Konten dari Pengguna

Ketika Ayat Al-Quran Menjadi Bahasa Diplomasi di Pemakaman Khamenei

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Rizky Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by Firas Alkaheel from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by Firas Alkaheel from Pixabay

Prosesi pemakaman lazimnya adalah ruang untuk berduka, bukan berdiplomasi. Tapi pemakaman kenegaraan Ali Khamenei yang berlangsung 4 hingga 6 Juli 2026 di Teheran tampaknya menjadi pengecualian yang menarik untuk dicermati. Di balik jutaan pelayat, bendera merah, dan lantunan doa, Iran menyisipkan sesuatu yang tidak biasa: setiap delegasi asing yang melangkah maju untuk memberi penghormatan kepada peti jenazah mendapat bacaan ayat Al-Quran yang berbeda-beda.

Bukan ayat yang sama untuk semua tamu. Bukan pula sekadar ritual. Pilihan ayat itu, menurut sejumlah pengamat yang mengutip laporan Middle East Eye, mencerminkan cara Iran memetakan posisi setiap negara dalam peta geopolitik Timur Tengah pascakonflik.

Satu Pemakaman, Banyak Pesan.

Ketika delegasi Arab Saudi melangkah maju, yang terdengar adalah Surah Ali Imran ayat 13. Ayat ini menggambarkan Perang Badar, pertempuran abad ketujuh di mana pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit berhasil mengalahkan musuh yang jauh lebih besar, atas kehendak Allah. Pertempuran Badar terjadi di wilayah yang kini menjadi Arab Saudi.

Pesan di balik pemilihan ayat ini tidak sulit dibaca. Saudi memang hadir mengirim perwakilan, tapi Teheran tidak lupa bahwa Riyadh disebut-sebut berpihak pada AS selama konflik berlangsung, bahkan dilaporkan ikut menyerang Iran. Memilih ayat tentang kemenangan atas pihak yang lebih besar, tepat saat delegasi Saudi berdiri di depan peti jenazah, adalah sinyal yang halus sekaligus tajam.

Sementara untuk delegasi Qatar, Pakistan, serta kelompok-kelompok yang masuk dalam jaringan perlawanan Iran seperti Hamas, Hizbullah, Houthi, dan Taliban, pilihan ayatnya berbeda. Qatar dan Pakistan mendapat ayat-ayat yang bernapaskan kemenangan dan dukungan atas peran diplomasi mereka. Adapun kelompok perlawanan bersenjata disambut dengan ayat-ayat tentang kesyahidan dan kesetiaan pada janji kepada Allah.

Pemakaman sebagai Panggung Politik.

Prosesi pemakaman Khamenei memang sejak awal dirancang bukan hanya sebagai penghormatan terakhir. Pemerintah Iran memanfaatkan momen ini untuk memperkuat legitimasi kepemimpinan baru di bawah Mojtaba Khamenei, meyakinkan sekutu bahwa Teheran tidak goyah, sekaligus menyampaikan kepada para pesaingnya bahwa Iran tetap mencatat posisi setiap pihak selama perang.

Lebih dari 100 negara mengirimkan delegasinya ke Teheran. China diwakili Wakil Ketua Parlemen He Wei, Rusia mengirim Dmitry Medvedev, sementara Pakistan menghadirkan langsung Perdana Menteri Shehbaz Sharif beserta Kepala Angkatan Daratnya. Di sisi lain, AS dan sebagian besar negara Barat memilih tidak hadir, sebuah ketidakhadiran yang justru berbicara sama kerasnya dengan kehadiran para tamu yang datang.

Diplomasi yang Tidak Memerlukan Kata-Kata.

Yang menarik dari seluruh momen ini adalah betapa Iran berhasil menyampaikan pesan-pesan politiknya tanpa satu pun pernyataan resmi. Tidak ada pidato konfrontatif. Tidak ada ancaman yang diucapkan di mimbar. Cukup dengan memilih ayat yang tepat, dibacakan pada momen yang tepat, kepada orang yang tepat.

Cara komunikasi seperti ini bukan hal baru dalam diplomasi Timur Tengah. Namun menjadikan prosesi keagamaan sebagai medium sekaligus mempertahankan kesakralannya adalah sesuatu yang jarang dilakukan dengan presisi seperti ini. Iran tampaknya memahami bahwa dalam konteks tertentu, simbol berbicara lebih keras daripada pernyataan.

Apakah pemilihan ayat itu benar-benar disengaja sebagai pesan diplomatik atau sekadar bagian dari tata upacara yang kebetulan menjadi bahan tafsir, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Teheran. Tapi seperti yang sering terjadi dalam geopolitik, tidak adanya klarifikasi resmi kadang justru menjadi bagian dari pesannya sendiri.