insan. Kesesakan hati yang mendalam telah menutup celah kebebasan untuk berpikir. Robohnya keyakinan yang diterpa oleh angin yang berhembus kencang telah memutarbalikkan arti kebebasan itu sendiri. Jeruji waktu yang melemahkan insan untuk bersuara demi kedamaian jiwa dan raga yang sudah lama terpendam.
ADVERTISEMENT
Perputaran sirkulasi dosa yang mengudara begitu cepat, menyatu dengan kerohanian manusia yang tak bisa tertutupi. Keputusan yang tepat untuk berhalusinasi pada lima waktu yang berbeda. Cerita fiksi yang disatukan dalam sekumpulan kitab dongeng, membantu kemunduran peradaban. Membabi buta dalam menerima buah tangan penguasa, terpaksa harus menerima keadaan.
Menanam bibit kebencian sejak dini agar memuaskan rasa dendam oleh generasi mendatang. Sesaknya kemurkaan rakyat atas ketidakadilan yang mendarah daging oleh bayangan penguasa. Muak terhadap refleksi keimanan yang dirasakan, tak memberikan jalan keluar kepada rakyat. Membutuhkan harga yang mahal untuk membeli pengampunan, kecuali kepada rakyat yang memiliki adab akan diberikan potongan secara cuma-cuma.
Nuansa kegelapan secara perlahan memenuhi ibu kota, tertutupnya tangga menuju terangnya cahaya. Gagak hitam yang menghampiri jalanan ibu kota, menunggu mangsa untuk pergi ke alam baka. Penguasa yang menyediakan lintasan kematian bagi malaikat kegelapan, bersekutu dengan kejahatan demi kemakmuran yang semu. Sakralnya kehidupan secara perlahan akan ditinggalkan.
ADVERTISEMENT
Rantai kehidupan mengingatkan bahwa yang terkuat akan bertahan, meski yang lemah akan berujung kepada kebinasaan. Rotasi perputaran yang selalu mengubah posisi kehidupan dengan kekuatan kecerdikan. Buasnya suara penguasa saat berhadapan dengan rakyat jelata selalu membekas dalam kenangan. Mimpi buruk telah membentuk rasa dendam yang mendalam, menabung kekuatan untuk menuju pemberontakan.
Pemberontakan yang berapi-api dalam jiwa dan raga untuk melawan penguasa keparat. Melawan kebijakan yang membias dari harapan rakyat, meski akhir hayat sudah menunggu di ujung penantian. Sekat-sekat yang tercipta dihancurkan dengan kekuatan diksi yang menusuk, tak peduli pasal dan norma. Suara yang dikumandangkan oleh rakyat pun menguap begitu saja, sebab penguasa hanya mendengar suara perut yang keroncongan.
Jeritan rakyat yang berasal dari hati terdengar hingga seluruh dunia, memaksakan harga mati dalam kebijakan diterapkan oleh penguasa. Selalu menyalahkan rakyat, padahal saling menyuap hingga ketiduran. Sogokan yang mereka terima tak sebanding dengan nyawa rakyat, harga diri yang mudah untuk dibeli dengan harga murah. Hati mereka merasakan seperti terpenjara tanpa terali yang mengitari.
ADVERTISEMENT
Sebuah pertunjukan gratis yang disiarkan langsung antara rakyat melawan parade laskar loreng yang berusaha menahan aspirasi yang disuarakan. Siraman gas air mata yang dilontarkan untuk menghentikan upaya rakyat menerobos tempat penguasa, kekerasan yang mengubah pandangan dan pola pikir rakyat. Rakyat yang selalu dianggap tak berdaya mengejutkan langkah mereka.
Kelucuan negeri ini mengubah paradigma tentang kebebasan dan keadilan, perbudakan telah mengharamkan kebebasan dan keadilan. Suara ketakutan yang membakar negeri ini dalam hitungan detik tak mengubah kebejatan mereka. Harmonisasi suara perintah untuk membinasakan rakyat yang melawan pun terlontar dari mulut mereka yang menjijikkan. Kecemasan pun hadir menemani rakyat dalam menghadapi cobaan.
Tanda kesuraman sudah terpancar dari raut wajah saat memandang masa depan negeri ini, sirkulasi kecemasan pun memenuhi pikiran demi memilih pemimpin yang tepat. Menjual kepalsuan demi menarik hati rakyat sehingga kemunafikan yang dijadikan sebagai makanan sehari-hari. Perlahan, mereka menciptakan neraka bagi rakyatnya sehingga mereka dijadikan sebagai wajah perbudakan.
ADVERTISEMENT
Memandang kesulitan insan saat ini sangat berbanding terbalik dengan pondasi yang diciptakan oleh pembentuk negeri ini. Setiap isinya hanyalah bunyi yang sumbang. Kemajuan negeri ini menggunakan bahan bakar yang dinamakan uang. Penguasa menciptakan bahan bakarnya dengan menjual keimanan yang instan, kemunafikan semakin terwujudkan dengan jelas. Suara ayat yang dijadikan sebagai alat penarik massa.
Dogma yang disiarkan telah mencuci otak pikiran rakyat, kesengajaan yang dilakukan untuk menghentikan langkah rakyat. UU ITE merupakan hasil dogma penguasa untuk menakuti rakyat, aturan yang tercipta saat kondisi kritis. Pemikiran kritis yang membahayakan kehadiran rakyat, penguasa akan melakukan apa saja demi menutup mulut rakyat.
Langkah revolusi negeri ini bermula dari kehadiran media sosial. Kebebasan yang terpenjara tidak berlaku di media sosial, semuanya menyatukan kekuatan untuk melakukan perlawanan. Mosi tidak percaya pun dikumandangkan dalam opini mereka saat mengkritik penguasa. Bahan bakar jaringan yang kencang untuk menyiarkan ayat-ayat perlawanan dalam akun masing-masing, meski pasal-pasal sudah menanti.
ADVERTISEMENT
Bila memandang ke masa lalu, mengkritik penguasa akan berakhir pada liang kubur, terlalu lama di kekang oleh kekejaman penguasa. Kebebasan berpendapat membawa kenangan buruk di masa lalu. Memandangi jalannya penguasa masa lalu seperti Istana kekuasaan yang sempurna tiada celah, harus selalu di apresiasi. Sebuah omong kosong di masa lalu mengenai kesempurnaan yang terpancar dari penguasa.
Kekelaman masa ini yang dipimpin oleh iblis berkerah putih selalu menguasai negeri ini hingga ke akar-akarnya. Berkhotbah di dalam jaringan untuk mengajak meninggikan dirinya hingga setara dengan penguasa semesta. Mengenakan topeng kebaikan dan ajaran agama demi menuruti permintaan. Sekaratnya idealisme rakyat merupakan tujuan penguasa untuk menguasai diri mereka hingga ke jiwanya.
Kematian kebebasan berpendapat dirasakan sudah mendekati akhir hayat. Negeri ini sudah mendukung perbudakan dengan dukungan sumber daya manusia yang mendukung. Tanpa disadari, kalian semua merupakan bagian dari program kerja mereka. Sogokan yang kita terima didapatkan melalui kepalsuan dari program siaran yang ditayangkan. Pada akhirnya, kita adalah wajah baru perbudakan. Oleh karena itu, turut berduka cita atas kematian kebebasan berpendapat.
ADVERTISEMENT