Belajar dari Polemik Xpose Uncensored Trans7

Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang. (Media, komunikasi, lifestyle)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kesya Zahirah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika sebuah tayangan menjadi viral, perhatian masyarakat biasanya langsung tertuju pada bagian yang paling kontroversial. Namun, polemik Xpose Uncensored Trans7 menunjukkan bahwa perhatian publik tidak selalu membawa dampak positif bagi sebuah program televisi.
Pada 13 Oktober 2025, Xpose Uncensored menayangkan kehidupan pesantren dan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Anwar Manshur. Narasi serta visual dalam tayangan tersebut dianggap memberikan kesan negatif terhadap hubungan antara santri dan kiai.
Tayangan itu kemudian mendapat kritik dari masyarakat dan kalangan pesantren. Setelah mengadakan rapat pleno, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menjatuhkan sanksi penghentian sementara terhadap Xpose Uncensored. KPI menilai tayangan tersebut tidak sesuai dengan ketentuan mengenai penghormatan terhadap agama dan kehidupan sosial masyarakat.
Perhatian Publik Tidak Selalu Menguntungkan
Persaingan televisi dengan media digital membuat program harus menghadirkan sesuatu yang menarik dan berbeda. Tayangan dengan judul kuat dan topik kontroversial memang lebih mudah memperoleh perhatian. Potongannya juga berpeluang menyebar dengan cepat melalui media sosial.
Namun, perhatian penonton tidak selalu berarti keberhasilan. Jika tayangan dianggap tidak adil atau kehilangan konteks, perhatian tersebut dapat berubah menjadi kritik, penolakan, bahkan seruan boikot.
Tapi tidak bisa disimpulkan juga bahwa Xpose Uncensored sengaja membuat tayangan tersebut demi mengejar rating. Proses dan pertimbangan internal tim produksinya tidak dijelaskan secara lengkap kepada publik. Meskipun demikian, kasus ini menunjukkan bahwa upaya membuat tayangan menarik perlu disertai kehati-hatian.
Memahami Konteks Sebelum Menayangkan
Pesantren mempunyai tradisi dan hubungan sosial yang tidak selalu dapat dipahami hanya melalui potongan gambar. Sikap santri kepada kiai, misalnya, dapat berhubungan dengan nilai penghormatan yang telah lama berlaku dalam lingkungan pesantren.
Media tentu boleh mengkritik atau membahas kehidupan pesantren. Namun, kritik perlu disertai riset, verifikasi, dan penjelasan dari pihak yang ditampilkan. Tanpa konteks yang cukup, penonton dapat menerima gambaran yang tidak utuh.
Menurut saya, bagian penting yang perlu dievaluasi adalah proses pemilihan sudut pandang. Judul, narasi, visual, dan musik dapat memengaruhi cara penonton memahami sebuah peristiwa. Materi yang sebenarnya sama bisa menghasilkan kesan berbeda ketika disusun dengan cara tertentu.
Karena itu, pihak yang menjadi objek tayangan perlu memperoleh kesempatan memberikan penjelasan. Langkah tersebut bukan untuk menghilangkan kebebasan media, tetapi untuk memastikan informasi yang diterima penonton lebih berimbang.
Kepercayaan Penonton Harus Dijaga
Program televisi membutuhkan penonton agar dapat bertahan. Namun, hubungan antara media dan penonton tidak hanya dibangun melalui jumlah tayangan. Kepercayaan juga menjadi bagian penting dari keberlanjutan sebuah program.
Konten kontroversial mungkin mampu menarik perhatian dalam waktu singkat. Akan tetapi, apabila masyarakat merasa kelompok tertentu ditampilkan secara tidak adil, reputasi program dan stasiun televisi dapat ikut terdampak.
Polemik Xpose Uncensored Trans7 seharusnya menjadi pelajaran bahwa keunikan konten tidak harus dibangun melalui narasi yang memancing kemarahan. Kehidupan pesantren tetap dapat menjadi tayangan yang menarik jika disajikan dengan riset yang kuat, konteks yang lengkap, dan bahasa yang tidak merendahkan.
Karena keberhasilan tayangan bukan hanya diukur dari seberapa ramai program tersebut dibicarakan. Tayangan yang baik juga harus mampu memberikan informasi, menjaga kepercayaan penonton, dan memperlakukan pihak yang ditampilkan secara adil.
