Menjemput Bekal Terakhir: Kala Mahasiswa KKN Belajar "Memuliakan" Perpisahan

Sedang mengenyam pendidikan kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Yusril Muhtarin Nurhandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa bilang memandikan jenazah selalu terasa menakutkan? Di Desa Suren, Kulon Progo, Tim KKN 099 UMY mengadakan Workshop Memandikan Jenazah. Hal ini menjadi cukup menarik ketika banyak kelompok lain membuat program kerja yang berbentuk fisik, namun Tim KKN 099 UMY membangun sebuah amal jariyah.
Bagi sebagian besar warga Suren, memandikan jenazah adalah tugas yang selama ini “diserahkan pada takdir” atau lebih tepatnya, diserahkan pada segelintir orang tua yang dianggap punya keberanian lebih. Ada ketakutan dari segelintir orang lainnya, sebuah kecanggungan menghadapi kematian yang membuat banyak tangan ragu untuk menyentuh. Namun, Tim KKN 099 UMY ingin membangun kesadaran pada masyarakat terkait memandikan jenazah ini.
Mengikis Takut
"Memandikan jenazah bukan tentang menghadapi sesuatu yang menyeramkan. Ini adalah bentuk penghormatan terakhir, sebuah bakti yang paling tulus dari yang hidup untuk yang telah tiada," ujar Ustad Budiman.
Suasana yang awalnya tegang perlahan mencair. Fokus beralih dari rasa takut menuju pemahaman teknis yang penuh makna. Warga diajak melihat bahwa setiap guyuran air memiliki urutan, setiap usapan memiliki adab, dan setiap helai kain yang dipotong memiliki filosofi perlindungan.
Kesadaran mulai tumbuh ketika warga menyadari bahwa selama ini mereka hanya kekurangan informasi, bukan kekurangan kasih sayang pada sesama. Workshop ini mengubah cara pandang mereka: memandikan jenazah bukan lagi ritual yang mistis, melainkan keterampilan sosial yang krusial.
Warisan Pemahaman untuk Desa Suren
Workshop ini lebih dari sekadar transfer ilmu medis atau agama. Ini adalah upaya membangun kemandirian desa. Tim KKN 099 UMY sukses menciptakan ruang di mana kematian dibicarakan dengan kepala dingin dan hati yang hangat.
Kini, di Desa Suren, memandikan jenazah bukan lagi menjadi beban bagi satu-dua orang pemuka agama saja. Masyarakat mulai paham bahwa setiap tangan punya kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir yang layak. Saat matahari mulai condong ke barat di ufuk Kulon Progo, warga pulang dengan membawa lebih dari sekadar camilan. Mereka membawa keberanian baru: sebuah pemahaman bahwa merawat kematian adalah bagian dari cara kita merayakan kehidupan dan persaudaraan.
